Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 45


__ADS_3

Tania murka, hatinya memanas saat kembali terngiang kata-kata Edwart tadi. Ada rasa cemburu bercampur amarah yang membuat Tania semakin membenci keberadaan Elena.


"Loe yang maksa gue Ed, loe yang ngejerumusin istri loe sendiri ke tangan gue," serunya penuh sorot kebencian.


Ditengah emosinya itu Jo tiba-tiba masuk dengan kedua anak buahnya. Diperintahkannya mereka melepas ikatan Tania dan membantunya berdiri.


"Kalian semua akan menyesal," ancamnya.


Jo tak menyahutinya, ia hanya menatap jengah wanita sombong itu dengan begitu sinis. Tak ada pembicaraan, hanya tatapan mata kedua manusia yang membawa hawa panas dalam ruanganya.


"Loe denger baik-baik Jo, loe salah milih lawan."


"Anda salah mengancam nona," sinisnya menatap Tania.


"Kalian antarkan dia, pastikan dia sampai."


"Gue bisa pulang sendiri!"


Kedua tangannya begitu sakit, kakinya begitu susah untuk di gerakkan. Namun Tania tak ingin Jo melihat dan meremehkannya.


"Terserah nona Tania saja," santai Jo berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan Tania yang masih berada didalamnya.


"Silahkan kalian lindungi nyonya kalian dengan hati-hati."


Ucapan Tania menghentikan langkah Jo, ada rasa amarah yang menekan dadanya.


Jo berbalik mendekati Tania. Dicekiknya wanita itu sambil berucap, "Jangan pernah mengusik nyonya kami. Berhenti membuat tuan saya menderita."

__ADS_1


Tania kesakitan, ia kekurangan oksigen dalam tubuhnya. Tatapan mata itu, tatapan yang mengintimidasinya.


Membuat sekujur tubuhnya merasakan hawa dingin yang begitu menusuk seluruh tulangnya.


"Lepaskan," berontak Tania mencoba melepasakan diri dari Jo.


**


Diruangannya Edwart begitu gusar. Difikirannya hanya ada Elena sedari tadi, tentang apa yang kini tengah dilakukan istrinya itu.


"Apa dia lagi mesra-mesraan ya," batin Edwart gusar.


"Ahh, brengsek!"


Suasana hatinya buruk, ia menghancurkan semua benda yang ada disekitanya. Dadanya begitu bergemuruh, sesak dan terasa panas.


Bersandar pada meja besarnya, Ed mencoba menghubungi Elena. Sekali tak ada sahuta, dua kali masih tak ada respon dan ketiga kali malah dimatikan oleh Elena.


"Kurang ajar! Berani sekali mematikannya," murkanya menatap tajam layar ponsel.


"Akhh!"


Rose masuk dengan begitu paniknya, suara Edwart begitu lantang hingga terdengar hingga ke mejanya.


Rose yang tak tahu apapun berfikir jika atasannya tersebut sedang terluka, oleh sebab itu ia berlari menerobos masuk kedalam ruangan.


"Bos, apa bos baik-baik saja," tanyanya begitu panik. Bahkan Rose lupa mangambil nafasnya saat bertanya.

__ADS_1


"Ngapain kamu kesini," heran Edwart menatap sekretarisnya yang berdiri dihadapannya dengan wajah begitu panik.


"Saya, saya tadi denger bos teriak. Saya pikir bos terluka," ucapnya begitu kelelahan.


"Keluarlah, saya baik-baik aja."


Dengan dinginnya Ed mengusir Rose, tak membiarkannya menatap sejenak isi ruangan hancur itu.


"Keluar bos," tanyanya linglung.


Edwart berbalik, menatap tanya sekretarisnya itu dengan mata tajamnya.


"Saya keluar bos, maaf."


Tatapan itu seakan menguliti jantungnya. Menekan setiap detik detaknya, menusuk tanpa sentuhan.


Rose yang takut memilih keluar dari pada habis dikuliti atasannya tersebut.


Edwart kembali mencoba menghubungi Elena, namun masih saja tak bisa. Ponsel itu berada diluar jangkauan, membuat fikiran buruk menghantui dirinya.


"Apa jangan-jangan, dia ?"


...---------🕊--------...


...Hai, terima kasih sudah mampir dirumah ElenaEdwart. Jangan lupa tekan favorit ya supaya nggak ketinggalan updatenannya. Silahkan tinggalkan like komen juga dukungan kalian, semakin banyak pembaca semakin semangat update nya .....


...❣...

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2