teratai

teratai
Cemburu


__ADS_3

"apa sebaik nya aku ngomong pada Ayu Chell"


"iya, kamu harus ngomong pada Ayu, agar dia hati hati sementara ini"


"oh, oke, nanti aku sepulang kantor mampir ke rumah nya"


"ya udah aku nitip salam buat Ayu, aku belum bisa berkunjung ke rumah nya."


"iya nanti aku sampaikan"


Setelah menjawab Chiko mematikan sambungan telefon nya.


Ada rasa bahagia ketika dia memikir kan akan ke rumah Ayu, meski hanya sekedar mampir.


entahlah karena sekedar kagum atau yang lain nya.


Karena yang jelas ada rasa yang sulit di jelas kan dalam hati nya.


Mencoba merapikan diri serapi mungkin, semenarik mungkin.


Yah.... Itulah yang di lakukan Chiko satu jam sebelum jam pulang kantor. Mirip seseorang yang akan berkencan atau ke rumah pacar nya.


"aku bawa apa yah....


Makanan, bunga, ah..... terlalu lebay...


Tapi nanti cara membuka pembicaraan nya gimana, kalau aku tak bawa apa apa?


Ah.... Apa aku bawa beberapa berkas saja?


Tapi itu pasti akan membosan kan dan terkesan formal...."


Gerutu Chiko dalam hati memikir kan bagaimana nanti di rumah Ayu.


Pikiran nya sudah ngelantur kemana mana, lupa pada tujuan utama nya datang ke sana.


🥀


"sore bu Ayu"


Sapa nya ramah tatkala pintu rumah di buka dan terlihat lah sosok cantik Ayu dengan dress rumahan sederhananya.


"eh Chiko, sore juga, masuk lah"


"terima kasih bu"


Jawab nya singkat seraya tersenyum dengan manis, namun terlihat aneh di mata Ayu.


"duduk Chiko, ada hal penting apa yang mau kamu sampaikan?"


Ayu memang orang yang suka langsung pada tujuan, tak suka terlalu basa basi.


"oh, iya ini tadi mau kesini ketemu penjual martabak, jadi saya mampir, buat Naya.....juga kamu"


Lirih suara Chiko saat menyebut kata kamu, sampai tak terdengar di telinga Ayu.


"ah, kamu repot repot Chiko. Lain kali tak perlu sungkan, kalau ada yang mau di sampaikan tak perlu bawa oleh oleh"


"nggak repot bu,,hehe..."


"saya justru sangat senang..."


Lanjut Chiko lirih, saat Ayu membawa kantong berisi ke martabak ke dalam dan keluar lagi dengan membawa dua cangkir teh hangat dalam nampan.


"ada masalah apa di perusahaan Chiko?"


Chiko menyesap teh manis dalam cangkir nya sebelum menceritakan semua yang terjadi di kantor tadi.


Mendengar cerita Chiko, Ayu hanya diam dengan kening berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu.


lama Ayu terdiam seperti sedang berfikir membuat Chiko bisa memandangi wajah nya dengan penuh kekaguman.

__ADS_1


Sementara Ayu yang sibuk dengan pemikiran nya sama sekali tak menyadari jika sepasang mata Chiko sedari tadi menatap nya begitu lekat.


"aku akan temui dia suaru saat nanti.


Thank ya Chik sudah membantu ku, untuk sementara aku akan bekerja dari rumah saja, kalau ada berkas penting kamu kirim via email saja."


"siap bu, mengantar berkas ke rumah juga saya pasti mau"


Ayu mengerut kan kening nya, mencerna kata kata Chiko yang terkesan asal keluar.


"apa?"


"oh, nggak bu Ayu, pasti semua saya kirim ke email bu Ayu"


Ayu tersenyum melihat wajah kaku Chiko yang terkadang bersikap konyol itu.


"bu Ayu.... Makan malam nya sudah siap, eh ada tamu to"


Mbok Surti keluar dari dalam mengajak makan malam Ayu.


"eh iya mbok, semua sudah di meja makan?"


"sudah, tinggal den Arga"


"oh, biar saya yang bawa.


Oh ya Chiko, mumpung di sini, ikut makan malam bareng keluarga saya saja, kamu nggak buru buru kan?"


"eh, iya bu, apa saya nggak merepot kan?"


"nggak mas tampan, tadi mbok Surti masak nya banyak, dari pada nggak kemakan kan sayang"


Jawab mbok Surti menyebut Chiko tampan, membuat wajah Chiko sedikit bersemu merah.


Ayu segera ke kamar Arga dan mendorong kusi roda yang di tumpangi Arga menuju meja makan, bukan nya tidak bisa jalan, hanya syaraf syaraf nya masih kaku karena koma berbulan bulan, dan untuk berjalan akan memerlukan waktu yang lumayan lama walau hanya sekedar ke meja makan.


Sesaat pandangan mata Chiko tertuju pada Arga yang duduk di kursi roda.


"oh ya Chiko, kenalkan ini Arga"


"halo, selamat malam bapak Arga, senang bertemu dengan anda dan selamat atas kesembuhan anda"


Kedua nya saling berjabat tangan dengan tatapan mata sama sama tajam, seolah olah sedang saling mengintimidasi.


"terima kasih, kamu Chiko kan, istri saya banyak menceritakan tentang kamu, dan terima kasih juga kamu sudah banyak membantu nya di kantor."


Jawab Arga dengan menekan kan kata istri pada kalimat nya, agar Chiko sadar bahwa Ayu masih istri sah nya.


Entah lah, Arga merasa tatapan mata Chiko sangat berbeda saat menatap pada Ayu.


Sementara Ayu sedikit memutar mata, karena seingat nya dia tak pernah cerita apa pun tentang Chiko pada Arga.


"sama sama pak, sudah tugas saya membantu bu Ayu. Jangan sungkan."


Makan malam itu tak ada yang berbicara, hanya sesekali lirikan tajam antara Arga dan Chiko yang mendominan, sementara Ayu tak begitu memperhatikan kedua orang itu, lebih menikmati makanan nya.


🥀


🥀


🥀


Setelah Chiko pulang Ayu mengantar Arga kembali ke kamar nya dan mengambilkan obat yang biasa di minum nya.


"dia asisten pribadi mu?"


Tanya Arga dengan tatapan tajam pada Ayu yang sibuk membuka kan obat.


"dia?..... Chiko?


Iya dia sahabat Michell, dia di rekomemdasikan Michell"

__ADS_1


Jawab Ayu santai tanpa melihat reaksi geram dari Arga.


"ckkk..... Michell, kenapa dia tak cari kan asisten perempuan saja?"


"dia itu cekatan, kalau perempuan aku pasti juga akan kesusahan saat harus mengurus pabrik juga"


"perempuan juga banyak yang cekatan"


"kenapa kamu marah marah, bahkan kamu sendiri punya sekretaris perempuan aku juga tak pernah mempermasalahkan nya"


Jawab Ayu sedikit menaik kan nada nya tak terima dengan perkataan Arga.


"itu berbeda, asisten ku Agus, dia laki laki.... Besok tempat kan saja dia di bagian lain, cari asisten yang perempuan"


"jangan mengajak ku ribut, dia bisa aku andalkan, lagi pula apa yang salah kalau asisten ku laki laki?"


"ya jelas salah, kamu sudah punya suami dan punya anak"


"lalu kenapa kalau aku punya suami dan punya anak?"


"apa ku tidak melihat bagaimana cara dia menatap mu!"


"memangnya bagaimana cara dia menatap ku, apakah itu masalah?"


"ya jelas itu masalah....


Aku tidak suka dengan cara dia menatap mu"


"jangan katakan kalau kamu cemburu"


Sindir Ayu seraya menyerah kan obat dan segelas air putih pada Arga.


"memang kenapa kalau aku cemburu, bukan kah itu hal yang wajar, aku suami mu, dan aku tak suka dia menatap mu seperti tadi."


Ayu mengerjap ngerjap kan mata nya berkali kali. Melihat Arga yang terlihat sangat kesal.


"sudah lah, cepat minum obat mu, lagi pula sementara waktu aku juga akan bekerja dari rumah."


Malas untuk berdebat lagi, Ayu memilih tak membahas lagi.


"apa pun alasan nya, aku tak suka kamu dekat dengan nya"


Tapi Arga masih belum mau menyudahi nya. Mata nya masih melihat Ayu yang hanya diam menatap nya dengan pandangan yang sulit di artikan.


"jangan melihat ku seperti itu.....


Aku tahu aku tampan"


Ckkkk


Ayu mencebik kan bibir nya miring, mendengar betapa percaya diri nya laki laki di hadapan nya itu sampai tak sadar Arga menarik tangan nya hingga dirinya terjatuh tepat di pangkuan Arga.


"apa yang kau lakukan, kaki mu bisa sakit kalau aku duduk seperti ini"


"stttt.... Diam lah"


Arga merengkuh tubuh kecil yang duduk di pangkuan nya itu, menghirup dalam aroma tubuh nya dan menenggelamkan wajah nya di ceruk leher nan putih dan halus itu, merasa nyaman dengan aroma tubuh dan pelukan hangat dari tubuh kecil itu.


"jangan membuat ku cemburu....


Aku bisa menjadi jahat jika sedang cemburu."


Bisik nya pelan tepat di telinga Ayu, membuat bulu tubuh Ayu meremang.


Kata kata Arga seperti sebuah surat peringatan atas ketidak sukaan nya pada Chiko.


"tidurlah, sudah malam, besok ada jadwal terapi"


"biarkan seperti ini lebih lama lagi"


Arga menahan tubuh Ayu yang hendak berdiri. Rasanya ingin sekali dia menghentikan waktu sejenak, agar bisa menikmati kebersamaan yang sudah banyak terbuang.

__ADS_1


__ADS_2