teratai

teratai
dia tak salah


__ADS_3

"aaarrkkkkhhhhh...."


Prang....


Benda benda pecah berserakan di lantai rumah mewah dan luas.


Dengan dada yang kembang kempis karena amarah dan tatapan mata yang merah dan mengembun serta jamari lentik yang mengepal kuat menggambar kan bagaimana emosi dan amarah nya saat itu.


"kenapa?....KENAPA!!"


Teriak nya lantang entah pada siapa karena saat itu dia sedang sendiri tak ada seorang pun di rumah itu, hanya asisten rumah tangga yang sudah sembunyi di belakang karena takut.


"Aku bisa memahami kalian, kenapa kalian sedikit pun tak bisa memahami ku!"


Mata yang mengembun itu akhir nya luruh dengan deru nafas yang memburu menahan isakan.


"aku sudah begitu mengalah kepada kalian..... Apa kalian tidak lihat.... Aku hancur karena kalian.... Aku rusak juga karena kalian...aaaaaa"


Satu lagi vas bunga antik di sudut ruangan terlempar ke dinding menimbulkan suara nyaring khas benda yang pecah.


pranggggg.....


"apa masih kurang kehancuran ku yang dulu? Apa aku mati dulu baru kalian bisa mengerti..."


Teriak nya entah pada siapa, emosi nya seperti meledak.


"aku.... aku.... Akan membuat semua nya menjadi seimbang.... Antara penderitaan ku dan kebahagiaan kalian.... Aku bersumpah...."


Di raih nya kasar tas kecil yang tadi di lempar kan nya mengenai kaca hingga hancur berantakan, lalu pergi melajukan mobil nya keluar.


"Ya Alloh.... "


Seorang perempuan tua keluar dari arah dapur setelah mendengar deru mesin mobil meninggalkan halaman rumah mewah itu.


Tubuh nya nampak gemetar dengan wajah sedikit pucat karena takut.


"barang barang mahal pecah semua... Sayang sekali... marah kok nggak mikir mikir"


Gerutu perempuan separuh baya itu seraya membersihkan pecahan beling dan kaca yang hampir memenuhi ruangan keluarga rumah mewah itu.


"aku harus lapor pada tuan"


Ucap nya pada diri sendiri lalu mengambil ponsel dari saku celana kolor nya untuk menghubungi seseorang.


🥀


🥀


🥀


🥀


setelah selesai menelfon Arga kembali duduk di bangku berhadapan dengan Ayu.


"dia menghubungi mu, pergi lah!"


Arga menghela nafas panjang, menatap Ayu sedikit gusar.


"bukan,..... Dari bawahan ku"


Jawab nya untuk menepis rasa curiga dari wanita di depan nya.


"kenapa kau seolah olah ingin memberikan ku pada nya?


Apa aku tak ada arti nya bagi mu?"


Tanya Arga dengan wajah yang sudah tak bersahabat sama sekali.


"lalu aku harus bagaimana?"

__ADS_1


Teriak Ayu dengan mata yang sudah mengembun, pikiran nya menjadi gamang setelah bertemu dan berbicara dengan Mitha.


"apakah aku sudah tak ada arti nya bagi mu? Aku tahu aku salah, semua karena kebodohan ku, apakah aku tak termaaf kan? Bahkan setelah ada Bryatta kau masih tak memberi ku kesempatan."


"tapi dia juga tak bersalah!"


"aku tahu itu, lalu .... Apakah kamu rela alu bersama nya?"


Deg....


ada yang terasa sesak di dada Ayu, rasanya seperti terhimpit bongkahan batu besar mendengar kata rela.


Air mata nya luruh sudah, Arga yang duduk berseberangan meja hanya bisa memberi tisu pada nya agar menghapus lelehan air mata nya, meski sebenar nya hati nya teramat sakit melihat wanita nya menangis, dan semua itu karena nya.


"aku yang akan selesaikan semua nya, kamu cukup diam dan tak perlu melakukan apa pun"


"dia...."


"aku tahu...di sini, kamu atau pun Mitha tak ada yang salah, dan aku yang akan menyelesai kan maslah yang kubuat, percayalah"


"aku... Aku merasa seperti orang jahat yang tega pada sahabat nya"


Ayu menghapus sisa sisa bulir bening di sudut mata nya.


Mendengar kata kata singkat itu Arga menggeretak kan gigi nya, rahang nya mengeras.


Satu kesalahan mampu membuat beribu masalah hingga saat ini.


Takdir seperti tak berpihak pada nya.


"jangan sakiti dia..... Aku mengerti bagaimana penderitaan nya"


Lirih Ayu berkata tanpa melihat netra sayu Arga yang menatap nya dengan tulus.


"aku janji.... Semua akan selesai dengan baik baik saja, aku hanya minta kamu percaya di hati ku hanya ada kamu, sampai mati pun hanya kamu."


Setelah berucap Arga berdiri dari duduk nya dan meminta Agus mengantar Ayu pulang, rasa nya tak sanggup bila dia terus melihat air mata wanita itu terlalu lama.


"makasih Agus, tapi ini hampir gelap, aku mau ke apartement Michell saja"


" oke, saya antar."


🥀


🥀


🥀


🥀


"awh...."


"maaf nona saya tak sengaja!"


Chiko mengambil tas kecil perempuan yang di tabrak nya, seraya membungkuk meminta maaf.


"kamu tak apa apa?"


Chiko membantu nya berdiri, karena wajah perempuan itu sedikit pucat juga murung.


"tak apa, terima kasih."


Setelah mengambil tas nya dari Chiko perempuan itu segera pergi dengan buru buru.


Setelah perempuan itu masuk ke mobil dan pergi baru Chiko tersadar bila ada ponsel tergeletak di tanah.


"ini pasti punya nya!"


Gumam nya sendiri membolak balik kan ponsel di tangan nya.

__ADS_1


"aku simpan dulu saja, jika dia mencari aku kembalikan."


Karena memang sedang terburu buru Chiko menyimpal ponsel itu dan segera pergi.


"ayolah Chell, ceritakan semua pada ku, rahasia besar apa antar Arga dan Ayu!"


"Chiko, masalah mereka itu bukan untuk di publikasi kan, dan kamu tak perlu tahu, lagian apa untung nya juga kamu tahu."


"siapa tahu kan aku bisa membantu mereka!"


"mau bantu apa Chikooooo??????


Aku saja sebagai teman dekat mereka berdua tak bisa apa apa, lagi pula kamu tahi sendiri kan bagaimana Ayu, dia tak suka ada orang ikut campur dalam masalah nya"


"aku bisa bantu tanpa dia tahu Chell!!!


Apa pun akan aku lakukan"


"cukup ..... Cukup Chiko, aku tahu sebener nya bagaimana perasaan kamu ke Ayu, awas.... Jangan jadi pembinor kamu!"


Ancam Michell dengan menunjuk hidung mancung Chiko yang masih ngotot ingin tahu masalah antara Ayu dan Arga.


"Chell... Kamu seperti nggak tahu aku, aku bisa jaga rahasia, lagi pula siapa tahu aku benar benar bisa bantu Ayu."


Mereka benar benar berdebat panjang karena sikap kekeh Michell yang tak mau cerita dan juga sikap ngotot Chiko yang benar benar penasaran dengan masalah Ayu dan suami nya, sampai akhir nya Michell memghela nafas dalam dan menceritakan semua kejadian antara Arga, Ayu dan jga Mitha.


Sesekali Chiko mengepal kan tangan nya dan juga menggeleng pelan.


Terlalu rumit bila menyangkut tentang cinta dan persahabatan.


"sudah lah, ku harap kamu bisa tepati janji mu jaga rahasia ini dan satu lagi.... Jangan pernah ikut campur dalam masalah mereka jika tak di minta, karena itu akan memperumit masalah."


Chiko terdiam memijit pelipis nya.


Pantas saja selama ini Ayu seperti sedang memikul beban yang begitu berat, ternyata itu benar ada nya.


Keluh hati Chiko yang selama ini selalu mengamati setiap gerak gerik Ayu.


"sebaik nya sekarang kamu pergi karena sebentar lagi Ayu akan kesini"


"kenapa aku harus pergi?"


"kamu mau dia curiga kalau kamu menguntit dia?"


"tapi aku tak menguntit nya"


"bukan kah dia menyuruh mu mengurus perusahaan, lalu kalau dia tanya kenapa kamu keluyuran sampai ke kota ini, kamu mau bilang apa?"


"iya... Iya... Aku akan pergi, lagi pula aku ada janji"


Jawab Chiko sedikit malas untuk beranjak, dia memang ada janji untuk bertemu dengan pemilik ponsel yang di bawa nya tadi.


Tapi rasa nya enggan beranjak, sebenar nya dia sudah berharap bertemu dan melihat wajah cantik Ayu, karena memang akhir akhir ini Ayu jarang ke perusahaan, hanya bekerja dari rumah, jadi dia tak bisa melihat wajah yang selalu membuat nya terpesona itu.


"ya sudah aku pergi"


dengan bibir manyun, Chiko melangkah keluar dari unit apartemenr mewah Michell. Langkah nya gontai menuju parkiran.


"seandai nya aku bertemu dengan mu sebelum kamu bertemu Arga.... Kamu tak perlu mengalami hubungan yang rumit seperti ini."


Gumam nya pelan seraya melajukan mobil nya meninggal kan parkiran.


"tapi bukan kah jika dia meninggal kan Arga, semua nya selesai...."


Chiko memukul setir nya sendiri.


"kenapa Ayu tak pergi saja dari Arga....


Apa karena Bryatta.... Aku juga mau jadi ayah sambung Bryatta..."

__ADS_1


monolog Chiko semakin konyol dan ngelantur tak jelas, berbagai asumsi dan pemikiran konyol melintas di otak nya membuat nya seprti orang gila yang berbicara sendiri, tersenyum sendiri, dan mengumpat tak jelas.


__ADS_2