
Tiga minggu sudah berlalu, kini Arga sudah benar benar pulih seperti semula dan tak perlu lagi mengkonsumsi obat obatan seperti sebelum nya.
Keluarga nya di Jogja melakukan syukuran kecil kecilan di sana karena tak mungkin untuk melakukan acara itu di rumah yang di tinggali Arga dan Ayu sekarang. Karena bu Anya sendiri, masih harus di Jogja menemani suami nya yang kesehatan nya menurun.
Bahkan untuk urusan pekerjaan pun Arga masih harus bekerja di balik layar, seperti hal nya yang di lakukan Ayu.
"besok aku akan kembali dan menyelesaikan semua nya"
hening tak ada suara, hanya kedua mata mereka saling menatap penuh arti.
Ayu mengangguk pelan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"aku akan selesaikan semua ini, agar bisa tenang"
Arga menatap lekat netra Ayu yang sama sekali tak bereaksi.
"kamu percaya padaku ?"
Ayu menarik nafas panjang dan menghembus kan perlahan kemudian lagi lagi hanya mengangguk.
"katakan sesuatu, jangan diam saja"
Arga menggenggam jemari Ayu lembut, seolah olah sedang berusaha meyakin kan wanita nya.
"aku.... Aku tidak tahu."
Jawab Ayu kemudian.
"aku tidak mau dia melakukan hal hal yang gila, dia sudah mengancam Agus akan mencelakai Naya, dia tahu keberadaanmu"
Arga menarik nafas nya dalam sebelum melanjutkan kata kata nya.
"aku hanya minta kau percaya padaku, .... Cukup kamu percaya padaku, itu sangat berarti bagiku."
Ayu menatap kedua mata Arga yang penuh pengharapan.
lalu mengangguk
"I'll try to believe"
"terima kasih."
Arga mengecup kening Ayu dengan dalam dan lama, menggambar kan betapa dalam nya rasa yang di miliki nya, meski dia tahu kalau Ayu masih sedikit dingin pada nya.
"malam ini..... Bisakah kau tidur di kamar kita, biarkan Bryatta sama suster, malam ini saja, aku ingin tidur dengan memelukmu.... Jangan khawatir, aku tak akan memaksa sampai kau siap bersamaku."
Arga sedikit meregangkan pelukan nya untuk bisa menatap wajah cantik istri nya.
"aku..."
"malam ini saja, besok aku akan pergi dan entah berapa hari aku bisa kesini lagi."
"aku..."
"kumohon.... Aku janji hanya memelukmu"
Akhirnya Ayu hanya mengangguk pasrah.
"tapi, bagaimana kalau nanti kamu pergi Bryatta rewel"
"itu.....itu....kalau begitu dia ku bawa saja"
Jawab Arga enteng yang langsung mendapat cubitan di pinggang nya.
"ish.... Apa kamu yang mau menyusui nya..... Atau jangan jangan kamu mau carikan ibu baru, makanya mau membawa dia bersamamu."
Ayu memicingkan sebelah matanya curiga. Yang langsung disentil kening nya oleh Arga.
"auhhhh sakit....."
"jangan mikir kejauhan..... Kalau Bryatta aku bawa itu artinya kamu juga ikut dengan ku."
__ADS_1
Arga beedecak kesal, meski dia tahu Ayu hanya bercanda dengan kata kata nya, tatap saja itu membuat nya kesal, nyatanya wanita itu masih belum bisa percaya padanya.
"sudah lah, aku mau ke kamar Bryatta"
Kata Ayu dengan bibir manyun.
Sebelum sempat berlalu Arga sudang memegang pergelangan Ayu.
"jangan ke kamar Bryatta.... malam ini bersamaku saja"
"tidak mau, nanti Bryatta rewel mencariku."
"sejak kapan Bryatta rewel mencarimu.
Yang dia cari aku kalau rewel."
Sekali lagi Ayu berdecak kesal, karena memang perkataan Arga adalah benar.
Setiap kali bayi itu rewel pasti akan langsung diam bila di dekat kan dengan Arga.
Benar benar mengesalkan, bapak dan anak sama sama menjengkelkan.
Tanpa menunggu lagi, Arga langsung menggendong tubuh kecil Ayu seperti brydal style dan membawa nya ke kamar.
"turun kan aku, apa yang kamu lakukan"
"jangan banyak bergerak, kamu tahu kan aku baru sembuh, nanti jatuh, diam dan menurut lah."
Ayu terdiam seperti baru teringat bahwa Arga memang baru saja sembuh dari komanya meski pun dokter mengatakan dia sudah benar benar pulih.
Arga menurunkan pelan tubuh istri nya di atas ranjang ukuran king size, lalu menarik selimut dan memeluknya dari belakang.
"seperti ini saja"
Bisik nya tepat di telinga Ayu. Nafasnya yang hangat sangat terasa di pundak dan tengkuk Ayu.
Menghirup dalam arama tubuh istri nya yang membuat nya tenang.
Bagaimana pun mereka adalah dua orang yang normal dan tak mungkin tidak merasakan sesuatu saat kulit mereka saling bersentuhan dan begitu intim seperti itu.
Ayu bisa merasakan detak jantung Arga dengan jelas karena dada bidang itu menempel sempurna di punggung nya sedang tangan kekar nya melingkar posesif di perut nya, terasa hangat dan nyaman.
Entah lah dia bisa tidur atau tidak dengan posisi yang seperti itu, dengan kondisi jantung yang berdetak tak beraturan.
"jangan banyak bergerak."
Arga semakin merapatkan tubuh Ayu ketika wanita itu terus bergerak sedikit meronta.
"aku tidak nyaman dengan posisi seperti ini"
Jawab Ayu berbohong karena nyatanya dia merasa sangat nyaman.
"diam saja, jika kamu terus bergerak kamu akan membangun kan yang di bawah sana.."
Glekk...
Ayu menelan saliva nya kasar mendengar jawaban Arga.
Lalu menuruti keinginan nya untuk diam tak bergerak lagi dan mencoba memejam kan mata nya, meski isi otak nya sudah oleng.
🥀
🥀
🥀
"pesenku bos, jangan panik dan jangan emosi."
Senyum kaku dan sedikit di buat buat tersungging di bibir Agus.
"aku jadi curiga."
__ADS_1
Seketika senyum nya langsung menghilang berganti dengan pelototan mata.
"curiga!!!
Apa yang kamu curigai??
Kamu curiga aku korupsi??"
"ckkkk..."
Arga menonyor kening Agus.
"aku curiga kamu melakukan sesuatu yang akan membuat ku marah....
Awas kalau sampai seperti itu.... Aku patah kan lehermu."
Glekkk...
Aku berusaha menelan saliva nya yang terasa sangat sulit, membayang kan ancaman Arga dan memegang lehernya seolah olah lehernya benar benar akan di tebas oleh atasan nya.
Setelah sedikit perdebatan konyol itu, mereka berjalan berdampingan memasuki perusahaan yang di sambut oleh banyak karyawan.
Ada yang menangis, ada yang bergembira karena atasan mereka yang selalu menjadi idola akhirnya kembali dengan selamat dan masih tetap tampan.
"Arga."
Pekik seorang perempuan lalu menghambur memeluk nya tanpa mempedulikan ada beberapa pasang mata yang melihat.
"apa yang kamu lakukan di sini?"
Hardik Arga seraya melepaskan pelukan meski mendapat penolakan dari perempuan itu.
"aku merindukan mu, benar benar rindu...
Aku tahu kamu selamat dalam kecelakaan itu, dan aku selalu menunggu mu..."
Katanya semakin memgerat kan pelukan membuat Arga mau tak mau melepaskan tangan nya dengan sedikit kasar.
"auh... Sakit.... Kenapa kamu kasar pada ku Ga?"
"aku tanya, apa yang kamu lakukan di sini, jangan membuat ulah di perusahaan ku."
"aku tidak membuat ulah"
"lalu apa yang kamu lakukan disini, pulang lah"
"aku bekerja di sini."
Arga mengerut kan kening nya, mendengar Mitha telah bekerja di perusahaan nya, melirik sekilas pada Agus yang terlihat memalingkan pandangannya.
"bekerja"
"iya Ga, aku bekerja sebagai sekretaris kamu"
Jawab nya dengan mata yang berbinar
"APA"
Arga melotot mendengar Mitha adalah sekretaris nya.
"AGUS"
Gumam nya penuh penekanan dengan rahang yang mengeras.
Inilah yang di maksud Agus ' jangan emosi '
Ternyata dia memang membuat ulah.
"aku pastikan akan ada yang patah"
Kata Arga pada Agus, pelan, tajam dan dengan senyuman, tapi senyum yang terlihat sangat mengerikan di mata Agus.
__ADS_1