
Setelah di rawat dan melakukan terapi 3 hari Ayu di perboleh kan pulang, namun masih harus sering ke rumah sakit untuk terapi dan kontrol, mengingat hari perkiraan kelahiran nya tinggal menghitung hari saja.
"ma, aku mau tinggal di sini bersama mbok Surti dan pak Eko saja, lagi pula Naya juga sudah sekolah di sini"
"Apa kamu yakin tak mau kembali ke rumah mu saja?"
"lagi pula aku masih harus sering sering terapi"
"bukan karena Arga kan?"
Ayu menatap bu Anya datar dan menggeleng pelan.
Setelah sadar dia memang selalu memikir kan Arga, tapi Arga sama sekali tak muncul, entah karena pekerjaan, atau karena alasan lain.
Tapi Ayu juga tak enak kalau harus menanyakan hal itu kepada mama mertua nya.
"bukan nya Arga tak mau datang menjenguk kamu, sebenar nya keinginan Arga melebihi keinginan mama untuk ketemu kamu, apalagi sekarang kamu sedang mengandung anak nya, tapi karena ada masalah dengan bisnis nya di luar negeri, dia sendiri yang harus menyelesai kan nya.
Tapi yakin lah, Arga akan segera datang ketika urusan nya selesai."
Mata bu Anya nampak berkaca kaca ketika mengatakan kebohongan tentang putra nya. Sedangkan diri nya sendiri tidak tahu apakah putra nya masih hidup atau tidak.
"mama kenapa sedih"
"mama tidak sedih, mama hanya khawatir kamu meragukan Arga."
Ayu diam menatap mata bu Anya mencari kebenaran atas ucapan nya.
"sudah lah, sekarang mama antar kamu pulang, mbok Surti dan pak Eko sudah mempersiap kan acara syukuran kecil kecil an untuk menyambut kamu"
"aku merepot kan mereka"
"jangan begitu, mereka sangat menyayangi mu, mereka menganggap kamu seperti anak mereka, jadi mereka sangat iklas melakukan semua ini untuk kamu."
Ayu tersenyum manis mendengar kata kata mama mertua nya.
"mama...."
"selamat datang ibu Ayu"
Naya, pak Eko dan mbok Surti sudah menyambut Ayu yang baru turun dari mobil.
Terdapat juga beberapa tetangga dekat yang ikut di sana, meski pun Ayu belum mengenal mereka, tapi mereka datang atas undangan dari pak Eko dan mbok Surti yang sudah mengenal mereka lebih dulu.
Syukuran kecil kecil an mereka adakan di rumah yang cukup luas dan mewah itu sebagai bentuk rasa syukur mereka atas sadar nya Ayu dari koma nya selama beberapa bulan.
Karena keramahan mereka, pak Eko dan mbok Surti cepat sekali akrab dengan para tetangga baru, bahkan Naya juga sudah terlihat akrab dengan anak anak kecil yang sebaya dengan nya.
"ma, aku mau rebahan di kamar dulu, masih sedikit pusing"
Pamit Ayu pada mama mertua nya, setelah selesai beramah tamah dan berkenalan dengan para tetangga.
"mama antar sayang"
"terima kasih"
"ma, boleh Ayu tanya sesuatu?"
setelah duduk di tepi ranjang, Ayu mencoba bertanya pada ibu mertua nya.
"iya, boleh, mau tanya apa?"
"apakah Arga dan ..."
Ayu tidak melanjut kan kata kata nya, sejak tersadar dari koma nya, entah mengapa pikiran nya selalu tertuju pada Arga.
Ibu Anya yang mendengar pertanyaan Ayu terkejut dan terdiam.
Bingung harus memgatakan apa.
"sayang..... Yang mama tahu, di hati Arga hanya ada kamu, Arga pasti akan memperjuang kan hubungan kalian"
__ADS_1
Ayu menunduk kan pandangan nya, merasa mertua nya sedang menyembunyi kan sesuatu, seraya mengusap punggung nya yang terasa pegal.
"kenapa, apa kamu merasa pinggang mu pegal? Apakah perut mu terasa mulas? Apakah sakit?"
Ibu Anya memberondong pertanyaan kepada Ayu, khawatir Ayu akan segera melahir kan.
"tidak ma, hanya pengen rebahan saja, capek"
"ya sudah, malam ini mama nginep di sini, khawatir sama kamu"
Ayu hanya tersenyum melihat ketulusan sang mertua, meski hati nya masih penuh tanda tanya tentang Arga.
🥀
🥀
🥀
🥀
Helikopter yang membawa rombongan Agus dan juga Arga yang terluka parah bukan mendarat di bandara, namun langsung menuju rumah sakit.
Rumah sakit yang berada di pinggiran kota itu termasuk rumah sakit elite yang mempunyai fasilitas lengkap, bahkan terdapat rooftop untuk landasan helikopter bila dalam keadaan darurat.
Sebelum sampai di rumah sakit Agus sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk mempersiap kan dokter dan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan atasan nya yang sedang terluka parah.
"dok, lakukan yang terbaik untuk atasan saya"
"baik pak Agus, kami akan melakukan yang terbaik, kami juga tahu siapa bapak Arga"
Kata dokter dengan sopan dan segan mengetahui kekuasaan yang di miliki keluarga Arga.
"tapi saya membutuh kan tanda tangan dari keluarga untuk melakukan tindakan"
"biar saya yang tanda tangan dok, karena keluarga bapak Arga sedang tidak ada di tempat, dan saya yang bertanggung jawab di Bali ini"
Setelah tanda tangan beberapa berkas persetujuan dari dokter, Agus segera menuju ke administrasi mengurus pembayaran dan sebagai nya.
Michell yang memantau kondisi Mitha yang masih sama kritis nya dengan Arga.
Dan ibu Anya yang menjaga Ayu, mengingat sebentar lagi Ayu akan melahirkan.
Bu Anya yang mendapat pesan dari Agus, menangis tak bersuara di dalam kamar nya.
Hati nya sangat sakit mendengar kabar putra nya yang di temukan tapi dalam keadaan kritis, tapi di sisi lain dia tak mungkin meninggal kan Ayu.
Apalagi seharian Ayu nampak gelisah dan terus memegangi pinggang nya.
Seperti nya Ayu akan segera melahir kan.
Bahkan seperti malam ini, Ayu terlihat tak tidur, mondar mandir dan terlihat gelisah.
'ya Tuhan, selamat kan putra ku, kuat kan dia, karena sebentar lagi putra nya akan segera lahir, dan maaf kan mama Arga, mama tak bisa menemani mu, mama tak mau membuat Ayu khawatir jika dia tahu kondisimu, dan mama tak mau cucu mama lahir tanpa seorang pun keluarga di sisi nya.'
Bisik hati bu Anya yang melihat kegelisahan Ayu dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.
"dok, bagaimana dengan pak Arga"
"luka pak Arga sangt parah, dan juga karena penangan yang terlambat, kami tidak bisa menjanjikan apa apa"
"maksud nya dok?"
"kami sudah berusaha, tapi kondisi pak Arga sangat lemah, dan masih kritis, bapak Arga mengalami koma"
Agus menelan saliva nya yang terasa sulit melewati tenggorokan nya.
Bagaimana dia harus menjelas kan pada bu Anya juga Ayu tentang kondisi Arga.
Pikiran nya sudah berkelana ke pada hala hal yang akan membuat menguras air mata.
"sementara bapak Arga akan berada di ruang ICU sampai pak Arga bisa melewati masa kritis nya."
__ADS_1
"lakukan yang terbaik dok"
Jawab Agus pelan, seperti pasrah dengan keadaan.
🥀
🥀
🥀
🥀
"Ayu mau kemana nak?"
Tanya bu Anya melihat Ayu berjalan pelan keluar dari kamar nya.
"Ayu mau ambil minum ma, haus"
"kamu duduk di sini saja, biar mama yang ambil kan"
Ibu Anya menuntun Ayu duduk di ruang keluarga dan segera mengambil kan segelas air putih untuk menantu nya.
"terima kasih ma"
"kamu kenapa belum tidur? Apa kamu merasakan sesuatu?"
"nggak apa apa ma, Aku hanya capek seharian berbaring"
"tapi ini sudah malam sayang, kamu harus istirahat"
"iya ma, Ayu hanya ingin jalan jalan sebentar, trus tidur lagi."
Ayu berusaha menutupi kegelisahan nya yang membuat nya tak bisa tidur.
Drt....drt....drt....
perbincangan hangat itu terhenti dengan bunyi getar ponsel bu Anya.
Ayu melihat jelas, bahwa Agus yang sedang menghubungi mertua nya.
Sementara bu Anya nampak gugup melihat panggilan dari Agus.
"ma, kenapa nggak di angkat? Dari Agus, mungkin penting"
"ah, bukan apa apa sayang, mungkin masalah kerjaan, besok saja"
Ayu melirik jam di dinding menunjuk kan pukul 1 dini hari.
Jika bukan hal penting tak mungkin Agus menghubungi mertua nya jam segini.
"angkat saja ma, siapa tahu penting"
Desak Ayu melihat gelagat mencurigakan pada perubahan raut wajah mertua nya.
"nggak papa sayang, besok saja, mama antar istirahat"
"ma....apa yang mama sembunyi kan?"
Ayu menatap lekat mertua nya yang masih terdiam tanpa niat mengangkat panggilan.
Dengan cepat Ayu mengambil ponsel mertua nya yang tergeletak di meja.
"Ayu ja_."
"halo ibu Anya..."
Ayu tak mendengar larangan mertua nya, segera menekan tombol hijau di ponsel mertua nya.
"saya mau memberikan kabar saya sudah berada di rumah sakit sekarang, tapi kondisi bos Arga sekarang lagi kritis kata dokter bos Arga koma."
Ayu mencoba mencerna kata kata Agus yang menceritakan perihal kondisi Arga, air mata sudah mengalir begitu saja di wajah cantik nya. Bibir nya seperti terkunci tak mampu mengatakan apa pun.
__ADS_1
Pikiran nya sudah memikir kan hal hal buruk telah terjadi pada Arga.