teratai

teratai
Rindu papa


__ADS_3

"sebaik nya kamu mulai menata masa depan mu nduk. Masa depan kamu masih panjang, kamu masih muda, ada baik nya kamu mencoba hal hal baru yang mungkin akan bisa membuat mu iklas"


Perempuan paruh baya itu menasehati putri nya yang terlihat emosi setelah memaki dua orang suruhan nya yang belum mendapat kan informasi apa pun.


Dia khawatir melihat putri nya yang terlalu berambisi dan cenderung melakukan apa pun untuk mencapai tujuan nya meski pun itu salah.


"jangan menasehati apa pun pada ku buk, ibu tahu bagaimana rasa nya jadi aku.....


Aku merasa di permain kan dan tak di hargai sama sekali buk.


Apa karena mereka orang kaya, lalu kita harus mengalah?


Aku tak bisa buk, aku harus melakukan sesuatu."


Jawaban anak nya cukup membuat ibu Marni sedih, apalagi Mitha menjawab dengan ssedikit berteriak.


Setelah mengusir dua orang suruhan nya, Mitha mondar mandir di ruang tamu .


Mulut nya pun tak berhenti bergumam tentang rencana rencana yang akan dia ambil selanjut nya.


"nduk....ibu tahu perasaan mu, ibu mengerti apa yang kamu lakukan.


Tapi coba kamu pikir, apakah itu tidak membuang buang waktu muda mu percuma."


"nggak buk.... Aku nggak buang buang waktu, aku yakin saat ini mereka pun juga tidak tenang...."


"kalau kamu begini terus ibu jadi sedih nduk....


Ibu rasanya pengen balik ke kampung madiun saja..."


Air mata sudah tak mampu di bendung ibu Marni, lolos dengan mudah dari pelupuk mata perempuan paruh baya itu.


"ibu jangan khawatir, sebentar lagi aku akan menemukan kebahagiaan ku bu, aku tidak melakukan apa apa, aku hanya menuntut hak ku"


"eling nduk.... Nak Arga sampai sekarang belum di ketahui keberadaan nya, entah masih hidup atau sudah meninggal..... Kamu istighfar nduk"


"BU..."


Bentak Mitha pada ibu nya yang tidak terima bila mengatakan Arga sudah meninggal.


"Arga belum meninggal, mereka menyembunyikan nya, aku akan mencari dan menemukan Arga.....pasti...."


Mitha berteriak dengan penuh antusias tak memperdulikan ibu nya yang sudah berlinangan air mata, melihat betapa keras kepala putri nya.


"Mitha ada apa nduk, kenapa kamu teriak teriak"


Pak Slamet yang berada di luar dengan tergopoh berlari ke dalam mendengar Mitha yang berteriak teriak.


"bu, ibu kenapa nangis?


Ada apa ini sebenar nya?"


tanya pak Slamet yang melihat istri nya sudah bersimbah air mata.


"pak, apa bisa kita pulang ke kampung saja, ibu rasa ibu nggak betah di sini, ibu kangen suasana di Madiun."


"ibu kangen rumah kita?"


"iya pak, ibu kangen banget sama rumah kita."

__ADS_1


Pak Slamet memandang istri dan putri nya bergantian, dia tahu ada yang tidak beres dari sikap mereka berdua.


"ya sudah, nanti kalau ada waktu nya kita akan pulang bu, sebaik nya ibu istirahat, bapak antar ke kamar."


Pak Slamet segera menuntun istri nya masuk ke dalam kamar meninggal kan Mitha yang masih terlihat emosi dengan mata yang memerah.


🥀


🥀


🥀


🥀


"bry...kenapa kamu rewel sayang....


Dari tadi kamu sudah minum asi, badan mu juga tidak anget, kenapa kamu rewel sayang"


Meskipun bayi nya belum dapat berbicara, Ayu seperti menanyakan perihal putra nya yang sedari sore tidak berhenti menangis.


"mama, dedek bayi nya kenapa dari tadi nggak berhenti nangis sih, Naya nggak bisa belajar kalau dedek nya berisik."


Ayu melihat sekilas pada putri nya yang menggerutu karena adik bayi nya tak kunjung diam.


"mama juga lagi menenangkan dedek bayi sayang, naya belajar nya di kamar saja ya, biar nggak keganggu sama dedek bayi, sus.... Tolong temani Naya belajar di kamar."


"baik bu...."


Dengan bibir sedikir mengerucut Naya masuk ke kamar nya bersama suster yang biasa merawat baby Bryatta.


"kenapa nangis terus bayi nya bu Ayu."


"nggak tahu mbok, dari sore tadi nangis terus, di susuin juga nggak mau, tapi nggak mau diem"


"apa mungkin sedang sakit bu?"


"nggak mbok, suhu badan nya normal"


"kenapa kamu nangis terus le.... Cah bagus...."


Mbok Surti membelai rambut tebal bryatta yang meronta ronta dalam gendongan ibu nya seolah ingin meminta sesuatu.


"bu.....mmmmm apa mungkin bry kangen sama papa nya"


Ayu menatap mbok Surti seraya mengeryit kan kening nya, apakah mungkin bayi yang baru berusia 3 bulan sudah bisa merasakan perasaan rindu pada papa nya.


"apa mungkin mbok?"


Tanya Ayu sedikit ragu.


"mungkin saja bu, biasanya ikatan batin antara anak dan bapak itu sangat kuat."


Ayu melihat bayi nya yang sedari tadi nangis tak mau diam sejenak, seolah memastikan omongan mbok Surti.


"bawa ke kamar pak Arga bu, siapa tahu disana nanti mau diem."


Tanpa berkata kata lagi Ayu segera menuju lantai dua di mana kamar Arga berada.


Tenang, sunyi, hanya bunyi beberapa alat medis yang terdengar di kamar itu.

__ADS_1


Ayu meletak kan bayi nya di samping Arga, dengan lengan Arga yang menjadi bantal nya.


Aneh, bryatta tak lagi menangis dan tertidur dengan lelap dan tenang.


Ayu mengusap wajah nya kasar.


"kamu lihat.....


Bahkan putra mu pun tak berhenti menangis karena rindu kamu....


Apakah kamu masih betah tidur seperti ini terus?"


Entah lah, itu umpatan atau sindiran, rasanya Ayu sangat gemas menyaksikan dua orang beda generasi yang tertidur pulas dengan wajah yang begitu mirip.


"kalian benar benar....."


Ayu tak lagi melanjut kan kata kata nya.


Tak ada guna nya juga dia marah atau pun ngomel semalaman, karena nyata nya dua orang itu tidur dengan begitu damai.


"awas saja kalau kamu bangun nanti, akan ku hajar kamu"


Gumam nya lirih.


Ayu menghempaskan tubuh nya di kursi dekat ranjang Arga dengan wajah kesal.


Dia tak mengambil bryatta dari sisi papa nya karena takut anak itu akan menangis lagi.


Dengan terpaksa dia menjaga nya di sisi papa nya.


Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela kamar yang tirai nya sedikit terbuka membuat Ayu memicing kan sebelah mata nya.


Dia tertidur di kamar Arga karena menunggu Bryatta yang hanya bisa tenang saat bersama papa nya.


Kedua nya masih tidur dengan wajah yang begitu mirip dan menggemas kan.


Saat hendak beranjak, ada sesuatu yang aneh....


Ya, Ayu terbangun dengan jemari Arga yang menggenggam erat jamari nya.


di usap nya wajah nya berkali kali, untuk memastikan apakah itu nyata, atau masih di alam mimpi nya.


Ternyata benar, jemari Arga menggenggam erat jemarinya.


Mungkin kah.....


"jangan membuat ku marah lagi..... apa ini?"


Ayu melihat wajah Arga dengan seksama, tak ada pergerakan sama sekali, dan posisi tidur nya pun tidak berubah sama sekali.


" kamu menipuku lagi."


Terlihat raut wajah kecewa Ayu saat lama tak ada reaksi apa pun pada Arga.


"sudah lah, tak ada guna nya berharap pada mu, kamu selalu membohongi ku...


Tidur saja terus, aku nggak akan peduli."


Setelah mengumpat Arga, Ayu membawa Bryatta yang sudah anteng keluar dari kamar Arga.

__ADS_1


Tanpa di sadari nya bibir pucat itu melengkung ke atas, reaksi dari umpatan yang baru saja di dengar nya.


__ADS_2