
"pokoknya aku ga mau mobil itu di jual"
Teriak Siska di dalam kamarnya sampai terdengar ke ruang tengah
"apa kamu mau suamimu di penjara"
"bukankah itu ada toleransi nya mas, kamu harus ngurus cabang di Boyolali...ya udah kamu urus aja"
Masih dengan nada teriak, terdengar suara pertengkaran Siska dan Novan
"apa kamu ga baca Sis, aku di beri waktu hanya satu minggu, ..... Hanya satu minggu...apa kamu pikir bisa buat perusahaan yang hampir bangkrut kembali berkembang dalam waktu satu minggu"
Suara Novan terdengar sama teriaknya
"kalau mas mau jual mobilmu jual saja mas, tapi aku tidak mau mobil baru ku di jual....titik"
"kamu jangan egois Siska , dalam kasus ini bukan hanya aku yang terseret tapi papah kamu juga...kamu mau kita semua di penjara dan jadi gembel"
Sementara di luar tampak Novia yang gelisah mendengar pertengkaran kakak nya, Novia meremas jari jarinya, mimik muka nya terlihat sangat bingung
" pokok nya aku ndak mau mas ..sampai kapanpun...kamu harus coba dulu, masa langsung nyerah"
Lanjut Siska seraya keluar kamar di ikuti suaminya dari belakang
"kamu tidak memikirkan nasib aku juga papah kamu Siska?"
Novan masih mengikuti Siska membujuk memberi pengertian agar mau menjual mobil barunya
"lagipula mas, mobil itu di jual juga belum cukup kan buat ganti uang perusahaan"
Novan mengacak acak rambutnya sendiri menghadapi istrinya yang keras kepala
"kenapa sih begitu saja kamu sudah nyerah mas, kamu tunjukin dong bahwa kamu itu punya kemampuan"
Siska kembali berkata dengan sedikit melunak, Novan terdiam memikirkan kata kata Siska
"iya mas, sebaiknya mas Novan coba dulu, mas harus tunjukin pada Ayu, bahwa mas Novan itu orang yang hebat."
Novia ikut angkat bicara, membantu meyakinkan Novan kakaknya
Novan mengangguk angguk memikirkan perkataan Siska dan Novia, dia tidak boleh terlihat memalukan di depan Ayu, dia harus membuat Ayu tidak bisa menindasnya lagi...
"iya, aku akan coba....."
Meski ada sedikit pesimis di wajah, Novan bertekad mencobanya
"mas...aku...besok ...harus bayar uang semesteran"
Novia berkata lirih, meminta uang kuliahnya karena biasanya selama ini Ayu lah yang memberi pada Novia, meskipun uang itu juga dari Novan, tapi Ayu mengorbankan uang belanja bulanan untuk kuliahnya
"kamu ini, kakak mu ini terancam di pecat dan di penjara...kamu cari kerja, magang mangang sana.....atau kamu ambil cuty kuliah dulu.."
"tapi mas"
__ADS_1
Belum sempat menyanggah Novan sudah berlalu dengan muka kusut, ia segera membereskan perlengkapan yang akan di bawanya untuk tugasnya di Boyolali selama seminggu
Sementara Siska tak mau tau urusan biaya kuliah Novia, dia juga berlalu begitu saja meninggalkan Novia yang berkaca kaca karena terancam tak lulus kuliah
Beda sekali dengan Ayu yang selama ini sangat mendahulukan pendidikan Novia dari pada kebutuhan nya sendiri
Siska bahkan tak pernah mengurus pekerjaan rumah tangga selama jadi istri Novan, setelah pulang kerja dia akan sibuk mengurus dirinya sendiri, mempercantik diri, tak menghiraukan kondisi rumah seperti apa
"besok mas Novan mampir kantor dulu?"
Tanya Siska melihat Novan beberes barang yang akan di bawanya besok
"tidak aku males melihat wajah sombong Ayu"
"mas.....apa sebaiknya aku risain ya?"
" ndak bisa Sis, semua karyawan tidak ada yang boleh resain sebelum masalh dana ini selesai, apalagi kamu, istriku"
Jawab Novan membuat Siska mengeryitkan keningnya
"selama tak ada aku, kamu di kantor deket deket terus sama papah, dan jangan cari masalah sama Ayu"
Suasana di kantor sangat tenang, seperti tak ada aktifitas, hanya terlihat beberapa yang hilir mudik di koridor
Semua kembali normal setelah pemindah tugasan Novan
"Mit, hari ini ada jadwal meeting?"
"ada Yuk, jam 11 siang, klien dari Bali, tempat di Joglo resto"
"itu saja"
Mita mengangguk dan kembali mempersiapkan bahan meeting siang nanti.
pukul 10.30 dengan di antar Edo, aku dan Mita berangkat ke tempat yang di pilih untuk meeting hari ini, tempatnya lumayan jauh, butuh waktu 30 menit untuk kesana itupun kalau tidak macet
Suasana kantor yang tenang, hening, justru terlihat aneh bagiku...entahlah atau karena aku yang sudah terlanjur asik membuat permainan dengan mantan suamiku hingga aku merasa aneh saat kantor terasa sepi dan tenang...rasanya ada yang kurang....
"kuharap meeting nanti berjalan cepat"
Kataku pada diriku sendiri
"kenapa Yuk, meeting sama tunangan sendiri malah mau buru buru"
Mita menjawab geruruku dengan datar, mukanya sangat datar dan tanpa ekspresi, tidak seperti biasanya
"aku males Mit, ketemu Arga"
Jawabku singkat......
Saat meeting pun suasana berjalan seperti meeting formal pada umumnya, tak ada pembahasan selain masalah kerja, Arga datang dengan sekretaris nya, tapi kali ini bukan yang dulu bersamanya di Bali, kali ini sekretaris nya kelihatan seperti sekretaris pada umum nya, kami berempat hanya membahas kontrak kerja yang akan kami tandatangani bersama, saat makan pun tak ada obrolan menarik
Benar benar seperti meeting formal
__ADS_1
Selesai pun kami langsung kembali ke kantor masing masing, tanpa ada pembahasan selain masalah pekerjaan, Mita juga terlihat lebih banyak diam, lebih banyak menyimak dari pada memberi saran atau masukan
Benar benar meeting yang membosankan
Entahlah baru beberapa hari kerja aku sudah merasa bosan, aku sangat menyukai tantangan dan sesuatu yang unik juga berbau tradisional jadi berada di kantor setiap hari dengan tumpukan kertas di atas meja bagiku sangat membosankan
Di kantor pun suasananya sangat monoton, begitu begitu saja setiap harinya
"Yuk, kamu blm mau pulang?"
Tanya Mita yang sudah bersiap untuk pulang karena memang sudah pukul 16.00 sudah waktunya jam pulang kantor
"oh, sebentar lagi, kamu pulang duluan aja"
Mita hanya mengangguk segera bergegas turun untuk pulang, kelihatan dia sangat tergesa gesa, mungkin dia ada janji dengan seseorang...pacarnya kali...entahlah selama ini aku belum pernah melihat pacarnya....tapi masa sih seorang Mita yang cantik, ramah dan sudah mandiri belum punya pacar
Meskipun dia tidak dari keluarga yang kaya raya, Mita orangnya sangat cantik body nya juga sexy ....sangat tidak mungkin jika dia belum punya pacar...
Masih ku pandangi layar laptop dan tumpukan kertas di mejaku, ku hela nafas dalam, aku merasa seperti kehilangan diriku sendiri, bekerja di belakang meja sama sekali bukan cita citaku, aku lebih suka kerja lapangan dimana aku bisa ber ekspresi, tidak monoton terkurung dalam ruangan seperti ini, tapi tak mungkin juga aku menolak perintah ayah setelah 5 tahun aku durhaka padanya
Tapi rasanya hidupku sepi, kosong dan entah kapan itu, aku juga harus menikah dengan laki laki yang tidak mencintaiku, belum jelas waktunya tapi itu pasti....
Kenapa jalan hidupku seperti ini....
Aku bisa apa, selain menurut dan menerima keputusan ayah, kadang suka iri melihat bawahanku meskipun mereka tidak kaya tapi mereka memiliki kehidupan yang bahagia dengan orang yang di cintai, mereka bisa menentukan pilihan mereka sendiri
Ah....tak ada gunanya aku menggerutu, mau protes tentang jalan hidupku pun, protes nya pada siapa...pada Tuhan???
Rasanya aku ingin segera pulang dan bercerita pada terataiku.....
Besok genap satu minggu penempatan Novan di boyolali, Info dari Edo yang aku tugaskan untuk mengamati perusahaan di sana menunjukkan perusahaan di Boyolali ada sedikit kenaikan tapi hanya sedikit jauh di banding dengan jumlah yang telah di gelapkan nya, itu artinya Novan gagal, di kantor Siska dan pak Suryo sudah terlihat cemas dan sedikit lemas, sepertinya mereka memikirkan penarikan aset pribadi yang akan di lakukan kantor dan penurunan jabatan, bukan hanya Novan tapi juga pak Suryo
"surat surat untuk besok sudah siap Yuk"
Mita menyerahkan berkas berkas untuk penarikan aset pribadi dan juga penurunan jabatan, banyak karyawan yang sudah menggunjingkan hal ini, pastinya itu akan membuat tekanan batin untuk seorang perempuan yang sedang hamil muda seperti Siska
Sebenarnya aku sedikit kasihan padanya, wajahnya terlihat sedikit pucat meski sudah di balut dengan make up yang lumayan tebal
"oh iya, kamu taruh di mejaku"
Drtttt...drttt..... Suara getar hp ku berbunyi agak keras
" halo buk...iya...Ayu pulang sekarang...."
"kenapa Yuk, ada masalah"
Tanya Mita mendengar pembicaraanku di telfon dengan ibu yang menyuruh ku pulang segera
"ayah ku jantungnya kumat Mit, tapi ndak mau di bawa ke rumah sakit...sementara kamu handle semuanya yah...juga tentang surat surat Novan, semua sudah ku tandatangani"
"iya Yuk, semoga pak Rahardjo cepat sehat"
"Aamiiin, makasih doa nya aku pulang dulu."
__ADS_1
Buru buru aku meninggalkan kantor, untuk pulang....