
"bagaimana keadaan pak Arga bu?"
Kedua perempuan yang sedari tadi berada di samping tubuh Arga yang terbaring lemah, seketika menoleh ke asal suara.
"kamu sudah datang....
Seperti yang kamu lihat, masih belum ada perkembangan yang signifikan, mungkin hanya mukjizat yang bisa membangun kan nya."
"saya harap beliau segera sadar...."
"terima kasih doa nya Gus"
Kedua perempuan itu sesaat menatap ke arah wanita yang berdiri di belakang Agus dengan tatapan tanda tanya.
"oh... Dia Dina, sekretaris pak Arga di kantor, ibu Anya dan mbak Ayu nggak perlu khawatir, dia bisa di percaya."
Seperti tahu arti dari pandangan kedua perempuan itu, Agus segera menjelas kan siapa yang menjadi pusat perhatian dari ibu Anya dan juga Ayu.
"Dina, kamu sudah tahu kan dengan ibu Anya, sedang kan ini mbak Ayu, istri sah nya pak Arga."
"istri....sah....bukan kah ibu Ayu ini pemilik Lotus yang bekerja sama dengan perusahaan pak Arga?"
"iya benar... Dia pemilik Lotus, juga istri sah nya pak Arga. Dan aku harap kamu bisa pegang omongam kamu."
"eh i...iya pak Agus, selamat siang bu Ayu'
" selamat siang Dina, seperti nya sudah jam makan siang, kita makan dulu sebelum bahas masalah pekerjaan."
segera semua beranjak ke meja makan yang sudah di siap kan berbagai macam menu.
"wah.....seperti nya saya datang, di waktu yang tepat."
Seru Agus melihat meja makan yang penuh dengan pilihan menu yang terlihat menggiur kan.
"tepat banget Gus..... Lumayan kan.....ngirit buat makan siang..."
Canda Ayu yang di sambut dengan gelak tawa semua nya.
"oh ya, bu Ayu sendiri gimana dengan cabang Lotus yang baru?"
"semua dalam kendali Gus, untuk ke media aku menyuruh Chiko yang berpura pura menghandle semua di cabang sini, aku belum yakin untuk menunjuk kan keberadaan ku pada media."
"itu memang yang terbaik sayang..... Karena semua akan rumit kalau sampai Mitha tahu keberadaan mu, dia pasti tak akan tinggal diam dan akan mencari keributan."
Sanggah bu Anya yang tahu posisi menantu nya saat ini.
"Chiko???"
Ulang Agus ambigu.
"oh kamu belum tahu Chiko ya, dia sahabat Michell yang sekarang jadi asisten ku, sekaligus peran pengganti sementara...."
"coba kalau bos Arga sadar, pasti sudah di cekek mati tu leher si Chiko...."
Gumam Agus pelan membayang kan bagaimana cemburu nya Arga kalau sampai tahu Ayu mengangkat asisten laki laki.
"apa Gus?....
Kamu ngomong apa?"
"eh.....enggak mbak.....makanan nya enak, saya boleh nambah?"
Sanggah Agus berbohong pada Ayu dengan menampilkan senyum kikuk nya.
"ya sudah kamu makan yang banyak, sama sekretaris mu, kalau sudah ke ruang kerja ku, aku tunggu di sana"
Ucap bu Anya sopan dan berwibawa.
bu Anya dan Ayu segera berlalu meninggal kan Agus dan Dina yang masih menikmati makanan nya.
"pak Agus, emang pak Arga sama bu Ayu itu menikah sudah lama ya?"
"hmmm"
__ADS_1
"tapi kenapa pas acara lounching Brand Lotus di resort, mereka seperti orang asing?"
"makan saja dan ndak usah banyak tanya....
Dan sebaik nya kamu juga tutup mulut soal pertemuan ini"
"i...iya pak..."
Dina kembali diam setelah mendapat tatapan tajam dari Agus.
🥀
🥀
🥀
"Din, kamu nggak mau ke pusat perbelanjaan beli sesuatu, mumpung di sini?"
"apa boleh pak, kalau saya mampir mall sebentar buat beli oleh oleh."
"hmmm"
Agus segera membelok kan setir nya memasuki parkiran mall yang tidak terlalu besar tapi cukup mewah.
"tapi jangan lama lama, biasanya perempuan suka lupa waktu kalau sudah belanja."
"iya pak, bapak nggak mau turun?
Ayolah pak, masa bapak cuma berdiam diri di parkiran seperti sopir."
Agus mengeryitkan kening nya lalu segara turun mengikuti langkah sekretaris nya.
Sempat menjadi pusat perhatian karena memang wajah Agus termasuk tampan dan tubuh nya pun proporsional serta dengan setelan jas mewah nya membuat nya banyak di lirik perempuan.
plakkkk....
Tiba tiba seorang perempuan yang mendorong stroller bayi, mendekat dengan penuh amarah dan menampar Agus.
"Shella...."
Maki perempuan yang ternyata adalah Shella kepada Agus, melihat Agus berjalan berdua dengan Dina.
Dina yang tak paham apa pun hanya bisa melongo.
"Shell.....aku akan jelas kan...."
"tak perlu, lagi pula kita kan memang tak ada hubungan apa apa...."
"dengar dulu..."
"sudah lah....aku dari awal memang tak berniat menuntut tanggung jawab mu, sendiri pun, aku bisa membesar kan putri ku."
Sarkas Shella kasar kepada Agus.
"dia sekretaris ku Shell...shell...tunggu.."
Agus berusaha menahan Shella, tapi tangan nya di tepis kasar.
"sudah jangan ganggu adik ku lagi
Pergilah..."
Hadang seorang perempuan kepada Agus ketika hendak mengejar Shella.
"jangan halangi aku...aku mau ketemu anak ku..."
"jangan membuat masalah lagi, Shella sudah cukup berantakan dengan semua ini."
Agus termangu dengan kalimat sindiran halus dari perempuan yang mengaku kakak Shella itu.
Jantung nya berdegup tak beraturan.
Benar kah Shella seperti itu?
__ADS_1
Dan apakah semua karena nya?
berbagai pertanyaan melintas di benak Agus.
Apakah kehidupan Shella benar benar berubah karena nya?
"tunggu...
Kumohon, tolong ijin kan aku bertemu Shella dan pitri ku.."
Kejar Agus pada kakak Shella yang sudah hampir menjauh.
"sudah lah.... Apa semua ini belum cukup?
Nikmati saja kehidupan kalian masing masing"
Jawab perempuan itu setelah melirih ke arah Dina yang masih terpaku seperti orang bodoh karena memang tak tahu apa apa.
"dia hanya sekretaris ku, dan kami baru saja ketemu klien, beri aku kesempatan bertemu mereka, kumohon!"
Pinta Agus memelas.
Entah lah setelah melihat bayi mungil perempuan yang berada di stroler itu, seperti nya ada sesuatu yang membuncah dalam hati Agus.
"tak perlu..... Sebaik nya kalian tidak bertemu lagi."
"tolong.... Dia anak ku kan?
Aku berhak bertemu dengan nya.
Setidak nya aku ingin menebus semua kesalahan ku dulu."
Perempuan itu menghela nafas dalam, menatap kedua mata Agus, tak ada keraguan dan kebohongan di sana.
"ini no ponsel ku, akan ku pikir kan nanti."
Ucap nya segera pergi meninggal kan Agus yang terdiam menatap kartu bertulis nama dan nomor ponsel saja, tak ada alamat rumah atau lain nya.
"pak.... Pak Agus.... Pak Agus baik baik saja?"
Agus tersadar setelah Dina menyenggol lengan nya.
"iya, selesaikan belanja mu, kita segera pulang."
"iya pak, tinggal pembayaran".
Selama perjalanan pun tak ada obrolan sama sekali.
Dina yang tahu suasana hati atasan nya sedang tidak bagus memilih untuk diam dari pada nanti semakin memperkeruh keadaan.
"kamu bisa diam kan dengan semua kejadian yang terjadi di mall tadi"
suara dingin Agus sedikit mengaget kan Dina yang sibuk dengan puluhan pertanyaan di kepala nya.
"ah...iy...iya pak....saya tidak akan mengatakan pada siapa pun"
"bagus, kalau sampai kamu berani buka mulut, saya sendiri yang akan menyiksa mu."
Mata Dina membulat sempurna mendengar ancaman Agus dengan suara dingin dan terkesan mengintimidasi.
"sa....saya janji akan ... tutup mulut saya.
Bapak bisa pegang .... omongan saya."
Jawab Dina gugup dan ketakutan namun berusaha menampil kan senyum yang malah terlihat aneh.
'bos dan asisten sama saja...
Sama sama suka mengancam
Untung tampan
Hfffttt'
__ADS_1
Batin Dina mengumpat sang atasan yang kadang suka menyebalkan.