Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 63


__ADS_3

Sabrina yang telah selesai bersiap hendak berbalik dan berjalan keluar kamarnya, namun ia terkejut dengan kehadiaran suaminya yang hanya terdiam diambang pintu kamarnya. Dengan langkah anggunnya Elena berjalan menghampiri suaminya, ia mencoba melambaikan tangannya tepat didepan wajah Edwart.


"Sayang," panggilnya.


Dan saat Edwart tersadar dari lamunanya, ia hanya berucap," wow, kita dirumah aja yuk."


Elena merasa kesal mendengar ucapan suaminya. Ia yang sedari tadi menahan laparnya karena Edwart kini merasa menyesal menemani Edwart seharian.


"Sana dirumah aja sendiri," mendorong tubuh Edwart menyingkir dari jalannya.


Elena yang merasa kesal keluar dari dalam kamar menuruni anak tangga, sesampainya dilantai bawah ia mengambil kunci mobilnya didalam laci. Edwart menyesali ucapannya yang membuat istrinya merajuk. Salahnya juga menggoda disaat perut Elena keroncongan.


"Sayang tunggu," teriak Edwart mengejar istrinya.


Namun Edwart yang masih belum mengenakan celananya terpaksa menaiki anak tangga lagi dan kembali kedalam kamarnya. Elena begitu kesal hingga ia memutuskan untuk pergi seorang diri meninggalkan suaminya.


Edwart yang selesai mengenakan celana bergegas turun menghampiri istrinya, namun naas saat tak ada Elena juga mobilnya. Edwart hanya bisa menepuk dahinya karena merasa ceroboh dengan tingkahnya. Ia sungguh menyesali tindakannya.


Edwart mencoba menghubungi Elena berkali-kali, namun tak satupun dari panggilan itu yang direspon isrtinya termasuk semua pesannya. Elena yang sedang mengemudikan mobilnya merasa enggan jika hanya makan seorang diri dengan dandanan seksinya, hingga pada akhirnya ia menghubungi Yasmin juga Lia.


Sesampainya didepan rumah Yasmin, Elena membunyikan klaksonnya guna memanggil keluar Yasmin. Dan tak berapa lama datanglah mobil Lia yang berhenti tepat dibelakangnya. Lia keluar, ia menghampiri Elena yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.


"Udah lama," tanya Lia.


"Baru aja kok, tinggal nunggu mbak Yasmin aja ini," seru Elena. Lia hanya menganggukan kepalanya sambil menyandarkan tubuhnya dimobil Elena.

__ADS_1


"Hai semua, udah lama ya nungguuinnya," teriak Yasmin yang baru saja keluar dari dalam rumah.


Yasmin berhenti tepat didepan Elena juga Lia yang sedang menatap dirinya. Yasmin berdiri sambil memegang dagunya.


"Kenapa sih mbak," tanya Elena.


"Kita naik mobil yang mana," tanya Yasmin memandangi kedua mobil yang terparkir didepan rumahnya.


"Gimana kalau naik mobil aku aja, nanti aku anterin lagi kesini," usul Lia.


"Setuju, masa kita mau dinner tapi mobil sendiri-sendiri."


"Betul kan mbak Yasmin, gimana Ta?"


"Yaudah deh kalau gitu, yuk lah kita berangkat," ajak Lia.


Sesampainya disebuah restoran, Lia bergegasa turun meninggalkan Yasmin serta Elena yang masih bersiap didalam mobil. Mata Yasmin mengekori tubuh Lia yang melesat pergi meninggalkan keduanya didalam mobil.


"Ta, itu sehat nggak sih si Lia. Kenapa kita ditinggalin ya," heran Yasmin sambil membenarkan make up nya.


"Nggak tau tuh mbak, aku aja juga kaget."


Namun tak lama Lia kembali menghampiri mobilnya, ia kembali masuk kedalam mobil seolah tak terjadi apa-apa.


"Dari ngapain tadi," tanya Yasmin.

__ADS_1


"Habis booking, minta tempat yang nyaman buat kita bertiga," jawab Lia.


"Emang bisa," tanya balik Elena.


"Bisa kok, ini tuh restoran punya keluarga Putra jadi aku bebas milih tempat dimana aja," serunya menyombongkan diri.


"Enak banget dong, terus makanannya juag gratis nggak," canda Yasmin.


"Gaji kurang buk jadi sekretaris," tanya Lia menatap Yasmin yang sedang tersenyum di jok penumpang. Dan itu hanya bisa membuat Lia maupun Elena menggelengkan kepalanya.


..


Sedang dirumahnya, Edwart tengah duduk berdua dengan Jo yang sengaja dihubunginya. Edwart yang sudah kelaparan dan ditinggalkan istrinya tak memiliki daya lagi untuk keluar dari rumahnya. Dan yang bisa ia lakukan adalah menghubungi Jo dan memintanya menemaninya makan malam bersama.


"Apa masih kurang pak," tanya Jo yang melihat piring tuan mudanya sudah bersih tak tersisa sedang diatas piringnya masih penuh dengan nasi yang dimakannya.


"Nggak Jo, saya sudah kenyang. Apalagi saat memikirkan istri saya yang sedang menikmati makan malam tanpa saya, sungguh membuat saya kenyang," celoteh Edwart.


Jo hanya bisa diam mendengar semua keluh kesah tuan mudanya yang sedang merana ditinggalkan istri tercintanya. Namun disela-sela makannya, ponsel Jo tiba-tiba saja berdering tanpa nama dilayar ponselnya.


"Siapa," tanya Edwart yang melihat Jo hanya menatap ponselnya.


"Entahlah tuan, tidak ada namanya," memperlihatkan layar ponselnya pada Edwart.


"Angkatlah dulu, siapa tahu penting." Dan sesuai perintah tuannya, Jo menerima panggilan tersebut.

__ADS_1


"Temanilah tuan mudamu itu, sebelum aku yang masuk dan mendekap erat tubuhnya."


‐Terima Kasih semua dukungannya selama semua‐


__ADS_2