teratai

teratai
ICU


__ADS_3

"Ayu.... Sayang.....bangun.... Pak Eko, mbok Surti tolong..."


Bu Anya teriak histeris memegangi Ayu yang tiba tiba pingsan setelah mengangkat panggilan dari Agus.


"ya Tuhan, bu Ayu kenapa ini bu?"


"pingsan pak Eko, seperti nya shok dia"


"bu... Ayu... Bangun bu..."


"bantu angkat ke mobil saja pak, kita bawa ke rumah sakit saja, saya takut terjadi apa apa"


"iya bu"


Dengan di bantu pak Eko dan mbok Surti , ibu Anya mengangkat tubuh Ayu ke mobil, untuk segera di larikan ke rumah sakit, mengingat Ayu baru saja sadar dari koma panjang nya.


"mbok Surti tolong jaga Naya di rumah, biar saya sama pak Eko saja"


"iya buk, hati hati, tolong kabari saya kalau ada apa apa, saya khawatir sama bu Ayu"


"doa kan saja tak terjadi apa apa mbok"


Jarak rumah yang di beli kan Arga dengan rumah sakit tidak terlalu jauh, jadi tidak membutuh kan waktu lama untuk sampai ke rumah sakit, apalagi hari yang sudah larut, bahkan hampir pagi, jadi jalanan sepi.


"tolong menantu saya dok"


"kami akan berusaha, ibu tunggu di sini."


Di depan pintu ruang tindakan UGD nampak bu Anya dan pak Eko saling mondar mandir tak tenang.


"ibu Anya?"


"Agus? Kenapa kamu di sini?"


Tanpa sengaja Agus yang sedang menunggu atasan nya yang sedang koma, saat hendak pulang melihat bu Anya yang sedang mondar mandir di depan ruang tindakan UGD.


"bu Anya mau jenguk si bos?"


"aa.... Maksud kamu Arga di rawat di sini?"


"oh iya, saya belum sempat kasih tahu pada bu Anya, kalau saya membawa si bos ke sini, karena saya pikir kalau bos yang sedang sakit berdekatan sama mbak Ayu, meskipun kondisi mereka sama sama koma, mereka bisa cepet sadar."


Jelas Agus panjang lebar mengenai ide yang ada di pikiran nya.


"ah.... Saya lupa kasih kabar ke kamu."


Bu Anya menepuk jidad nya sendiri, karena lupa bahwa Agus juga Michell belum tahu perihal Ayu yang sudah sadar dari koma nya, tepat di hari pesawat yang di tumpangi Arga jatuh.


Dan sayang nya sekarang Ayu pingsan karena shok lagi.


Agus mencoba mencerna kata kata bu Anya yang bercerita panjang lebar.


Ternyata karena dia Ayu yang sudah sadar harus masuk rumah sakit lagi.


"maaf kan saya, saya tidak tahu kalau...."


"nggak apa Gus, bagaimana pun cepat atau lambat, Ayu juga akan tahu."


"kebetulan bu Anya ada di sini, saya harus ke kantor untuk meeting penting pagi nanti, jadi saya titip kan bos Arga pada ibu"

__ADS_1


"Arga ada di sini?"


"iya bu, masih di ruang ICU."


Mata bu Anya berkaca kaca, membayang kan keadaan putra nya yang sedang terbaring lemah koma.


ingin sekali bu Anya segera ke ruang ICU melihat dan memeluk putra nya, tapi bagaimana dengan Ayu menantu nya.


sedang kan Ayu hanya bersama nya dan juga pak Eko, tak mungkin meninggal kan nya begitu saja.


"bu Anya jenguk pak Arga saja, biar bu Ayu saya yang nunggu di sini"


Suara pak Eko membuyar kan lamunan perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


Pak Eko melihat perubahan mimik wajah bu Anya yang terlihat sedih dengan mata berkaca kaca kala mendengar putra nya juga berada di rumah sakit ini.


"jangan khawatir bu, kalau ada apa apa saya akan langsung hubungi bu Anya."


Pak Eko mencoba meyakin kan bu Anya agar percaya pada nya.


"saya titip menantu saya sebentar pak Eko."


Dengan jemari yang gemetar bu Anya melangkah kan kaki nya menuju Ruang ICU yang letak nya sebenar nya tidak begitu jauh.


Mata yang tadi nya hanya berkaca kaca akhir nya luruh juga.


Apalagi setelah membuka pintu ruang ICU dan melihat sendiri secara langsung bagaimana putra semata wayang nya terbaring lemah dengan berbagai alat medis menempel di tubuh nya.


Belum lagi bekas luka yang begitu banyak di tubuh nya, bahkan beberapa masih terlihat mengeluar kan darah meski tak banyak.


Suatu pemandangan yang akan membuat hati ibu manapun tak akan sanggup untuk melihat nya.


Ibu Anya mengusap wajah, tangan, semua anggota tubuh putra nya, meyakin kan diri nya sendiri bahwa itu memang benar benar putra nya.


"sayang, ini mama.... Kamu bisa dengar?"


Air mata nya semakin deras membasahi pipi bersih nya.


Melihat wajah pucat putra nya dengan luka yang hampir ada di setiap anggota tubuh nya.


memeluk dan menangis sejadi nya, itulah yang bisa di lakukan ibu Anya sekarang.


"Arga kamu harus bangun nak, kamu harus melihat putra kamu lahir..... Putra mu membutuh kan mu... Dia butuh papa nya.... Bangun nak.... "


Dengan terbata karena isakan tangis nya, bu Anya berbisik di dekat telinga Arga.


Berharap putra nya mendengar kata kata nya.


🥀


🥀


🥀


🥀


Seorang perempuan cantik berwajah bule mendorong kursi roda dimana yang duduk di atas kursi roda itu adalah perempuan hamil dengan selang infus yang tertancap di tangan nya.


Wajah mereka tampak sendu, bahkan sesekali perempuan yang duduk di kursi roda itu mengusap air mata nya yang sudah jatuh di pipi halus nya.

__ADS_1


"kuat kan dirimu honey, demi calon bayi mu"


Bisik Michell di dekat telinga Ayu, sembari mengusap pelan pundak nya mencoba memberi semangat.


Ayu hanya mengangguk pelan.


sebelum Michell membuka pintu ruang ICU dimana Arga di rawat.


Ibu Anya yang sudah menunggu kedatangan menantu nya pun, hanya berdiri di samping ranjang dan manatap penuh khawatir kepada Ayu dan Michell yang membuka pintu untuk masuk.


"masuk lah sayang"


Ayu menatap tubuh Arga dengan seksama, tubuh yang terbaring dengan penuh luka di sekujur tubuh nya, wajah nya pun pucat pasi.


Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Ayu, hanya air mata yang semakin deras berjatuhan di pipi nya.


Tangan nya yang gemetar mencoba meraih jemari Arga yang juga terdapat beberapa luka.


Tangan nya benar benar gemetar, dada nya pun seketika terasa sesak.


Lebih sesak ketika dia memutus kan untuk pergi karena janji nya pada orang tua Mitha.


"Arga"


Bibir nya yang gemetar tak mampu mengucap sepatah kata pun selain menyebut nama nya pelan.


Ibu Anya yang tak tahan melihat menantu nya segera memeluk dari samping dan mencium pucuk kepala Ayu dengan lembut, mencoba memberi semangat.


Michell yang melihat bagaimana sahabat nya pun ikut menangis.


"ma...."


Ayu menatap mertua nya sendu.


Bu Anya yang tak tahu dengan arti tatapan Ayu semakin memeluk nya saja.


"kamu yang kuat sayang, Arga pasti sembuh..."


Ayu kembali melihat sekujur tubuh Arga yang penuh dengan luka.


Pasti itu akan sakit sekali jika saja Arga tidak koma.


"ma, bisakah dia bangun saat Ayu melahirkan?"


Bu Anya yang mendengar pertanyaan Ayu malah semakin menangis.


Hati nya ikut merasakan sakit seperti yang di rasakan menantu nya.


"tenang honey,... Ada kami di sini yang akan selalu di samping mu"


Michell menggenggam erat tangan Ayu yang gemetar dan terasa dingin.


"apakah nanti anak ku...."


"tidak sayang.... Arga akan sembuh, dia akan sadar secepat nya, jangan khawatir, Arga pasti akan bangun demi kamu dan anak kalian"


Bu Anya yang paham maksud Ayu segera menjawab perkataan Ayu sebelum Ayu menyelesai kan kata kata nya.


Ayu terlihat seperti orang linglung, menatap mertua dan Michell bergantian.

__ADS_1


Dia yang baru sadar dari koma nya, kini harus menghadapi masalah yang begitu membuat dada nya terasa sesak.


__ADS_2