Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
Bonus Part


__ADS_3

Semua orang kini tengah menunggu dengan begitu cemas didepan ruang bersalin. Sudah hampir satu jam namun masih belum ada tanda-tanda jika bayi dalam kandungan Elena akan keluar.


"Gimana ini, kenapa lama sekali didalam ini," panik Maya yang begitu khawatir.


"Sabar ma, tenang dulu. Kita tunggu sebentar lagi," ucap Billy menenangkan istrinya.


Malik terus berdoa dengan begitu cemas untuk keponakannya juga calon cucunya, ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada keduanya. Dan tak lama apa yang mereka tunggu akhirnya terdengar juga.


Jerit tangis seorang bayi dengan begitu kerasnya mengguncang emosi mereka yang sedang menunggu dengan harapan cemas didepan ruang bersalin. Maya tak bisa membendung air matanya , begitu juga dengan Malik yang menyembunyikan air matanya dibalik tangannya.


Edwart keluar dengan begitu berantakan juga acak-acakan, bajunya bahkan kini begitu lusuh. Ia yang lunglai keluar dari ruang bersalin disambut histeris oleh Maya yang terlalu bergembira.


Maya mengguncang tubuh anaknya dengan begitu kuat hingga rasanya begitu mual bagi Edwart yang langsung terduduk lemas.


"Ada apa, kenapa lemes gini Ed," panik Billy yang melihat putranya.


"Elena baik-baik saja kan, anak kalian baik kan Ed," tanya Malik yang juga begitu cemas.


"Tubuhku rasanya begitu mati rasa, El mengeluarkan begitu banyak darah saat mengelurkan jagoanku," gumamnya tak berdaya.


Semua orang histeris dengan kegembiraan ini, ternyata cucu mereka adalah laki-laki. Jagoan yang sudah sangat lama dinantikan kehadirannya. Maya tak hentinya mengucap syukur untuk semua kebahagiaan hari ini.


Dan kini semua orang tengah menemani Elena didalam ruang rawatnya sambil menanti sang jagoan yang masih berada diruang pemeriksaan.


"Kenapa lama sekali sih," ucap Maya yang begitu tak sabar.


Edwart sudah tak memperhatikan yang lainnya, kini ia hanya ingin berada disamping sang istri. Melindunginya dan mencurahkan kasih sayangnya adalah hal yang saat ini ingin Edwart lakukan.


"Sayang geser dikit kenapa sih," ucap Elena mendorong tubuh sang suami agar menjauhinya.


"Nggak bisa, udah ada lem nya," kekeh Edwart yang kembali kesisi sang istri sambil menciumi kepalanya.

__ADS_1


Elena hanya bisa pasrah dengan kelakuan sang suami, semakin ia mengusirnya maka akan semakin lengket kemudian.


"Permisi, jagioannya datang," ucap suster yang masuk sambil mendorong kotak bayi berisikan jagoan Edwart.


"Wah, cucuku."


"Aduh gemesnya keponakan ounty Yasmin."


"Cucuku."


"Lucunya."


"Gemes deh."


"Kalau begitu saya tinggal dulu ya bu," ucap suster setelah menyerahkan sang bayi pada ibunya.


Semua orang mulai mengerumini Elena demi melihat dengan jelas wajah dari sang jagoan yang sudah dinanti itu. Betapa kagum mereka saat melihat wajah tampan sang jagoan, begitu bersih dengan rambut hitamnya yang menbuat begitu maskulin.


"Ed, siapa nama jagoan ini," tanya Malik.


"Namanya, Ahza Raziq Amanah," ucapnya dengan penuh kebanggaan.


"Artinya tuan," tanya Jo.


"Laki-laki yang penuh keberuntungan dan menjadi anak pembawa rezeki serta titipan terbaik dari Tuhan."


"Nama yang begitu indah, seindah arti dibaliknya," ucap Yasmin.


"Terima kasih, saya harap kalian juga akan segera membuatkan teman main untuk anak saya," ucap Elena.


"Atau kalian bisa memuatkan menantu yang cantik untuk Ahza ku ini," ucapnya dengan membelai lembut pipi sang anak.

__ADS_1


"Baik tuan, sesuai perintah andaa saya akan melaksanakannya," seru Jo yang mendapat tatapan kebingungan dari sang istri.


"Apasih ," ucap Yasmin menyenggol lengan suaminya.


"Kita harus segera pulang, tuan memberikan tugas untuk kita."


"Jangan aneh-aneh deh," cicit Yasmin dengan wajah memerahnya.


"Kamu dengar sendiri bukan apa yang diucapkan tuan Edwart pada kita. Kita harus pulang dan melakukan tugas."


Jo yang sudah tak tahan segera menggendong sang istri keluar dari ruangan Elena, membuat semuanya tersipu malu dengan tindakan pengantin baru itu.


"Lalu kapan om Malik akan mulai mendekati sang dokter," tanya Edwart yang membuat semua orang menatapnya.


"Apa yang kamu bicarakan Ed, jangan membuat berita aneh," seru Malik dengan salah tingkahnya.


"Tuan Malik menyembunyikan sesuatu dari saya," tanya Matius.


"Tidak ada! jangan dengarkan Ed."


"Sebenarnya om Malik sedang tertarik dengan dokter kandungan Elena. Maka itu om Malik selalu menawarkan diri selama ini untuk menemani El kerumah sakit.


Wajah Malik tersipu malu dengan rona merah yang begitu ketara. Ia benar-benar dibuat malu Edwart, hilang sudah keberaniannya.


"Ah terserah kalian sajalah," serunya berbalik hendak meninggalkan kamar Elena.


Namun tanpa diduga dokter yang sedang dibicarakan muncul dan menabrak tubuh Malik hingga hampir saja terjatuh. Beruntung Malik sigap menariknya dan mendekapnya dalam tubuhnya.


"Dokter Sirna."


"Tuan Malik."

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Terima kasih semua sudah mendukung Elena&Edwart. Semoga kalian semua terhibur dengan ceritanya, 😄


__ADS_2