teratai

teratai
putra ku


__ADS_3

"bagaimana keadaan nya dok? Apakah ada kemajuan yang signifikan?"


"kemajuan nya sangat bagus bu Ayu, saya rasa pak Arga sudah tak butuh alat alat medis selain oksigen."


"apakah itu tidak berbahaya dok?"


"tidak bu, berdasar kan pengamatan saya dalam beberapa kali kunjungan, ada sedikit gerakan, seperti nya pak Arga berjuang ingin segera sadar, untuk itu saran saya, sering sering ajak bicara pak Arga, anggap beliau sudah sadar, itu bisa merangsang saraf motorik nya."


"baik dok"


setelah mengantar dokter pulang Ayu kembali masuk ke kamar Arga.


Sekarang kamar Arga sudah tak ada suara alat alat medis yang terasa mengusik di telinga lagi, hening dan sepi.


"ada banyak hal yang sebenar nya ingin aku tanyakan padamu....


Tapi..... seperti nya kamu nggak mau tahu, karena kamu hanya diam."


Ayu menghela nafas panjang setelah menyandarkan kepala di sofa mini yang di duduki nya tepat di samping ranjang Arga.


"apa kamu tidak capek, tidur berbulan bulan....


Dasar pemalas."


Ayu melihat wajah dua orang yang tidur dengan damai. Benar benar sangat mirip.


"saat nya kamu tidur di kamar mu Bry...


Kalian benar benar mirip, bahkan tak ada satu pun dari diri ku yang menurun.


Semoga kelak saat dewasa kamu tidak se menyebalkan papa mu."


Gerutu Ayu sebelum mengangkat putra nya yang sudah tertidur pulas.


"dan kau tidurlah terus, jangan buru buru bangun..... Aku mau bersenang senang dulu...."


Kata Ayu ketus pada tubuh Arga yang masih terbaring, lalu pergi meninggalkan nya sendiri.


tanpa di sadari nya ada gerakan di jemari dan kaki nya, meski sangat pelan dan lemah.


🥀


🥀


Mata Ayu terbelalak kala melihat selimut yang menutupi tubuh Arga terjatuh di lantai pagi itu.


"apa yang terjadi? Siapa yang masuk kesini?"


Ayu mendekat pelan pelan memastikan bahwa tak ada orang lain di dalam kamar itu.


Tapi bagaimana mungkin bisa selimut yang menutupi tubuh Arga yang sedang koma bisa terjatuh ke lantai.


"sus....suster....sus...."


Teriak Ayu memanggil suster yang biasa merawat Bryatta dengan mata masih tetap menatap tubuh Arga yang terbaring.


"iya bu.... Apa yang bisa saya bantu?"


Perempuan muda dengan pakaian suster datang menghampiri Ayu dengan menggendong bayi mungil bersamanya.


"sus, apa tadi ada yang masuk kesini sebelum aku?"


Memang khusus kamar Arga hanya Ayu dan bu Anya yang bisa bebas keluar masuk, semua keperluan pun bu Anya dan Ayu sendiri yang menyiapkan.


"setau saya nggak ada bu, soal nya kalau mbok Surti sama pak Eko baru pulang dari pasar"

__ADS_1


Ayu berfikir sejenak sebelum menyuruh suster nya kembali membawa Bryatta keluar.


"rasanya tak mungkin kalau selimut nya tertiup angin."


Gerutu Ayu seraya mengambil selimut itu kembali dan bersiap untuk membersihkan tubuh Arga seperti biasanya, setiap pagi Ayu akan membersihkan tubuh Arga dan mengganti pakaian nya agar terasa nyaman dan selalu bersih.


"sudah lah..... Tak mungkin juga kamu yang menjatuh kan selimut itu, karena kamu sudah begitu nyaman dengan tidur mu.


Tidur saja yang lama, aku pastikan kalau kamu bangun akan membalasmu."


Setelah selesai membersihkan dan mengganti pakaian Arga, ayu mengangkat air hendak membawa nya keluar ketika sebuah tangan mencekal pergelangan tangan nya meski tak begitu kuat, membuat Ayu membelalak kan kedua bola mata nya seakan tak percaya.


tangan Arga bergerak memegang tangan nya, tapi mata nya masih tertutup, tak terbuka sama sekali.


Sejenak Ayu membatu memikir kan kejadian itu.


"apa ini.....kamu sudah sadar.....kenapa kamu diam saja,....kenapa tidak membuka mata mu....


Apa kamu takut dengan ancaman ku?"


Di amati nya wajah pucat Arga, tak bergerak sama sekali.


"sudahlah.... Aku tak mau berharap lagi..."


"jangan pergi"


Sebuah suara lemah memanggil Ayu ketika hendak berlalu. Suara yang selama ini sempat menghilang selama berbulan bulan, suara yang selalu membuatnya kesal, benci tapi juga rindu.


Kini suara itu terdengar begitu jelas di telinga nya, meski terdengar sangat lemah.


Perlahan Ayu memutar tubuh nya, berharap itu bukan ilusi nya saja, itu bukan sekedar harapan belaka.


"jangan ...pergi....temani aku...disini..."


Kembali terdengar suara yang sangat lemah.


Kedua bola mata nya sudah mengembun, penuh dengan genangan.


Baskom berisi air yang di bawa nya terjatuh ke lantai karena kedua tangan nya gemetar, menimbulkan suara yang sangat keras....


Prankkkkk....


"kamu.....kamu....."


Ayu berjalan pelan mendekati Arga yang menjulurkan tangan nya.


Sungguh tak bisa di gambar kan apa yang di rasakan nya sekarang.


"bu... Bu Ayu baik baik saja....ada apa bu?"


Pak Eko dan mbok Surti yang mendengar suara benda jatuh, berlari menghampiri Ayu yang mematung di samping ranjang Arga dengan tangan saling memggenggam.


"Subhanalloh....pak.....Alhamdulillah pak Arga sudah siuman "


Mbok Surti yang melihat Arga sudah membuka mata nya menangis histeris seketika.


"iya mbok...Alhamdulillah pak Arga sudah bangun, kita harus kabari nyonya Anya mbok"


Kedua nya membuat heboh seisi rumah karena bahagia melihat Arga yang sudah tersadar dari koma nya.


Kedua mata saling menatap, kedua tangan saling menggenggam, tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.


kedua mata itu saling menatap lekat, seolah olah sedang saling berbicara.


"jangan menagis...."

__ADS_1


Suara lemah Arga terdengar saat melihat dua bulir bening lolos dari sudut mata Ayu.


"aku tidak menangisimu....


Aku tidak akan pernah menangisimu...


karena aku benci kamu.... Aku benar benar benci kamu....."


Jawab ketus Ayu seraya mengusap pipi halus nya yang sudah basah.


Arga hanya tersenyum sambil mengangguk kan kepala pelan mendengar jawaban Ayu, persis dengan kata kata yang selalu di dengar nya saat dia belum mampu untuk membuka mata nya.


"iya.... Aku tahu...."


"aku memang benci kamu...


Kamu sangat menyebalkan..."


Tanpa menjawab lagi Arga menarik tangan Ayu hingga terjatuh di atas tubuh nya dan memeluk tubuh kecil itu erat erat, mencium dalam pucuk kepala nya, kedua nya sama sama menangis.


"aku sudah bilang aku membenci mu, kenapa kau memeluk ku!"


Kata Ayu di sela isak tangisnya yang sudah tak terbendung lagi.


"aku tahu... Kau boleh menghajar ku nanti."


"aku akan patahkan tangan dan kaki mu...


Kau dengar itu... Aku tak akan mengampuni mu lagi....


Dasar brengsek..."


Jawab Ayu masih dengan tangis nya dan memukul dada bidang Arga yang tak berubah sama sekali meski dalam keadaan koma berbulan bulan.


Sementara Arga tak henti henti nya mencium kening dan pucuk kepala wanita yang masih menjadi istri sah nya.


Tubuh mereka sama sama bergetar karena isakan yang tertahan.


"putra ku?..... dimana dia?"


Ayu menarik tubuh nya dari pelukan Arga ketika pak Eko, mbok Surti, Naya serta suster yang memggendong baby Bry masuk bersamaan ke dalam kamar itu.


"papa Arga.... Naya kangen sama papa"


Naya segera naik ke ranjang setelah Ayu membantu Arga untuk duduk.


"papa juga kangen sama kamu"


Kedua nya berpelukan seperti telah lama berpisah.


"papa bobok nya lama banget, Naya kan jadi kangen sama papa, apalagi adek Bryatta, selalu nangis kalau Naya lagi belajar."


Celoteh gadis cilik itu pada papa sambung nya.


"dedek nya nanti papa bilangin biar nggak nangis kalau kaka lagi belajar "


Hanya anggukan kecil dan senyum tulus yang tersungging dari bibir kecil itu.


sesaat pandangan Arga tertuju pada bayi kecil yang di gendong suster, bayi itu namak mulai menggeliat geliat kan badan nya, seolah meminta sesuatu.


"bawa sini sus!"


Arga menggendong bayi laki laki yang hampir menangis itu, sungguh tak di sangkanya, wajah nya adalah miniatur dari diri nya.


Benar benar seperti Arga versi bayi.

__ADS_1


"putra ku..."


gumam nya lirih, memperhatikan wajah putra nya yang benar benar mirip dengan nya


__ADS_2