
Suasan akhirnya menjadi hening setelah waktu menunjuk kan pukul 3 dini hari.
Agus yang tidak sabar menunggu kabar dari sang atasan segera berniat keluar untuk mencari nya. melihat Ayu yang sudah tidak teriak kesakitan lagi, akan aman bila Agus meninggalkan nya sementara dia mencari si bos.
"Agus!"
"mbak Michel"
Begitu keluar Agus ketemu Michel yang juga keluar dari apartement Arga.
Agus mendapat fasilitas apartement dari Arga dan itu letak nya bersebelahan dengan apartement Arga.
"mbak Michel kenapa dari apartement bos Arga"
kedua nya sama sama heran saling bertemu.
"duh Agus.....kamu kenapa di hubungi susah banget sih..itu Arga...."
Michel menunjuk kamar Arga bingung menjelas kan.
"mbak Michel yang susah di hubungi, si bos juga, aku kebingungan ngurus mbak Ayu"
"hah....wait....Ayu kenapa?"
"tadi malam aku ngecek ke toilet ternyata mbak Ayu hampir pingsang, trus keluar darah dari hidung banyak banget mbak, si bos tak hubungi susah banget"
Michel terkejut mendengar penjelasan Agus.
"trus si bos kemana mbak?"
"itu di kamar, kamu urusi, aku juga nggak tahu kenapa, dari semalem dia teriak teriak, ini kunci kamar nya, dia nyuruh aku ngunci dia di dalam kamar."
Segera mereka berganti apartemen.
Untuk membantu Ayu dan Arga.
"Yuk..kamu kenapa Yuk..wake up Yuk, wake up."
Michel membersih kan darah kering yang masih menenpel di wajah bagian bawah dan baju Ayu.
Agus sama sekali tak berani menyentuh Ayu meskipun sekedar membersih kan darah nya, karena dia tahu betul watak bos nya yang posesif, salah salah malah bisa di gantung sama Arga.
"bos...bos...."
Agus teriak teriak masuk ke kamar bos nya, di lihat nya ranjang Arga berantakan namun kosong, banyak benda benda yang berceceran di lantai kamar. Agus segera berlari ke kamar mandi mendengar suara shower air yang menyala tapi pintu tetap terbuka.
"bos..."
Agus memekik, melihat Arga berendam dalam bath up masih dengan kemeja lengkap dan wajah pucat pasi, tubuh nya dingin seperti es.
"bos...bos...bangun bos..."
Agus mengguncang guncang tubuh atasan nya yang juga tak bergerak.
"Agus...bantu aku ..."
Teriak Michel dari luar
"ini juga gimana mbak, si bos"
Michel terkejut melihat kondisi Arga yang juga mengenas kan.
"panggil ambulan...cepet panggil..."
Kedua nya sama sama panik, melihat dua orang yang sama sama tak sadar dengan kondisi sama sama mengenas kan.
Di ruang ICU, dua orang sedang menunggu dua orang juga yang tak sadar kan diri.
"mbak Michel, apa kita perlu menghubungi keluarga mereka?"
"sepertinya jangan dulu Gus, nanti malah jadi panjang masalah nya"
"iya juga sih mbak, aku dari awal sudah bisa mengira kalo mbak Sella itu punya niat tidak baik"
Michel hanya mengangguk angguk pelan.
"tapi aku sudah suruh orang orang nya bos Arga buat mantau gerak gerik mbak Sella."
"pinter juga kamu Gus!"
"yah harus gitu mbak, apalagi sekarang si bos sama mbak Ayu seperti ini, benar benar nggak tenang saya"
__ADS_1
Michel dan Agus terpaksa tidur di bangku tunggu di luar ruang ICU, mereka terlihat sangat kelelahan semalaman tidak tidur karena ulah Sella.
"Gus kamu jaga mereka dulu, aku mau ke kantor dulu, hari ini aku ada kontrak penting."
"iya mbak, biar saya aja yang jaga, mbak Michel pulang istirahat saja."
Michel pamitan pada Agus setelah waktu menunjuk kan pukul 9 pagi.
Sebelum pergi Michel melihat kondisi Ayu dan Arga dari jendela kaca dulu
"cepet sembu Ayu, Arga, kalian harus kuat."
pamit nya dari balik kaca.
Hari itu terpaksa Agus menjaga sang bos sambil bekerja di belakang laptop.
Meskipun masih banyak karyawan lain di kantor, tapi Agus tak berani memberi kepercayaan penuh, seperti Arga yang mempercaya kan semua pada Agus.
Sesekali di lirik nya si bos yang masih diam tak bergerak.
"keluarga pak Arga"
Setelah beberapa lama suster memanggil keluarga Arga.
"iya sus"
"bapak, silah kan selesai kan administrasi dulu karena bapak Arga akan di pindah kan ke ruang perawatan."
Agus melongo mendengar suster berkata.
"maksud nya pak Arga?"
"pak Arga sudah melewati masa kritis nya, dan bisa di pindah kan ke ruang perawatan"
"oh, oke sus, lalu bagai mana dengan ibu Ayu"
"kondisi ibu Ayu masih sama, belum ada kemajuan"
Agus segera menyelesai kan administrasi seperti yang di perintah kan suster, langkah nya sedikit gontai karena memang lelah dan sedikit gusar, kalau kalau bos nya sadar dia pasti akan panik melihat kondisi Ayu yang masih belum sadar.
"bos....bos, sudah bangun?"
"kenapa aku Gus"
Arga mencoba bangun , duduk bersandar di ranjang.
"harus nya saya yang tanya bos, bos semalam an di jaga mbak Michel, tapi pintu di kunci dari luar sama mbak Michel"
Arga mencoba mengingat ingat kejadian malam itu.
"pas aku datang bos sudah berendam entah berapa lama, sampai tubuh bos dingin kaya mayat."
Lanjut Agus. Arga memijit pelipis nya yang masih sedikit pening.
"sialan....ini ulah Sella."
Umpat Arga setelah ingatan nya kembali
"maksud nya bos?"
"Sella sudah mencampur minuman ku dengan obat perangsang, mau menjebak ku"
Agus melotot mendengar penjelasan bos nya.
"aku suruh Michel keluar karena aku takut tak bisa menahan diri ku."
Agus mengangguk angguk paham maksud Arga.
"benar benar licik Sella, untung waktu itu aku lagi sama mbak Michel."
Gerutu Arga
"coba sama mbak Ayu bos pasti...."
Agus merancau sambil membayang kan sesuatu.
"otak mesum"
Arga menoel kening Agus karena membayang kan hal hal kotor tentang Ayu. Tapi sebenar nya Agus benar juga, mungkin jika saat itu dia sedang bersama Ayu pasti.....😏😏
Arga tersenyum licik.
__ADS_1
"ye....bos sendiri juga lagi mbayangin kan, bukti nya senyum senyum sendiri."
Arga menyikut perut Agus kasar, wajah nya sedikit memerah malu, katahuan memikir kan hal mesum.
"oh iya, Ayu kemana Gus."
Seketika muka Agus menegang, bingung mencari kata yang tepat untuk memgata kan pada bos nya.
"mmm...ini bos...mmmm"
Agus mencerita kan semua kejadian malam itu secara detail, tak ada yang terlewat sedikit pun
"tapi sumpah bos, aku hanya megang mbak Ayu pas mapah ke apartement, aku nggak macem macem."
Agus mengangkat kedua jari nya tanda peace.
"trus sekarang Ayu belum sadar"
"ya, gitu bos"
Arga segera beranjak turun dari ranjang nya, Agus membantu membawa kan selang infus, mengikuti sang bos ke ruang ICU, tempat Ayu masih berbaring.
"dok, gimana keadaan istri saya?"
Arga terlihat panik melihat Ayu yang masih terbaring tak berdaya.
"istri bapak?.. Oh ibu Ayu...ada beberapa kemajuan dari ibu Ayu, kalau kemajuan nya stabil seperti ini, nanti sore ibu Ayu sudah bisa di pindah kan ke ruang rawat, sementara ibu Ayu membutuh kan tranfusi darah, karena terlalu banyak kehilangan darah, mungkin setelah tranfusi bisa di pindah kan"
Arga tersenyum lega mendengar kondisi Ayu sudah membaik.
Setelah di rawat tiga hari Arga sudah di nyatakan sembuh dan di perboleh kan pulang.
Namun kondisi Ayu masih sama, meskipun Ayu sudah melewati masa kritis nya dan telah di pindah kan ke ruang rawat, tapi Ayu masih belum membuka mata nya, membuat Arga sedih, melihat orang yang di cintai nya terbaring tak berdaya.
"Ga, sebaik nya kamu pulang istirahat, biar gantian aku yang jaga Ayu, kamu juga baru sembuh"
Michel tak tega melihat Arga yang juga baru sembuh namun tak tetap setia menjaga Ayu.
Arga hanya diam memandang wajah pucat Ayu yang masih setia memejam kan mata.
"bos, siang ini kita ada rapat dengan klien penting dari China"
Agus memberikan jadwal meeting yang sudah di buat nya pada Arga.
"aku titip Ayu chell, kalau ada apa apa hubungi aku secepat nya"
"pasti Ga"
Setelah mengecup kening Ayu lembut Arga melangkah gontai keluar dari rumah sakit.
Michel yang melihat jari Ayu bergerak segera mamanggil dokter.
Rasa nya sangat senang melihat sahabat nya mulai sadar.
"gimana dok?"
"Alhamdulillah, ibu Ayu sudah sadar, kondisi nya sudah stabil"
Setelah dokter pergi, spontan Michel memeluk Ayu yang masih lemah di ranjang rumah sakit.
"aku seneng banget kamu sudah sadar Yuk"
"chell...aku..."
"kenapa honey, kamu mau sesuatu, bilang ke aku, kamu mau apa"
Ayu menatap Michel penuh arti.
" aku....ingat semua nya Chel..."
Michel menatap Ayu dengan tatapan antara bingung dan senang.
"kamu..."
"iya Chell...aku ingat semua,....
Semua kejadian sebelum operasi."
Michel menghela nafas gamang, pikiran nya langsung tertuju pada Arga.
Dan bagaimana dengan hubungan mereka kedepan nya setelah ingatan Ayu kembali.
__ADS_1