
Putra melihat Edwart menatap istrinya dengan penuh cinta. Ia kembali mengingat kejadian tadi dikantor. Dan dengan memberanikan diri ia berjalan mendekati Edwart.
"Tuan Edwart, apa kita bisa bicara sebentar?"
Ed membalikkan tubuhnya, menatap orang yang sedang berbicara dengannya.
"Bicara apa ya pak Putra ?"
"Tentang istri anda tuan," to the pointnya.
"Kita bicara dibalkon saja pak," ajaknya melangkah lebih dulu diikuti oleh Putra.
Semilir angin malam menghantam kulit kedua laki-laki yang tengah berdiri menatap kota didalam malam.
"Ada apa dengan istri saya pak," tanyanya.
"Ada seorang wanita datang kekantor saya, dan dia mencari Elena."
"Mencari istri saya, untuk apa?"
"Katanya Elena sudah menggoda tunangannya, hingga membuat tunangannya berpaling dari dia."
Edwart terkejut, ia merasa tak percaya jika istrinya berlaku seperti itu. Karena ia tahu siapa Elena, dan walaupun baru seumur jagung hubungan keduanya namun Ed sudah mengantongi semua informasi tentang istrinya.
"Itu tidak mungkin pak, saya kenal betul siapa istri saya."
"Begitu juga saya tuan, saya mengenal El sudah sejak lama. Dan saya paham betul bagaimana dia."
"Jangan membuat saya cemburu pak Putra," menatap tajam Putra.
Sebaliknya, yang ditatap tajam oleh Edwart malah tertawa terbahak-bahak tanpa rasa takut.
"Apa ada yang lucu pak Putra," kesalnya.
"Hahahah, enggak tuan tapi anda benar-benar membuat saya tertawa."
Edwart hanya diam, membiarkan Putra tertawa sendirian.
"Maafkan saya tuan."
__ADS_1
"Tapi apa pak Putra tau siapa dia."
"Entahlah pak, saya juga tidak mengenalnya."
"El nggak mungkin seperti itu, pasti aja yang ingin merusak nama baiknya," batin Ed.
"Tapi yang menjadi permasalahnya tuan, berita ini sudah menyebar luas di perusahaan saya. Dan sudah menjadi konsumsi publik."
"Saya akan memikirkan jalannya pak," seru Edwart.
Ed terlihat memainkan ponselnya, fokus sekali hingga ia tak menyadari jika Putra terus saja memanggilnya.
"Oh maafkan saya pak, " ucapnya.
"Gpp tuan, sebaiknya kita masuk."
..
Maya masuk kedalam kamarnya, rasanya ia begitu bahagia saat melihat putra kesayangannya perlahan bisa menerima Elena sebagai istrinya.
"Mama gila ya," seru Billy.
"Lah habisnya mama senyum-senyum sendiri itu," mendudukan dirinya diranjang.
"Mama tuh lagi seneng pah, anak kita udah bisa nerima Elena gitu."
"Iya. Papa cuma berharap Ed bisa menjaga El dengan baik ma."
"Bener pah."
"Andai Ed punya adik ya ma."
"Iya pah."
Tapi tiba-tiba saha Maya menyadari apa yang diucapkannya. Billy mejebaknya dengan kata-kata hingga membuatnya tertawa terbahak-bahak.
"Iseng banget sih pah."
"Astaga perut papa sakit banget mah."
__ADS_1
Maya cemberut saat dikerjain suaminya. Namun Billy masih saja tertawa memegangi perutnya padahal ia melihat istrinya merajuk.
"Maaf deh maaf ma."
"Terserah papa."
"Yaudah yuk," girang Billy menyerang istrinya diatas ranjang.
Keduanya menjadikan malam dingin menjadi begitu bergairah, sebab keduanya tak ingin kalah dari anak juga menantunya.
Namun ditengah pergulatan keduanya, tiba-tiba saja ponsel Billy terus saja berdering.
Maya kesal, ia meminta Billy segera menyelesaikan permainanya dan mengambil ponselnya.
Wajah Billy terlihat begitu tegang saat melihat layar ponselnya.
"Katakan," serunya saat menjawab panggilan masuk.
"Saya telah berhasil membuat video itu terlihat dengan jelas bos."
Wajah yang semula tegang kini berubah tersenyum begitu lebarnya. Maya merangkak menghampiri suaminya.
Ditempelkannya telinganya diponsel Billy, hingga ia juga bisa mendengar apa yang keduanya bicarakan.
"Segera selesaikan semuanya," perintahnya, lalu ia mematikan sambungan telponnya.
"Ada apa pah," tanya Maya.
"Sebentar lagi kita akan menemukan pelaku asli pembunuh Mimi."
...-----🍒-----...
...Hai semua, makasih ya udah mau mampir membaca....
...Mohon dukungannya ya semua, agar semangat updatenya....
...Jangan lupa like, komen and share supaya banyak yang baca. Gift juga boleh kok🤭...
...jangan lupa tekan favorit supaya nggak ketinggalan!...
__ADS_1