teratai

teratai
skandal


__ADS_3

Suara bising musik yang memecah kan telinga di salah satu club malam terbesar di bali, Arga duduk menikmati minuman yang di beri kan bartender.


Mata nya nanar menatap orang orang yang sibuk menyenang kan diri masing masing dengan mengikuti hentakan musik yang memekak kan telinga.


Bahkan dia tak menghirau kan perempuan yang bergelayut mesra di lengan nya.


Pikiran nya seakan sedang tak bersama raga nya, entah terbang bersama angin dan kenangan kenangan nya.


"Ga, turun yuk..."


Perempuan itu berusaha menarik lengan kekar Arga, namun di tepis kasar.


"aku nggak mau, kamu saja aku tunggu di sini."


Jawab Arga datar seraya menegak segelas minuman yang di minta nya lagi dari bartender.


"ayo lah... jangan tanggung tanggung."


Kembali berusaha menarik lengan kekar itu dengan paksa.


Tanpa malu malu Sella menggerak kan tubuh seksi nya dengan gerakan menggoda.


Sedang kan yang di goda hanya diam, berdiri di antara kerumunan orang yang sibuk mengikuti irama musik.


Tubuh Arga sedikit limbung ketika tertabrak orang yang sedang asik berjoget di bawah pengaruh alkohol.


"kita pulang... Sudah malam"


"sebentar lagi Ga, nanggung..."


"kalau nggak mau, aku tinggal, kamu pulang sendiri."


Mau tak mau Sella mengekor mengikuti Arga keluar dari club dengan wajah kesal.


"Ga, jangan cepat cepat.... Tungguin aku."


Sella yang sudah di bawah pengaruh alkohol teriak teriak seperti anak kecil yang ketinggalan orang tua nya.


sedang kan Arga sendiri agak limbung menjaga tubuh nya agar tidak ambruk, kepala nya pun mulai terasa pusing.


"Arga tungguin aku... Kamu jahat banget sih.."


Arga hanya menoleh tanpa berhenti.


"ah...."


Tiba tiba Sella terjatuh karena heel nya sendiri.


mau tak mau akhir nya Arga kembali dan membantu Sella berdiri, meski diri nya sendiri sudah agak limbung.


Sella yang terkilir kaki nya terpaksa di papah Arga karena Arga sendiri sudah sempoyongan tak mungkin menggendong nya.


"Ga, aku nggak kuat, kaki ku sakit baget."


Sella meringis merasakan pergelangan kaki nya yang membiru karena memar.


" ke atas saja, ada apartemen ku di sana"


"bantuin dong.."


Sama sama sempoyongan kedua nya naik ke lantai atas di mana apartemen Arga berada. Karena tak mungkin Arga membawa kendaraan dalam kondisi seperti itu.


"cepet buka Ga, aku....hoek...."


Belum selesai bicara Sella sudah memuntah kan isi perut nya di depan apartemen Arga.


Sedang Arga dengan pandangan yang kabur karena efek alkohol berkali kali mencoba menggesek kartu untuk membuka pintu apartemen nya yang tak kunjung berhasil.


Brukkk.....


Tak kuat menyangga tubuh nya Arga terjatuh ke dinding dan berguling di lantai.


"ngapain sih malah tidur di situ...cepetan buka pintu nya...."


Hoek....hoek...


Bentak Sella melihat Arga yang jatuh terlentang di lantai.


🥀


🥀


🥀


🥀


Drt..... Drt.....drt....


Hari yang sudah agak siang Arga di bangun kan dengan getar ponsel nya yang tak henti.


"halo, siapa?

__ADS_1


Suara parau khas bangun tidur.


" Arga, kamu harus tanggung jawab hiks....."


Jawaban dari seberang telepon sontak membangun kan Arga yang masih setengah sadar.


Kepala yang berdenyut dan tubuh yang lemas mendadak terduduk dengan sigap.


"apa yang terjadi?"


Jantung Arga seperti berhenti berdetak, matanya melotot mencoba mencerna kata kata yang baru saja di dengar nya.


"semalam kamu sudah...hiks....kamu harus tanggung jawab"


"jangan coba coba menjebak ku, aku tak ingat apa pun"


Arga berusaha mengelak.


"jangan jadi pengecut kamu Ga, sudah berbuat tak mau mengakui."


"apa bukti nya, aku merasa tidak melakukan apa pun semalam"


Arga memegang kepala nya mencoba mengingat ingat kejadian semalam.


Dia hanya ingat diri nya minum di club malam setelah itu dia terbangun si sofa apartemen nya. Selain itu tak ada hal lagi di ingatan nya.


"jangan coba coba kabur dan tidak bertanggung jawab, kamu sudah merusak ku setelah itu kamu mau kabur."


Arga menarik nafas dalam, karena memang dia tak ingat apa pun.


"aku tahu itu jebakan mu kan?"


"jangan jadi pengecut Ga, atau aku akan mempermalukan mu di depan semua orang."


setelah marah marah panjang lebar perempuan yang tak lain adalah Sella menutup telfon nya kasar.


arrkkhhhh....


Arga membanting remote tv yang ada di dekat nya, dia benar benar tak ingat apa yang terjadi semalam.


Jika benar apa yang di kata kan Sella, alangkah hina nya dia, alangkah bejat nya diri nya, yang tak bisa menjaga hati dan perasaan nya.


Di usap kasar wajah nya.


"bos sudah bangun"


Agus tiba tiba nyelonong masuk ke apartemen Arga.


"yee si bos, nggak ingat semalem, ya jelas saya bisa masuk, saya yang pegang kartu kamar bos."


Arga mengerut kan kening nya wajah nya terlihat tegang


"semalem, apa yang terjadi Gus?"


Tanya Arga sedikit lirih dan dengan suara parau karena tegang.


"emang kenapa bos?"


"jawab, semalem apa yang terjadi?"


dada Arga naik turun mengikuti deru nafas nya yang semakin cepat karena tegang.


"semalem si bos mabuk sama mbak Sella."


"jadi...."


Leher Arga seperti tercekat, apakah mungkin Sella benar? Apakah mungkin dia sudah....


Ah.....benar benar laki laki bajingan kamu Arga.


Kata hati nya yang terasa semakin sesak.


Drt...drt....


Sebuah pesan masuk membuyar kan ketegangan Arga.


Tangan nya bergetar mengetahui ternyata pesan itu dari Sella.


Dan isi nya adalah ancaman ancaman bila Arga tidak bersedia tanggung jawab.


"bos, kenapa pucat, sakit bos? "


Pertanyaan Agus mengagetkan Arga, benar benar bingung harus bagaimana sedang kan dia sendiri tak bisa mengingat kejadian semalam.


"nggak apa apa."


"bos, mama nya bos datang dari Jogja menunggu bos di bawah"


Glek.... Arga menelan ludah nya kasar.


Membayang kan apa yang akan terjadi bila mereka tahu skandal yang terjadi.

__ADS_1


"mama?"


"iya bos, ibu Anya di bawah, beliau menyuruh saya memanggil kan bos untuk turun"


"mama sama siapa?"


"sendiri bos, tenang saja, papa nya si bos nggak ikut."


Arga menghela nafas lega mengingat papa nya yang menjodoh kan diri nya dengan Sella, pasti akan senang bila dia tahu skandal yang terjadi antara dia dan Sella.


"kamu turun dulu, temenin mama, aku mau bersih bersih."


Setelah menyuruh Agus pergi, Arga segera ke kamar mandi untuk membersih kan tubuh nya.


Pikiran nya masih kalut, mencoba mengingat sesuatu, tapi tetap nihil.


Dia benar benar tak ingat kejadian semalam.


🥀


🥀


🥀


🥀


"bapak Arga kami menunggu konfirmasi anda"


"iya bapak Arga kami menunggu konfirmasi resmi dari anda."


"iya bapak..."


"iya bapak..."


Arga terkejut ketika keluar dari lift segerombolan wartawan sudah mencegat nya, meminta konfirmasi resmi dari nya.


"Arga apakah benar semua ini nak?"


suara parau ibu Anya mendekati anak semata wayang nya yang sedang di kejar kejar para pemburu warta.


Arga diam mematung, dia tak mengira bahwa Sella benar benar serius dengan ancaman nya.


Wajah nya pucat pasi dan terlihat tegang, apalagi sebagian dari mereka ada yang memegang kamera, menampil kan acara secara live di beberapa stasiun tv lokal.


"bisa beri kami konfirmasi pak Arga"


"iya pak Arga."


"benar pak Arga."


"kami menunggu konfirmasi resmi dari anda."


Para pemburu warta mengejar Arga untuk mendapat kejelasan.


"kita bicara di sana."


Arga menunjuk pada Sella yang sudah memberi penjelasan terlebih dahulu.


Sorot mata nya tajam memandang perempuan yang berpura pura sedih tanpa malu mengumbar aib nya sendiri.


Sementara ibu Anya mendampingi dan mengelus elus lengan Arga, memberi dukungan pada putra nya, meski dia sendiri tampak berkaca kaca.


"baik lah semua, yang kita tunggu sudah datang, silah kan dengar sendiri konfirmasi dari yang bapak Arga,"


Sella mengusap air mata yang entah asli atau kah palsu.


Semua mata sontak tertuju pada Arga.


suasana hening menunggu jawaban pasti dari yang bersangkutan.


"malam itu ..... "


Arga memotong kata kata nya.


Hati nya terasa sakit luar biasa harus mengata kan sesuatu yang dia sendiri tak yakin kebenaran nya.


Hati nya juga sakit mengingat pasti Ayu sudah tahu tentang skandal ini lewat media, dan betapa benci nya Ayu pada nya setelah kejadian ini.


"saya..."


Ibu Anya mengelus lagi lengan kekar putra nya mencoba memberi semangat.


Tahu bahwa putra nya sangat terpojok di situasi yang sangat tidak dia ingin kan.


"sebenar nya ... malam itu.."


mata Arga memerah, menahan marah, kecewa dan benci pada diri nya sendiri.


"malam itu bukan lah pak Arga"


Tiba tiba seseorang menjawab dari belakang dengan lantang dan pasti.

__ADS_1


Dan sontak membuat kegaduhan.


__ADS_2