
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Hari ini tiba waktunya, Malik juga Edwart sudah membagi tugasnya masing-masing. Elena terpaksa menerima keputusan suaminya untuk tetap berada dirumah menunggu kepulanganya.
Edwart bersama Malik ada datang dengan dampingan Jo, sedang Matius akan datang dan bersembunyi dengan para polisi juga anak buah Edwart. Sedang Billy juga Maya akan tetap dirumah mengawasi Elena yang bisa saja nekat tanpa memikirkan nyawanya.
"Kita bergerak sekarang," ucap Edwart.
"Tunggu," seru El menghentikan langkah suaminya.
Elena melangkahkan kakinya menuju arah suaminya, tatapan mata itu begitu sendu penuh dengan kecemasan. El maju dan memeluk tubuh suaminya, menahan tangisnya El terus memeluk tubuh sang suami.
"Tadi malam aja masih berantem, sekarang peluk-pelukan," bisik-bisik Malik.
"Namanya juga anak muda tuan, wajarin aja," balas Matius.
Keduanya tertawa cekikikan melihat pemandangan didepannya, begitu harmonis sekaligus humoris.
"Ada apa," tanya Edwart memberi jarak pada keduanya.
"Tuan suami harus ingat untuk kembali lagi ya."
"Pasti kembali."
"Ingat juga jangan sampai terluka."
"Nggak janji ya kalau itu," senyumnya membelai wajah sang istri.
__ADS_1
"Terserah. Awas aja kalau luka, aku cari papah baru bua-
"Iya nggak bakal luka, nggak bakal ada darah," seru Edwart yang membungkam mulut sang istri.
Semua orang hanya tersenyum melihat sepasanga suami istri yang begitu aneh namun penuh dengan cinta. Suami istri yang penuh dengan amarah namun tetap ada tatapan cinta.
Tanpa disangka ternyata Tania menyiapkan anak buah tersembunyinya. Mereka semua sudah Tania sebar dan bersembunyi ditempatnya masing-masing, Yasmin menyaksikan sendiri bagaimana liciknya Tania yang menginginkan nyawa Edwart juga Elena.
"Kenapa, kaget lihat gue punya banyak pasukan," tanya Tania dengan begitu sombongnya.
"Licik, berani sekali bermimpi mencelakai Elena."
"Bukan mimpi, ini nyata."
"Gila."
"Hahaha, karena loe ada disini biar gue kasih tau loe satu rahasia," senyum menyeringainya.
"Gue tahu Edwart pasti meninggalkan istrinya dirumah, jadi selagi ia sibuk disini maka biarkan istrinya berdarah disana," bisiknya.
Yasmin terbelalak mendengar rencanan yang begitu matang dari Tania, rencana yang disusun dengan sangat cepat. Ingin sekali ia berlari dan memberitahu hal ini pada semua orang, meminta mereka tetap waspada.
"Mau kasih tau mereka ya, terlambat. Kemarilah, sumpal mulut berisik ini," ucap Tania pada seorang laki-laki yang menghampirinya.
"Satu hal yang perlu loe tahu, rencana ini sudah sangat lama gue rencanain dan bahka pasukan gue kali ini udah terlatih dalam waktu yang cukup lama."
"Kita bersiap, tamu akan segera tiba," ucap Tania yang berdiri dibibir bangunan dengan anak buahnya yang memegangi Yasmin ditangannya.
"Tamu tiba," senyum Tania yang melihat Malik Edwart juga Jo datang.
"Tuan hati-hati, saya merasa Tania ini tidaklah sendiri," ucap Jo memperingati.
"Cukup peka juga kamu, saya fikir semua dalam diri ini hanya bisa fokus sama wanita yang ada diatas itu."
Jo mengikuti arah pandang Edwart tuannya, betapa ia terkejut saat melihat Yasmin berada diujung bibir bangunan.
"Brengsek," umpat Jo.
"Kalian naiklah, apa tak ingin bertemu dengan sandera ini," teriak Tania.
__ADS_1
"Tuan?"
"Naik ya naik, dia mengundang kita naik maka kita naik."
"Baiklah."
"Mari om," ucap Edwart.
Ketiganya melangkah demi langkah menaiki anak tangga tanpa pengaman itu. Namun Edwart begitu waspada, matanya terus memeriksa setiap sudut yang membuatnya curiga.
"Om, waspada. Sepertinya Tania sudah menyiapkan orang untuk menyergap kita."
Dan benar saja, baru saja Edwart mengatakan hal itu tiba-tiba segerombolan orang mucul dan mengepung ketiganya. Ketiganya dipaksa mengangkat tangan keatas kepada, digeledah seperti maling yang berusaha menyembunyikan senjatanya.
"Bersih."
"Bawa naik pada nona Tania."
"Baik."
"Selamat datang semuanya," seru Tania menyambut kedatangan ketiganya.
Yasmin berusaha meronta, ia ingin memberitahu mereka jika Elena dalam bahaya. Namun cengkraman tangan laki-laki tu begitu kuat terlebih mulutnya ditutp dengan kain yang menyumbat mulutnya.
"Cepat lepaskan dia," pinta Ed.
"Hhahah, tidak semudah itu sayangku."
"Apa maumu, katakan dan aku akan memenuhinya."
"Tuan Malik, andai anda bukan om dari musuh saya makan saya bersedia melayani anda dengan sepenuh hati. Tapi kenyataan in membuat rasa saya terhadap anda kini berubah menjadi dendam yang semakin membara dihati Tania.
"Saya yang tidak sudi melihatmu lagi," ucap Malik menusuk hati Tania.
Yasmin berusaha mendorong keluar sumpalan itu dengan lidahnya, begitu sakit namun ia tak bisa menyerah. Ini keselamatan Elena yang begitu dalam bahaya dan ia harus segera bertindak. Dan akhirnya ..
"Ini jebakan, Elena dalam bahaya," teriak Yasmin.
"Terlambat."
__ADS_1
Semua orang tertegun tak percaya.
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...