teratai

teratai
Bunuh aku


__ADS_3

Sementara di sebuah rumah besar megah bernuansa modern dengan sedikit sentuhan klasik seluruh penghuni nya di buat bingung dan cemas lantaran seorang perempuan yang tak mampu menahan emosi nya hingga histeris dan hampir menghabisi nyawa nya sendiri dengan memutus urat nadi di pergelangan tangan nya.


Bu Marni yang melihat sendiri darah menggenangi kamar mandi putri nya menjadi histeris.


apalagi melihat tubuh putri nya yang terkulai lemas di lantai kamar mandi.


Membuat semua penghuni rumah panik seketika.


Dokter pribadi yang di panggil bu Anya tak sjo ampai 15 menit sudah sampai di rumah dan segera melakukan pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan di urat nadi Mitha.


Wajah Mitha terlihat pucat pasi dan tubuh nya dingin.


"bagaimana keadaan putri saya dok?"


Tanya pak Slamet dengan wajah cemas, sementara ibu Marni tak berhenti menangis.


"alhamdulillah semua tepat waktu, jadi semua akan baik baik saja"


Bu Anya menghela nafas lega mendengar dokter berkata baik, karena yang di khawatir kan adalah Arga.


Pasti Arga yang harus menanggung semua nya bila sampai terjadi hal yang tidak di ingin kan pada Mitha.


"ibu Anya, seperti nya kita harus bicara."


Pak Slamet mengajak ibu Anya ke ruang tengah untuk berbicara, raut wajah nya terlihat sangat serius.


"saya sebagai orang tua Mitha, ingin meminta kepada ibu selaku orang tua nak Arga, agar bisa memberi kepastian kepada putri saya. ibu sudah lihat sendiri bagaimana keadaan Mitha. Dan itu semua adalah karena putra ibu penyebab nya"


Meskipun hanya orang desa, pak Slamet termasuk orang yang tegas.


"maaf pak, bukan nya saya tidak mau, tapi saya tidak bisa memutus kan sesuatu tanpa persetujuan Arga."


"ibu adalah ibu nya Arga, setidak nya bisa memberi perintah kepada putra ibu, saya merasa Arga telah mempermain kan putri saya, apakah ibu pernah merasa bagaimana perasaan saya ketika putri saya harus berada di rumah sakit jiwa.... Dan itu karena putra ibu."


"saya....saya...mmmm, saya sudah hubungi Arga, seperti nya dia sedang menuju kesini."


Ibu Anya terlihat sangat gugup, bahkan terbata bata menjawab pak Slamet yang begitu tegas.


"saya minta ketegasan ibu sebagai otang tua Arga agar segera mengambil keputusan, saya tidak mau jika seperti ini terus, dan umur saya juga semakin tua, saya menghawatirkan nasib anak saya kedepan nya kelak."


Ibu Anya hanya terdiam, apa yang di ucap kan pak Slamet memang benar adanya, tapi dia sendiri tak mungkin bisa untuk memaksa Arga, dia tahu betul sifat putra nya.


Keadaan di rumah itu sangat canggung dari pagi hingga siang hari.


"ma..."


"untung kamu datang, mama mau bicara"


Bu Anya langsung menyeret lengan Arga masuk ke kamar nya, ketika melihat putra nya sudah datang.


"ada apa ini ma? Mama baik baik saja?"


Melihat wajah mama nya yang khawatir, pikiran Arga cemas.


"mama baik baik saja, tapi tidak dengan yang lain."

__ADS_1


Arga menatap mama nya datar, mencoba bersikap tenang, meski dia yakin pasti ada suatu hal yang terjadi.


Bu Anya mencerita kan semua kejadian yang terjadi pada Mitha pagi tadi, juga mengenai percakapan nya dengan pak Slamet.


"mama tahu ini sangat berat untuk mu, tapi mama mohon, lakukan sesuatu"


"sesuatu?"


"mama tak tahu apa itu, tapi..... Semua yang di kata kan pak Slamet benar, tak mungkin ada orang tua yang akan tega melihat anak nya seperti itu."


"menurut mama, Arga harus bagaimana?"


"mama ..... Juga tak tahu"


Bu Anya mengangkat kedua bahu nya, karena sebenar nya dia sendiri juga bingung harus bagaimana menanggapi masalah ini.


"setidak nya, lakukan lah sebagai seorang laki laki sejati."


"mama memintaku menikah dengan Mitha?"


"mama_...."


Bu Anya terdiam, merasa pikiran nya buntu.


"mama tahu kan perasaan aku? Bagaimana kalau aku tak bisa membahagiakan Mitha dan justru semakin menyakiti nya?"


Kedua nya terdiam, hening.


Tiba tiba seseorang masuk ke dalam kamar yang memang pintu nya agak terbuka sedikit itu.


Laki laki paruh baya itu masuk dengan amarah di mata nya.


"maaf kan saya.."


Arga berkata lirih.


"bukan begitu maksud putra saya pak, kita bisa bicarakan ini baik baik, pasti semua akan ada jalan keluar nya"


Bu Anya mencoba menenang kan suasana yang terasa panas.


"jalan keluar yang terbaik buat kalian, tapi tidak buat kami."


Lagi lagi kata kata sederhana pak Slamet cukup menusuk sampai ke dalam hati.


"baik untuk semua nya pak, saya akan berusaha semua nya tak ada yang di rugi kan"


"kami bukan hanya rugi, tapi kami sudah jelas kehilangan semua nya."


Bu Anya menelan saliva nya yang seperti tersangkut di kerongkongan nya.


"maaf kan saya.... Saya akan memberi kan semua nya untuk keluarga bapak"


"aku tidak mau semua harta kamu, aku hanya ingin kamu mempertanggung jawab kan semua perbuatan mu. Putri ku menjadi begini juga karena kamu"


Pak Slamet yang emosi menunjuk Arga dengan mata yang sudah memerah menahan Amarah.

__ADS_1


"sabar pak, jangan terbawa emosi, kita bicarakan semua ini baik baik."


"jika saja dengan bicara baik baik, pasti sudah dari dulu masalah ini selesai."


"saya mohon bapak tenang dulu, putra saya pasti akan_ "


"ma!"


Arga membentak mama nya sebelum sempat berkata jauh.


Bu Anya sangat terkejut dengan spontanitas Arga yang meneriaki nya.


Belum pernah Arga sekasar itu.


"Arga, mama mohon kali ini saja_"


Bu Anya memohon pada putra nya karena situasi yang sudah memanas.


"Arga akan mencari jalan keluar nya, Arga akan mengobati Mitha ke luar negeri"


"anak bapak sudah sembuh, dia hanya butuh dukungan mental dari kamu, seharus nya bapak membenci kamu, karena semua ini terjadi karena kamu lah penyebab nya, tapi demi Mitha, bapak melupakan rasa benci bapak kepada mu"


Bu Anya mulai menitik kan air mata, mendengar pertikaian putra nya dengan pak Slamet.


Dia tahu perasaan Arga hanya untuk Ayu, tapi karena kesalahan di masa lalu Arga seperti terpojok, dan saat ini Ayu sedang mengandung anak Arga, calon cucu nya, meskipun belum di ketahui keberadaan Ayu sekarang.


"Arga...mama mohon.... Kali ini saja nak"


Bu Anya memohon dengan penuh harap kepad putra nya, tangis nya tak lagi bisa di bendung nya.


"mama mohon Ga.... Demi mama"


Lanjut nya dengan suara terisak.


"bunuh saja Arga ma"


Bu Anya terhenyak mendengar jawaban putra nya.


Mata Arga memerah menahan air mata yang hampir jatuh, tangan dan tubuh nya gemetar.


Entah lah kata kata itu keluar begitu saja dari mulut nya.


"Arga..."


seorang perempuan dengan wajah pucat dan tubuh lemah, masuk dan memeluk Arga.Tersungging sebuah senyum di wajah pucat nya.


Arga hanya diam mematung tak bisa berkata apa apa.


"kamu pulang? Aku sakit"


"istirahat lah, aku antar ke kamar mu"


Arga melepaskan pelukan Mitha dan menuntun nya kembali ke kamar nya.


Tak ada ekspresi sama sekali di wajah nya.

__ADS_1


__ADS_2