
Billy syok, namun ia sesegera mungkin menguatkan dirinya. Ia telah meminta anak buahnya untuk mengirimkan video itu pada Edwart. Billy yakin jika anaknya itu akan jauh lebih terluka dibandingkan dirinya. Ia juga yakin jika nanti anaknya akan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah diperbuatnya.
Dirungannya, Jo tengah memeriksa beberapa berkas sebelum sekretaris Edwart tiba-tiba saja masul dengan begitu paniknya.
"Ada apa Rose," tanya Jo.
"I itu tuan Edwart mengamuk diruangannya," serunya.
Jo terkejut, ia bergegas pergi menuju ruangan tuan mudanya, namun terlambat. Edwart telah lebih dulu pergi dengan mobilnya, membuat Jo dilanda panik seketika.
"Rose, cancel semua pertemuan. Batalkan juga semua rapat dan pertemuan," ucap Jo.
"Baik pak," patuhnya.
Jo bergegas pergi mengikuti arah mobil tuan mudanya, dan itu adalah arah pulang kerumah. Ada sedikit rasa lega dalam hatinya, namun kecepatan mobil Edwart membuat rasa khawatir Jo timbul kembali.
Ed lebih dulu sampai dirumahnya, ia segera masuk kedalam kamar dan mengunci dirinya. Ia merasa begitu bodoh, marah terhadap dirinya dan bahkan ia seakan membenci dirinya sendiri.
"Akkkhh, bodoh! Bodoh loe Ed," makinya pada dirinya.
Ed menjambak habis rambutnya, menyalurkan rasa marah dalam dirinya. Ia kembali teringat dengan apa yang dulu diperbuatnya pada EL yang ternyata tak pernah bersalah. Bahkan wanita yang disiksanya itu adalah orang yang berusaha menolong Mimi, orang yang juga mempertaruhkan nyawanya sendiri. Ditatapnya kedua tangan yang perlanh melukai El, menyakiti El sedemikian rupa.
Ed melukai dirinya sendiri, ia melukai dirinya yang sudah dengan tega melukai orang yang tak bersalah. Jo tiba, ia berlari masuk menuju kamar tuannya. Dan suara pecahan benda menghentikan langkahnay, sejenak menghentikan aliran nafasnya.
"Tuan, taun muda ini saya," mengetuk pintu kamar dengan paniknya.
__ADS_1
"Tuan, tolong buka pintunya. Kita bicarakan semuanya, saya akan lakukan semua permintaan taun muda."
Tak ada respon, tak ada sahutan apapun dari dalam kamar. Jo semakin ketakutan dengan apa yang terjadi pada tuannya. Dan tiba-tiba suara itu mengejutkan dirinya.
Pyar !!
Edwart begitu terluka, terlebih saat ia menatap dirinya dalam bayangan cermin. Gambaran dirinya yang teramat berdosa pada istrinya.
Matanya yang selalu menatap hina Elena, bibirnya yang selalu berucap kasar bahkan menghinanya. Semuanya melukai hati istrinya, belum lagi pernikahan yang tak seharusnya yang ia paksakan pada Elena.
Dipukulnya itu kaca hingga hancur berkeping-keping, darah segar mengalir mewarnai kaca itu. Jo terus menggedor kamar hingga tangannya memerah. Dan ditengah rasa paniknya itu ia teringat dengan nona mudanya.
"Nona muda tolong tuan muda," seru Jo saat sambungan telponnya terhubung.
Elena tengah bersiap untuk meeting selanjutnya dengan Putra, dan penggilan Jo membuatnya bergetar ketakutan. Ia meminta maaf pada Putra atas sikapnya yang sangat tidak profesional sebagai seorang karyawan, tapi kini suaminya lebih membutuhkannya.
"Kamu harus abik-baik saja," ucapnya.
Jo menunggu dengan cemas kedatangan Elena, dan saat deru mobil itu tiba Jo segera berlari menghampirinya.
"Nona muda."
"Dimana suami saya," paniknya.
"Dikamar nona."
__ADS_1
Keduanya berlari masuk kedalam rumah, menuju kamar Edwart yang berada dilantai dua. Dan saat menaiki tangga tiba-tiba kaki El terkilir karena berlari dengan cepatnya.
"Aw,"m pekiknya.
"Nona," seru Jo.
"Nona anda biak-baik saja," tanya Jo.
"Gpp, kita naik lagi."
Sampai, keduanya kini berdiri didepan pintu kamar yang begitu hening tak bersuara.
Tok.. tok,
"Sayang, ini aku. Buka pintunya," seru El namun tak ada sahutan.
"Sayang aku pulang, buka dong ."
Dan masih hening tak ada sahutan.
"Nona muda, tadi saya mendengar ada pecahan kaca dari dalam," ucap Jo.
El menutup mulutnya dengan rasa terkejutannya itu. Entah apa yang terjadi didalam kamar hening itu.
..._🕊_...
__ADS_1
...Terima kasih untuk dukungannya, ...