
El yang sedang menikmati sarapannya begitu terganggu saat ketiga orang menatapnya secara bersamaan.
Diletakkannya sendok garpu kemudian berkata, "Mau jawaban apa memangnya?"
"Iya atau tidak," tegas Edwart meminta.
"Tentu saja tidak," sahut Elena begitu cepat, membuat Jo juga Maya tekejut.
"Jangan pernah berharap saya akan memohon sama kamu untuk pergi dengan saya."
"Tidak sama sekali," lawan Elena.
"Bukan saya yang berniat menemuimu, tapi Mr. Ricard juga istrinya," bujuk Edwart dengan caranya yang menyebalkan.
"Tapi maaf, saya sudah lebih dulu ada janjian."
"Kita pergi Jo, percuma datang kesini."
Tak pernah ada orang yang menolak permintaannya, dan kali ini untuk pertama kalinya Elena menolak ajakan Edwart untuk mendampinginya disebuah acara bisnis.
"Dia pikir siapa dia-
"Istri anda tuan," sahut Jo memotong ucapan Edwart.
"Jangan pernah menyela ucapanku! Fokus mengemudi saja bisa," kesalnya menatap tajam Jo dari spion depan.
"Maafkan saya tuan."
__ADS_1
"Nanti malam temani saya datang."
"Baik tuan," pasrah Jo.
Dimeja makan, Elena duduk sambil memegangi dadanya yang berdegub begitu kencang. Menolak Edwart membuatnya sedikit ketakutan, terlebih saat beradu pandang dengan mata tajam Edwart.
"Kenapa, deg degan ya nolak suami kamu," canda Maya menggoda Elena.
"Jantung aku mau copot mah rasanya," serunya memegangi dadanya.
"Haha, nanti kalau copot mama pasangin lagi deh."
"Aih si mama bisa aja deh," senyumnya saat melihat Maya tertawa riang didepannya.
"Memangnya nanti malam kamu ada acara apa nak?"
"Nanti malam ada perayaan dikantor untuk proyek yang baru selesai mah."
...**...
Sesampainya diperusahaan, Ed segera masuk diikuti oleh Jo. Namun tiba-tiba saja dari arah belakang Tania datang dan memeluk dirinya.
"Aku merindukanmu sayang," ucapnya dengan mesra.
"Tolong lepaskan pelukan anda nona Tania yang terhormat," tegas Jo memegangi tangan Tania yang melingkar diperut Edwart.
"Nona Tania," seru Jo saat Tania tak menghiraukannya.
__ADS_1
"Apa salahnya, aku hanya ingin menemui tunanganku saja," percaya dirinya saat mengakuinya.
Semua orang yang melihatnya begitu terkejut saat mendengar pengakuan Tania, terlebih saat Edwart hanya diam.
"Aku sungguh-sungguh merindukannya," mempererat pelukannya.
"Lepaskan," seru Ed pelan.
"Tidak sayang," kekeh Tania tak ingin melepaskan.
"Lepaskan, atau saya patahkan tanganmu ini."
"Patahkan saja, biar semua karyawan kamu tau bagaimana kejamnya bos mereka."
Edwart memejamkan matanya, menahan diri agar tak terpancing oleh amarahnya. Namun tiba-tiba saja ia mengangkat jari manisnya, membuat Jo menyunggingkan senyum manisnya.
"Lihatlah cincin yang melingkar dijari manis saya Tania, saya sudah menikah dan memiliki seorang istri," serunya dengan tegas saat memamerkan cincin nikahnya.
"Sudahlah sayang, jangan membohongiku."
"Istri saja jauh lebih cantik dan juga seksi," serunya memamerkan istrinya.
Tania yang kesal melepas pelukannya, berjalan dengan anggun dihadapan Edwart dengan gaya centilnya.
"Kalau memang kamu sudah menikah, mana dong nyonya Edwart nya," dengan gaya centilnya melilitkan dasi Ed pada tangannya.
Ed melepaskan tangan Tania dari dasinya, disingkirkannya perlahan tangan itu lalu ia berkata, "Malam nanti, semua orang akan tau siapa nyonya Edwart yang asli."
__ADS_1
Tania hanya bisa menahan amarahnya. Ia berdiri memandangi tubuh Edwart yang hilang terbawa oleh lift.
Namun semua mata karyawan Ed menatapnya, ada tatapan iba ada juga tatapan menghina. Namun ia hanya diam, karena ia memiliki rencana untuk menyambut nyonya Edwart jika itu memang ada.