
Mikasa mencoba menggeleng perlahan sembari mengerang menahan rasa sakit. Denyutan dikepalanya terasa menghujamnya dengan ribuan pisau, mengoyak kesadarannya. Disentuhnya tempat yang nyeri, sebuah perban sudah terpasang dan melilit kepalanya. “Sialan! Kepalaku rasanya sakit sekali, apa aku gegar otak,” runtuknya setengah menggeram dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. ‘Ah,pria-pria sialan itu! Mereka hampir saja membunuhku.’
Rania mengerjap, napasnya turun naik dengan cepat bersamaan senyuman manis yang terukir di bibirnya. “Apa kepalamu sangat sakit?” tanyanya lembut sembari membelai wajah gadis cantik tersebut. Lalu, tiba-tiba rasa penasarannya tidak lagi terbendung membuatnya mengatakan hal lain. “Marisa?”
“Kamu bicara apa?” Mikasa bingung. Ia mendongak, membuka matanya penuh untuk melihat secara seksama siapa orang yang sedang bicara padanya. “Namaku Mika,” ujarnya.
“K-kamu jelas-jelas Marisa? Jangan bermain bodoh denganku! Kakak sangat merindukanmu,” tuturnya seraya ingin memeluk.
Mikasa masih menggeleng, menghindar dari gerakan tersebut. “Aku Mikasa. Siapa Marisa? Mungkin kamu salah orang,” sahutnya pasti. Tak lama, mata Mikasa berpendar melihat sekeliling ruangan. “Bisa beritahu, ini di rumah sakit mana?” lanjutnya memastikan keberadaan dirinya.
Rania berpikir keras, mencoba menahan diri dengan sabar menjawab pertanyaan tersebut. “Ini Rumah sakit Kasih, Kamu terbentur sampai pingsan tadi. Aku juga yang membawamu kemari.”
Mikasa terdiam sesaat sebelum akhirnya bibirnya kembali bersuara dan berucap terima kasih. Otaknya berhenti berputar, tidak tahu apalagi yang perlu diucapkan karena yang dibutuhkannya sekarang hanyalah seorang Dokter untuk memastikan jika kepalanya baik-baik saja dan tidak sampai terluka parah. ”Bisakah kamu memanggilkan Dokter atau suster, … atau siapapunlah?” tanyanya pada wanita di depannya yang entah siapa.
“Kau sungguh bukan Marisa?” tanyanya penasaran sekaligus memastikan jika, orang di depannya memang bukanlah adik kandungnya yang hilang tiga bulan lalu, entah pergi ke mana.
“Aku bukan,” jawab Mikasa cepat, dia agak bosan dengan pertanyaan berulang ini. “Apa aku ini seperti orang yang kamu cari,hm?”
Ada kilat duka di mata Rania, menundukan kepala seolah penuh penyesalan tetapi, sesaat setelahnya wajahnya mendongak penuh perburuan. “Ya, sangat persis, Bagai pinang dibelah dua. Kalian seperti anak kembar,” ujarnya.
Tidak ada yang bisa Mikasa tanggapi, lagipula ia tidak yakin ada orang yang sama persis sepertinya. ‘Tidak mungkin, bukan? Jika benar kenapa ibuku tidak memberitahuku jika aku punya kembaran atau … entahlah,,’ujarnya dalam hati dengan enggan. Pikirannya saat ini terlalu berat untuk memikirkan hal tersebut.
Tetapi, Rania tidak membiarkannya bisa lepas dari topik ini. Sebelumnya ia sudah berpikir keras dalam hal kemungkinan terburuk jika, memang gadis di depannya bukan adiknya atau … dia memang adiknya namun, kehilangan ingatan. “Kamu sungguh bukan Marisa?”
__ADS_1
“Sungguh bukan.”
“Kalau begitu jadilah Marisa untuk kami,” ucap Rania sembari menggenggam tangan Mikasa erat, tatapannya pun tidak pernah lepas dari sepasang bola mata hitam milik Mikasa.
Kerutan menyeramkan hadir di antara kening Mikasa. “Apa maksudnya? Aku tidak mau dan jangan mengada-ngada sekarang, aku perlu Dokter.”
“Tidak, sebelum kamu bisa menerima kesepakatanku.” Rania tidak punya jalan lain selain memaksa, gadis yang begitu mirip dengan adiknya ini. Jika bukan karena, salah satu temannya memaksanya datang ke ‘SpringHot’ dia tidak mungkin bertemu gadis berpakaian pelayan yang mirip dengan adiknya itu, di malam ini. Dia harus sangat berterimakasih pada temannya itu, mungkin tidak salahnya memberinya tiket liburan.
“Maaf, tapi aku sungguh tidak berminat.”
Penolakan atas tawarannya kedua kalinya dari mulut Mikasa, membuat Rania kembali pada kesadaran penuhnya. Tentu saja, tidak ada orang lain yang mudah bersedia untuk menggantikan sosok orang lain tanpa tujuan pasti. Tapi, Rania tidak punya banyak pilihan meski, idenya kali ini sedikit gila. “Kuberikan apapun. Uang, harta atau jabatan. Apapun yang kamu inginkan.”
Mikasa termenung, ia baru saja mendengar penawaran tergila selama duapuluh lima tahun hidupnya. Seseorang seperti apa yang mudahnya akan memberinya harta terlebih sebuah jabatan begitu tiba-tiba saat pertama kali bertemu. “Kamu pasti pasien rumah sakit jiwa, kan?”
“Mungkin saja.” Mikasa tersenyum mengejek. Ia bergerak menyibak selimutnya hendak turun dari brangkarnya.
“Kau mau ke mana?” Rania menahan langkah Mikasa. “Tunggulah, aku yang panggilkan Dokter. Setelahnya, kumohon dengarkan aku! Baru kamu bisa putuskan bersedia atau tidak.”
Dua pasang mata itu saling menatap cukup intens. Mikasa melihat sebuah tekad kuat juga entah kenapa perasaanya mengeleyar aneh. Bukan, bukan perasaan layaknya antara pria dan wanita tapi, sesuatu yang jauh sulit dijelaskan. hingga, akhirnya Mikasa tidak bisa menolak dan malah mengangguk. “Ok, kita dengarkan lagi nanti. Sekarang, aku harus diperiksa lagi, Tolong!”
*~*~*
__ADS_1
Suasana café yang dipilih Rania cukup nyaman tidak terlalu bising, hanya segelintir orang yang ada dan tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing\-masing. Sebelumnya, setelah mendapatkan pemeriksaan Mikasa dinyatakan baik\-baik saja dan bisa meninggalkan rumah dengan cepat. Lukanya tidak separah apa yang dibayangkannya. Tetapi, jika sebaliknya. Bisa saja Mikasa bertekad akan menuntut mereka. Pria\-pria mabuk sialan yang berkelahi tanpa aturan dan membuatnya kena imbasnya, ia jatuh terdorong sampai membentur meja menyebakannya terluka lalu pingsan.
Teringat hal itu membuat Mikasa kesal dan marah. Terlebih ia sama sekali tidak melihat entah itu teman sejawatnya, atau Manager bar mereka. yang seharusnya sedikit memilki rasa simpati pada karyawannya dengan menampakkan batang hidungnya walau sebentar. Sedangkan, para pria penyebab lukanya. Mikasa harap mereka sudah dipenjara.
“Bisa kita bicara sekarang?” Rania baru saja meletakkan cangkir kopinya, bergerak tidak sabaran tiap kali melihat perubahan ekspresi Mikasa. “Apa kamu pernah mengalami kecelakaan lain sampai kehilangan ingatan?”
Mikasa mengerutkan kening, tidak percaya pertanyaan seperti itu terlontar kembali. Sungguh wanita bernama Rania ini tidak percaya padanya. “Dua puluh lima tahun, itu usiaku yakinlah kepalaku ini masih sehat dan baik\-baik saja seperti yang dikatakan Dokter tadi. Dan, aku benar\-benar bukan adikmu atau orang yang bernama ehm… “Mikasa mengingat\-ingat nama yang disebutkan Rania sebelumnya.
“Marisa.”
“Ah, ya, Marisa. Dia adikmu yang hilang. jadi apa?”
“Jadi apa?” Rania mengulang pertanyaan itu kembali dengan wajah tertekan. “Sepertinya aku sudah gila menawarkan hal seperti ini tapi, aku sedang tidak punya pilihan lain … jadilah, Marisa sampai dia kembali.”
“Kenapa harus? Apa kamu tidak berpikir akan terjadi masalah nantinya.”
“Karena dia menghilang, masalahnya akan segera muncul.” Rania menarik tangan Mikasa yang terulur di atas meja. “Lakukanlah, aku akan memberimu yang bisa kulakukan.”
“Sampai kapan?”
“Aku akan segera menemukannya,” jawab Rania dengan sorot mata yakin. Tentu saja, dia harus segera menemukan adiknya untuk ibunya juga untuk orang itu. “Kamu bersedia, kan?”
__ADS_1