
Karena sebagian badan pesawat yang terjatuh ke dasar jurang membuat para tim SAR kesulitan untuk melakukan evakuasi.
medan yang sulit dan belum terjamah membuat sulit menjangkau setengah dari badan pesawat yang sudah jatuh ke jurang.
"sebaik nya di lanjut kan besok pak Agus, medan nya sangat sulit dan juga sudah hampir malam"
"kenapa berhenti, bahkan kita tidak tahu apakah ada yang selamat di bawah sana, bagaimana kalau ada yang selamat dan sedang terluka parah? Kenapa kalian lamban"
Agus menjadi uring uringan mendengar tim SAR gabungan dari maskapai dan pemerintah yang terkesan lamban.
"kamu jangan kembali tanpa Arga , Gus"
"saya akan berusaha mbak"
"bawa kembali dia, dalam keadaan selamat, kasihan Ayu"
"semoga mbak, itu juga yang saya harap kan."
Aq Setelah membantu Michell membawa Mitha ke helikopter untuk di bawa kembali, Agus segera membawa tim yang di bawa nya untuk melakukan pencarian turun ke dasar jurang.
Yang di bawa Agus adalah orang orang profesional yang ahli dan tentu nya dengan bayaran yang sangat mahal sehingga mereka menuruti apa pun perintah dari orang yang membayar mereka.
Medan yang harus di lalui memang lah sangat sulit, tebing tebing yang curam dan pepohonan liar serta kondisi hari yang memang sudah malam dan gelap membuat mereka membutuh kan waktu yang cukup lama untuk sampai di dasar jurang.
Separuh dari badan pesawat yang berada di jurang kondisi nya lebih mengenas kan di banding yang masih tersangkut di atas gunung tadi.
asap putih masih mengepul dan bau amis yang sangat menyengat, merupakan darah dari para korban yang berada dalam pesawat itu.
"cepat periksa semua"
"siap bos"
Mereka segera berpencar mencari cari orang yang maksud, sekaligus kalau kalau masih ada yang selamat.
Sebagian dari mereka mencoba mendiri kan tenda darurat karena cuaca yang mendung dan mungkin akan segera turun hujan.
🥀
🥀
🥀
🥀
Terapi yang di lakukan Ayu sudah banyak kemajuan, meski masih sedikit terbata Ayu sudah bisa berbicara.
Dan bisa berdiri meski masih kesulitan untuk berjalan.
Dukungan dan semangat tak henti di berikan dari orang orang sekitar yang menyayangi Ayu untuk membantu kesembuhan nya.
"ma...,trima....kasih"
Ucap Ayu lirih dengan masih terbata, karena sebagian tubuh nya yang masih terasa kaku termasuk rahang nya.
"jangan berterima kasih sayang, kamu sudah mama anggap seperti anak mama sendiri, apalagi sekarang kamu sedang mengandung calon cucu mama, jadi sudah seharus nya apa yang mama lakukan."
Bu Anya mengelus rambut Ayu dengan lembut, layak nya seorang ibu kepada putri nya.
__ADS_1
Meski jauh di lubuk hati nya sedang tidak tenang memikir kan kondisi putra semata wayang nya yang masih belum ada kabar nya, entah masih hidup atau sudah mati.
"yang terpenting kamu cepat pulih sebelum kamu lahiran, demi anak kamu, calon cucu mama"
Ayu tersenyum tulus kala mama merrua nya mengelus perut buncit nya.
"ma?"
"iya, kenapa?"
"A_arga.."
Sebenar nya ada banyak pertanyaan yang ingin di tanya kan Ayu, tentang apa yang terjadi, bagaimana bisa Ayu berada di rumah sakit ini beserta mbok Surti dan pak Eko, lalu bagaimana dengan mama mertua nya yang selalu berada di sini, tapi semua terhalang dengan kondisi nya yang masih sulit untuk menggerak kan anggota tubuh nya, termasuk mulutnya.
"kamu mau tau Arga?"
Bu Anya melihat sorot mata yang sulit di arti kan dari mata Ayu.
Tak mungkin juga dia mengatakan kejujuran mengenai kejadian yang sedang menimpa Arga.
Pasti akan semakin memperburuk keadaan menantu nya.
"kamu pasti mau tau semua kejadian nya kan?"
Tanya bu Anya lembut yang di jawab dengan angguk kan kepala.
"mama akan cerita kan semua nya"
Setelah menghela nafas dalam, bu Anya mencerita kan awal mula kejadian nya sampai Ayu bisa sakit dan akhir nya Arga membawa nya ke sini beserta pak Eko dan mbok Surti, seperti yang di cerita kan Michell pada nya dulu.
"dan sekarang.... Arga sedang menyelesai kan bisnis nya di luar negeri, dia titipin kamu ke mama, sebelum berangkat, kata nya dia akan pulang segera"
Bu Anya mencoba berbohong dengam mengatakan Arga sedang bekerja demi membuat Ayu tidak khawatir.
Ayu hanya mengangguk pelan.
"karena itu, mama harap, kamu semangat menjalani terapi mu agar bisa cepat sembuh"
Lagi lagi Ayu hanya mengangguk dan tersenyum, senyum yang sulit di arti kan.
sebenar nya Ayu masih belum Puas dengan jawaban ibu Anya, tapi dia tak bisa bertanya terlalu mendetail karena sulit membuka mulut nya.
Mungkin nanti setelah terapi lagi, dia bisa bertanya lagi.
🥀
🥀
🥀
🥀
Kedatangan helikopter yang membawa Mitha dan 4 korban lain yang selamat, di sambut dengan tangis histeris dari pihak keluarga.
Meskipun mereka selamat, tapi melihat kondisi mereka yang mengenas kan membuat sebagian keluarga histeris.
"Mitha.....anak bapak, bangun nak"
__ADS_1
"ya Tuhan, bangun nduk..... kenapa bisa seperti ini, ya Tuhan, selamat kan putri kami."
Tak beda dengan yang lain, pak Slamet dan bu Marni pun ikut menangis histeris kala melihat kondisi putri mereka yang sangat mengenas kan, penuh dengan luka dan terlihat pucat.
"sebaik nya segera kita bawa ke rumah sakit"
"tolong mba, selamat kan putri kami"
Seru pak Slamet seraya mengikuti langkah Michell yang membawa ke 5 korban bersama para dokter yang sudah siap siaga menunggu kedatangan para korban.
Ada beberapa yang menangis histeris karena belum mendapat kan kabar tenteng keberadaan anggota keluarga mereka yang entah masih hidup atau sudah mati.
Keadaan di bandara seketika berubah menjadi pilu, penuh dengan jerit dan tangis para keluarga dari korban.
🥀
🥀
🥀
🥀
"bos?"
"bos Arga..... "
Agus mencoba berteriak seraya mencari cari di balik balik puing puing pesawat yang sudah hancur dan masih berasap.
Tiba tiba Agus melihat jas abu yang sangat familier bagi nya.
tubuh nya tertutup puing puing pesawat yang sudah hancur.
"bos....bos...."
dengan tergesa gesa Agus menyingkirkan bongkahan pesawat yang menimpa tubuh atasan nya.
"kalian.... Cepat sini, bantu aku..."
Agus berteriak memanggil orang orang bayaran nya untuk segera membantu nya, menyingkir kan puing puing bangkai pesawat yang menimpa tubuh atasan nya.
"bos....bos...."
Agus segera memeriksa denyut nadi dan nafas Arga yang ternyata masih ada meskipun lemah.
"pak Agus, kita bawa ke tenda saja seperti nya sebentar lagi hujan."
Usulan seorang anak buah yang di bawa Agus, karena memang kondisi cuaca malam itu sudah gerimis.
"cepat bawa... Dan lakukan pertolongan pertama seada nya"
Tak lama kemudian memang hujan turun dengan deras nya, di sertai angin.
Hujan badai dan medan tempat pesawat yang memang sangat licin serta mengerikan membuat mereka tidak bisa segera pergi dari lokasi, terpaksa harus berada di tenda dengan segala sesuatu yang serba seada nya.
Agus yang melihat kondisi atasan nya menjadi cemas, bagaimana kalau atasan nya tidak bisa bertahan sampai badai reda.
Pikiran nya pun tak tenang.
__ADS_1