
"Arga...."
terdengar suara deru nafas yang tak beraturan bersamaan dengan mata yang terbuka memandang ke sekeliling dengan pandangan mata yang bingung.
"dokter...dokter...."
Seketika ruangan menjadi sibuk dengan banyak nya dokter dan suster yang hilir mudik.
"bagaimana dok?"
.
"sungguh keajaiban, di luar ilmu kedokteran, menantu ibu bisa sadar dari koma nya."
"alhamdulillah ya Alloh"
Air mata sudah tak terbendung lagi, membasahi pipi bersih wanita itu.
Berkali kali mengucap syukur.
"untuk pemulihan nya, ajak bicara hal hal yang ringan saja dulu. Dan kami akan melakukan cek fisik untuk organ organ tubuh yang lain."
"lakukan yang terbaik dok, pastikan yang terbaik untuk menantu saya."
"pasti bu, kalau begitu saya permisi"
Setelah dokter berlalu, ibu Anya segera kembali masuk ke ruangan dimana Ayu di rawat, wajah nya tampak pucat, sorot mata nya seperti bingung.
"sayang kamu sudah sadar?"
tak ada jawaban, hanya angguk kan kepala, setelah mengalami koma beberapa bulan, Ayu kesulitan untuk membuka rongga mulut nya.
Sadar tiba tiba, dengan memanggil nama Arga seperti orang yang baru mendapat kan mimpi buruk.
"apa kamu tadi mimpi buruk?"
Ibu Anya bertanya dengan mengusap lembut kepala menantu nya, melihat sorot mata nya yang ingin mengatakan sesuatu.
Dan lagi lagi Ayu hanya mengangguk, entah mengapa tiba tiba air mata keluar dari sudut mata nya.
"jangan takut sayang, itu hanya mimpi, mama ada disini, jangan khawatir?"
"A_ar_ga m_m_min_ta to_long"
Ayu mencoba mengatakan mimpi nya dengan terbata bata.
Rahang mulut nya terasa sulit untuk bergerak, bahkan bagian tubuh yang lain pun rasa nya juga kaku.
setelah berkata, Ayu kembali menangis tanpa suara.
Entah mengapa hati nya merasakan sedih yang sulit di jelas kan.
"jangan menangis sayang, semua baik baik saja, itu hanya mimpi buruk, dan sebentar lagi anak mu dan Arga akan lahir."
Mendengar kata kata bu Anya, Ayu semakin menangis, entah apa yang terjadi saat dia tertidur lama, hingga begitu membuka mata nama Arga yang keluar dari mulut nya.
Bu Anyya pun ikut menangis, merasakan apa yang di rasa kan Ayu. Apalagi kabar yang baru di terima nya dari Agus dan Michell mengenai pesawat yang membawa Arga dan Mitha.
Dia tak mampu mencerita kan hal itu pada menantu nya, mengingat Ayu baru saja sadar dari koma panjang nya dan dia juga dalam keadaan hamil besar.
"kasihan sekali kamu menantu ku, koma berbulan bulan, begitu sadar suami kamu entah dalam keadaan hidup atau mati"
Kata hati bu Anya.
Padahal dia sendiri sempat shok dan hampir pingsan saat menerima kabar dari Michell dan Agus mengenai itu.
Tapi dia tetap berusaha tenang dan tegar di depan menantu nya, karena bagaimana pun Ayu sedang mengandung anak Arga, cucu nya.
Dan sebentar lagi akan melahir kan.
🥀
__ADS_1
🥀
🥀
🥀
"bagaimana Gus?"
"berita terakhir yang di berikan pihak maskapai, pesawat hilang kontak saat berada di atas pulau sangat kecil tak berpenghuni, jadi kemungkinan pesawat terjatuh di pulau itu. Saya akan kesana membawa beberapa anak buah si bos untuk mencari nya."
"aku ikut Gus?"
"mbak Michell yakin? Medan nya bahaya mbak, hanya ada hutan dan pegunungan di pulau itu"
"it's oke, demi Ayu"
Atas perintah dari bu Anya, Agus membawa beberapa kru tim sar bayaran untuk mencari keberadaan Arga, meskipun pihak maskapai dan pemerintah telah turun tangan, tapi menurut bu Anya mereka sangat lamban dan hanya terlalu banyak berkoar di media.
"tolong temukan putri kami"
"saya mohon, bawa putri saya kembali."
Dua orang paruh baya, tiba tiba datang dan memohon pada Agus seraya menagis.
Pak Slamet dan bu Marni tiba tiba sudah berada di bandara untuk mencari tahu tentang kejadian yang menimpa putri semata wayang nya.
"kami akan berusaha pak, bagaimana pun saya akan mencari atasan saya, juga putri bapak."
jawab Agus yang tak tega melihat dua orang paruh baya itu menangis.
Tim Agus bergerak menggunakan Helikopter pribadi milik keluarga Arga.
Dua helikopter sekaligus di kerah kan menuju pulau terpencil tak berpenghuni itu.
🥀
🥀
🥀
🥀
"semoga cepat sembuh bu Ayu, kami sudah tak sabar menunggu bu Ayu pulang dan berkumpul lagi seperti dulu."
mbok Surti dan pak Eko yang mendengar Ayu sudah sadar tak henti henti nya mengucap syukur.
Mata nya pun berkaca kaca mengingat sebuah keajaiban yang terjadi.
Sementara Ayu hanya bisa memandang dengan tatapan haru.
"mama, Naya kangen...."
Gadis cilik berwajah bule itu memeluk mama nya yang masih terbaring lemah di ranjang, jangan kan membalas pelukan nya, untuk menggerak kan badan nya, seperti nya sangat sulit.
"selamat siang ibu Anya!"
"siang dokter"
"saat nya kami melakukan pemeriksaan pada kondisi fisik bu Ayu, dan melakukan terapi untuk organ organ seperti tangan, kaki, dan sendi sendi yang lain."
"oh, iya dokter, lakukan yang terbaik untuk menantu saya."
Beberapa perawat membawa Ayu untuk di periksa dan melakukan beberapa terapi kecil.
Sebenar nya ada banyak hal yang ingin Ayu tanya kan, tapi terhalang kondisi fisik nya, jangan kan untuk bicara, membuka mulut nya pun rasa nya sangat sulit.
"tolong ada yang mendampingi selama pemeriksaan dan proses terapi"
"biar saya saja dok"
Ibu Anya mengikuti dokter dan suster meninggal kan mbok Surti, pak Eko dan Naya.
__ADS_1
Meskipun hati nya sedang tidak baik baik saja memikir kan putra semata wayang nya yang entah bagaimana keadaan nya, masih hidup atau sudah mati, namun bu Anya tetap mencoba bersikap baik baik saja.
Demi kesembuhan Ayu dan calon cucu nya.
🥀
🥀
🥀
🥀
dari kejauhan terlihat asap putih yang mengepul dari arah pulau, ternyata itu berasal dari pesawat yang terjatuh di atas gunung dan di tengah hutan belantara.
Untuk mencapai lokasi, ternyata sangat butuh perjuangan, mereka harus melakukan terjun dari helikopter, karena tak ada tempat yang datar untuk mendarat kan helikopter itu.
Dan di sana ada beberapa tim sar dari maskapai dan pemerintah yang mengevakuasi beberapa korban selamat.
"bagaimana Gus?"
"sebagian korban tak bisa di identifikasi mba, saya mau lihat korban selamat dulu"
Mereka berjalan ke arah tenda darurat tempat merawat korban selamat yang di temukan berjumlah 5 orang.
2 laki laki dan 3 perempuan.
Semua nya dalam kondisi luka lumayan parah.
Tim dokter yang tergabung dalam tim sar terlihat sangat sibuk menangani para korban selamat dengan luka yang cukup parah.
"dokter!"
"pak Agus, anda sudah sampai di sini?"
"bagaimana dengan korban selamat?"
"kami baru menemukan 5 orang, dan tidak ada bapak Arga di antara mereka"
Dada Agus menjadi terasa sesak mengetahui atasan nya yang tidak ada di antara korban selamat.
"itu Mitha Gus?"
"iya benar mbak"
"kalian kenal dengan nya?"
"iya dok, itu saudara pak Arga"
Agus melihat Mitha yang menjadi salah satu korban selamat namun tubuh nya penuh dengan luka luka.
"mbak Michell bantu Mitha di sini, biar saya ke lokasi membantu tim sar, sekalian mencari si bos"
"oke Gus, hati hati, temukan Arga secepat nya"
"kalau memungkin kan, bawa Mitha segera agar bisa cepat mendapat perawatan"
Agus memberi saran pada Michell untuk segera membawa Mitha dengan helikopter karena melihat luka yang di alami Mitha cukup parah.
"iya, aku akan bawa segera, tapi berjanji lah kamu akan bawa Arga pulang demi Ayu."
"saya akan berusaha mbak"
Agus beserta tim yang di bawa nya segera berlari ke arah bangkai pesawat yang berserakan dan ada beberapa bagian yang masih terbakar.
Hati nya terasa miris melihat kondisi pesawat yang seperti itu, sangat kecil kemungkinan selamat.
Bahkan ada beberapa korban yang di temukan dalam keadaan hangus tak bisa di identifikasi.
'*bos, dimana bos..... Jangan biar kan mbak Ayu membesar kan anak nya sendiri bos, meskipun terkadang sangat menyebal kan tapi saya nggak pernah menyesal kerja sama bos.... Ayolah bos, beri petunjuk..... Kasihan mbak Ayu*.'
Bisik hati Agus yang melihat pemandangan mengerikan di sekitar nya.
__ADS_1