
Edwart kini bersikap lebih protektif pada istrinya, apaun kini ia lebih mengutamakan Elena istrinya juga calon bayi dalam kandungan istrinya.
"Sayang, hari ini mama sama papa kan pulang. Aku jemput mereka ke bandara ya," ijin Elena dengan sikap yang kini sangatlah manja.
"Nggak usah, biar supir aja yang jemput. Kamu istirahat dirumah," tolak Ed.
Ed masih mengalami siklus hamil muda, yaitu selalu mual dipagi hari juga sangat sensitif dengan bau-bau yang dirasanya aneh. Tak hanya itu, bahkan Ed juga mengalami yang namanya ngidam.
Seperti halnya kemarin, ia begitu merepotkan semua anak buahnya hanya demi mencarikannya jambu air yang berwarna merah menyala dan harus langsung dipetik dari pohonnya. Dan lagi ia tak ingin jika jambu air tersebut dipetik menggunakan galah, melainkan para anak buahnya harus memanjat pohon yang memetiknya dengan tangan mereka sendiri.
Tiap hari selalu ada yang diinginkan oleh Ed dalam masa ngidamnya, hal konyol terjadi saat Ed menginginkan kurma yang masih muda dan masih berada dalam tangkainya. Namun Ed meminta didalam tangkai itu harus ada 7 kurma tak boleh kurang apalagi lebih.
Jo yang tak ingin repot pada akhrinya membuang beberapa buah kurma dari tangkainya agar tersisa 7 buah saja. Namun sangat naas bagi nasibnya, Ed mengetahui apa yang dilakukannya hingga ia harus menerima kemarahan tuan mudanya itu dan terpaksa mencarikannya lagi kurma baru.
"Hari ini jangan ngidam yang aneh-aneh ya nak, papa mau kerja dulu yang tenang," ucap Ed sebelum berangakat kerja, membelai perut El sambil sesekali menciuminya.
"Ingat, dirumah dan jangan kemana-mana tanpa ijin dari aku!"
"Iya, aku diam dirumah."
"Nggak usah kerja yang aneh-aneh juga."
"Kerjain apa lagi, semua juga udah dikerjain sama pelayan. Lagian kamu tuh manggil pelayan kok sampai 20 sih," kesal El.
"Gpp biar kamu ada yang ngawasi sekalian."
Selepas mencium kening istrinya, Ed segera melajukan mobilnya menuju kantor. Sesampainya disana ia tak masuk dan hanya menjemput Jo yang sudah menunggunya.
__ADS_1
"Biar saya aja tuan yang bawa mobilnya," pinta Jo tak enak hati disupirin tuan mudanya.
"Gausah, gpp jarang-jarangkan kamu saya supirin," canda Ed dengan mata fokus pada depan.
"Baiklah tuan. Dibandara sudah ada anak buah tuan Malik yang menunggu kita."
"Kemana tujuan pertemuan kita ini?"
"Singapura tuan, sebab tuan Malik tengah meninjau proyeknya disana."
"Baiklah.
Singapura,
Keduanya tiba dan langsung melakukan perjalanan darat menuju Malik yang sudah menunggu mereka disebuah apartemen.
Keduanya memasuki ruangan yang sangatlah luas, hingga matanya kini kembali bertemu dengan wajah Malik yang pernah sekali ditemuinya.
"Silahkan duduk tuan Edwart, asissten Jo," ucap Malik sopan.
"Dia Matius, dia adalah tangan kanan saya," ucap Malik saat melihat mata Ed menatap dingin Matius.
"Maaf untuk kejadian lalu, bukan maksdu saya membatalkan begitu saja pertemuan kita tuan Malik."
"Tak masalah tuan Ed, saya sudah mendengar cerita dari anak buah saya. Lalu bagaimana dengan kabar istri anda saat ini?"
"Baik tuan Malik."
__ADS_1
"Syukurlah. Langsung ke inti tujuan kita saja tuan, apa yang membuat anda menyelidiki tentang saya."
"Bukankan anda juga menyelidiki saya tuan Malik?"
"Tentu, itu lantaran anda yang terlebih dahulu menyelidiki."
"Dan sekarang anda sudah tau buka kenapa saya menyelidiki anda?"
"Tentu saja, saya juga tengah mencari princess kecil saya. Dia dibawa pergi oleh kakak ipar saya sewaktu kecilnya," kembali menerawang El kecil yang sangat menggemaskan.
"Siapa nama little princess anda itu?"
"Elena. Elena Maursty."
Mata Ed membulat mendengar nama istrinya disebut dengan sangat lantang. Malik tak mungkin membohonginya, sebab tak ada yang tahu nama panjang dari istrinya selain keluarganya.
"Ada apa tuan Ed ," tanya Malik saat wajah Ed nampak begitu tegang.
"Yang anda sebutkan adalah nama dari istri saya tuan, Elena Maursty."
.
.
...‐Terima kasih sudah menemani cerita ini, maaf kalau masih banyak typo ya. Tapi itu tidak disengaja dan selalu hati² dalam penulisannya‐
...
__ADS_1