teratai

teratai
marah tapi


__ADS_3

"aaaaa....."


Teriak Chiko menepuk nepuk wajah nya sendiri, mengingat kejadian di pesta, dimana dia mendapat buket bunga bersama Ayu.


Hati nya merasakan sesuatu yang sulit di jelaskan.


Sesekali wajah nya memerah dan senyum manis tergambar di sudut bibir nya.


"ah... Seandai nya aku kenal dari dulu, sebelum dia kenal Arga."


Gumam Chiko pelan mengetuk ngetuk kan jemari nya di meja, dia tak bisa fokus pada pekerjaan nya, pikiran nya selalu teringat pada wajah Ayu yang menatap nya begitu dekat.


"ah....Michell....kenapa juga kamu tak mengenalkan aku pada nya dari dulu."


Tumpukan berkas di atas meja tak mampu mengalih kan perhatian Chiko dari Ayu.


Dia terlihat sangat konyol hari ini.


hanya duduk dan bergumam sendiri di ruang kerja nya.


Tok...tok...tok...


Suara pintu yang di ketuk dari luar membuat Chiko tersadar dari bayang bayang Ayu.


"masuk"


"pagi pak Chiko, ini berkas yang kemarin, sudah selesai semua, dan saya mau ambil berkas yang sudah di tandatangani."


"oh iya."


Jawab Chiko menatap berkas yang di serah kan sekretaris nya tapi apa yang di ucapkan sekretaris itu sama sekali tak masuk ke otak nya.


sekretaris menatap bingung ke Chiko yang bengong menatap berkas di atas mejanya.


"pak?"


"kenapa?"


"bapak sehat?"


"kenapa kamu tanya nya begitu?"


"tadi saya bilang saya mau ambil berkas yang sudah di tandatangani."


"iya trus kenapa?"


Sekretaris cantik itu mengernyit kan kening nya, seraya tersenyum canggung.


"kamu kenapa melihat saya seperti itu?"


"saya mau ambil berkas yang kemaren pak"


"oh... Kenapa nggak bilang dari tadi?"


"tadi saya sudah bilang pak!"


"kapan kamu bilang?"


Chiko menyodorkan beberapa berkas di meja nya kepada sekretaris nya.


"kenapa lagi?"


Tanya Chiko melihat sekretaris nya yang belum juga beranjak dari hadapan nya.


"maaf pak, tapi ini belum bapak tandatangai!"


Jawab nya pelan dan ragu dengan sedikit senyum yang di paksakan, lalu menyerah kan kembali berkas di tangan nya kepada Chiko.


Chiko mengerjap berkali mengamati berkas yang memang belum di tandatangani nya itu.


Ckkkk


Gerutu nya karena terlihat sangat konyol di hadapan sekretaris nya.


Sungguh memalukan....bisik nya dalam hati.


"sudah nih..."

__ADS_1


Tanpa melihat ke arah sekretaris yang terlihat mengulum senyum menahan tawa itu, Chiko menyerah kan berkas yang sudah di tandatangani nya.


"saya permisi pak!"


"hmmm"


hanya deheman yang Chiko keluarkan untuk menjawab sekretaris nya karena terlanjur malu dengan kejadian barusan.


"sialan... Aku bisa gila kalau seperti ini terus....."


Gerutu Chiko setelah sekretaris keluar dari ruangan nya.


"bisa bisa nya aku sebodoh itu.... Ayu.... Apa yang sudah kamu lakukan sampai aku jadi bodoh seperti ini..."


Chiko mengusap usap kasar wajah nya karena bayangan Ayu terus bersliweran dalam benak nya.


🥀


🥀


🥀


🥀


Pintu terbuka, sosok tampan dengan postur tegap sempurna, berdiri di depan pintu dengan tatapan mata yang tajam.


"sudah pulang!"


sapa Ayu sedikit gugup ketika membuka pintu mendapati Arga yang berada di depan pintu dengan tatapan tajam seolah ingin menelan nya hidup hidup.


Tanpa menjawab sapaan Ayu, Arga langsung menarik tubuh kecil Ayu hingga menabrak dada bidang nya dan tangan kekar nya menahan pinggang Ayu yang menempel sempurna pada nya.


"jangan seperti ini, masuk dulu, aku buat kan teh."


Kata Ayu dengan terbata karena gugup.


"kenapa? Kamu takut padaku? Aku suami mu, sedang pada laki laki itu kamu tidak takut."


Ayu menatap Arga dengan tatapan sok polos, mencoba membalas tatapan tajam Arga.


"apa yang akan kamu jelaskan?"


"ya... Itu... Semua itu bukan seperti yang ada di berita...."


"berita apa?"


Arga terus berkata dengan nada datar dan tatapan mata tak lepas dari wanita nya.


"lepas kan aku dulu, kita bicara di dalam, jangan disini"


"kamu mau di kamar? "


Tanya Arga dengan senyum smirk nya membuat Ayu sedikit melotot, merasa aneh dengan pertanyaan Arga.


"lepas kan aku"


Ayu mencoba meronta dari tangan kekar yang melingkar kuat di pinggang nya.


"aku mau menghilangkan bekas pelukan Chiko di tubuh mu."


Kedua nya saling menatap seolah olah tatapan mata saling mengungkap kan rasa masing masing.


oekk....oek.....oekkk....


Seketika ketegangan mereka teganggu dengan tangisan Bryatta yang sangat kencang.


"seperti nya dia tahu kamu datang."


Kata Ayu mengambil kesempatan untuk melepaskan tangan Arga yang melingkar kuat di pinggang nya.


"dia memang putra ku."


Melupakan berdebatan yang baru saja terjadi Arga segera berlalu menuju kamar putra nya yang sedang menangis, membuat Ayu bernafas lega.


"huftt..... Untung Bryatta nangis...aman...."


Ayu mengelus dada nya berkali kali merasa terbebas dari ancaman kemarahan Arga.

__ADS_1


Setelah makan malam Arga meminta Ayu membawakan kopi ke teras belakang, hawa di teras belakang sangat sejuk dengan hembusan angin laut dengan kemerlip cahaya bintang di langit menambah kesyahduan suasana di kala malam hari.


"bukan kah sudah ku bilang jangan dekat dekat dengan laki laki itu, aku tidak menyukai nya*


Hardik Arga setelah Ayu meletak kan dua cangkir kopi hitam yang di bawa nya dengan nampan di atas meja.


" bukan kah sudah ku jelas kan dia ikut atas permintaan Michell"


Jawab Ayu membela diri, mencoba menghindar dari kemarahan orang yang sedang cemburu.


"ckkkk....jangan membantah ku, aku bisa lepas kendali saat terbakar api cemburu."


Arga berkata dengan wajah garang dan terlihat sangat kesal.


"sudah lah tak perlu di bahas, lagi pula cerita yang sebenar nya kamu juga sudah tahu kan!"


Ayu bersungut sungut membela dirinya.


"jangan terus beralasan, aku bisa benar benar marah"


"marah lah, memang kenapa kalau kamu marah?"


"kamu benar benar mau tahu apa yang akan terjadi kalau aku marah?"


Tanya Arga dengan mencondongkan badan nya mendekat kan wajah nya pada wajah Ayu yang duduk di samping nya dan dengan senyum smirk terpampang jelas di sudut bibir nya.


"kau mau mengamcam ku?"


Tanya Ayu dengan gugup.


"iya, aku akan terus mengancam mu sampai kau menurut pada ku"


"duduk lah yang benar"


Sanggah Ayu mendorong tubuh Arga yang hampir berada di atas nya agar tegak lagi dengan duduk nya namun sama sekali tak bergeming.


"apa kamu takut?"


"takut? ... Kenapa aku harus takut, aku tidak melakukan kesalahan apa pun?"


"benar kau tidak takut?"


Senyum smirk Arga semakin tergambar jelas di sudut bibir nya.


wajah nya semakin mendekat ke wajah Ayu.


"aku tidak takut"


Jawab Ayu seraya menutup mata nya ketika wajah Arga hanya berjarak 2 centi dari wajah nya, bahkan hembusan nafas nya yang hangat dapat Ayu rasakan pada wajah nya.


"kenapa menutup mata mu? kamu menharapkan nya?"


Tanya Arga dengan senyum kemenangan di wajah nya.


"apa? ..... Jangan macam macam atau..."


"atau apa?"


Ayu semakin gugup karena jarak mereka hanya beberapa inci saja, bahkan mungkin detak jantung nya yang berkejar kejaran bisa terdengar oleh Arga.


"sudah hentikan"


Ayu segera mendorong dada Arga agar kembali ke posisi nya.


Bagaimana pun mereka adalah manusia dewasa yang normal dan sudah sah untuk melakukan apa pun yang seharus nya di lakukan suami istri pada umum nya.


Tapi mereka sudah sepakat untuk saling menjaga sampai masalah dengan Mitha selesai.


"aku lelah bisakah kau pijit kepala ku sebentar."


Minta Arga seraya merebah kan diri nya memposisikan kepala nya di pangkuan Ayu.


Angin yang berhembus semilir menambah indah suasana malam itu.


Indah dan romantis meski dalam benak mereka ada banyak masalah yang mengganjal. Masalah yang cukup pelik tentang hati dan persahabatan.


Entah bagaimana esok, yang jelas bagi mereka malam ini adalah malam yang indah dan tenang.....

__ADS_1


__ADS_2