Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 107


__ADS_3

...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Hari ini mood Elena benar-benar berantakan, semua yang ada dihadapannya rasanya salah. Ia benar-benar bisa marah tanpa alasan yang jelas, atau mungkin ini bawaan bayi yang dikandungnya.


"Nak, makan dulu ya. Mama udah bikini kamu sayur asem nih," bujuk Maya.


"Nggak mau ma, aku cuma pengen makan asinan bogor."


"Yaudah papa beliin asinannya ya," ucap Billy menawarkan diri.


Elena hanya menganggukinya saja, ia tak ingin rasa kesalnya ini melukai hari kedua orang tuanya atau lebih tepatnya sang mertua yang begitu baik terhadapnya.


"Kamu tunggu sama mama dirumah ya, papa pergi beli dulu."


"Hati-hati pah," pesan Maya pada suaminya.


Perasaan Elena masih tak menentu, ia takut sekali jika kemarahannya itu akan mengenai mertuanya. Dan karena itu ia ijin masuk kedalam kamar dengan alasan ingin beristirahat.


"Aduh kesel banget gue ini, kenapa suami gue bener-bener ngeselin sih," menahan emosinya.


Ia berjalan mondar-mandir kesana kemari hanya untuk meredakan emosinya, ia sangat merindukan suaminya hingga begitu emosi dibuatnya. Ia tak bisa tinggal dirumah dengan emosinya yang tak stabil.


"Aku sebaiknya pergi dulu aja deh, takutnya malah marah-marah sama papa mama lagi," gumamnya.

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa Elena membereskan tasnya dengan membawa beberapa potong baju miliknya juga perlengkapannya.


Saat menuruni tangga ia sempat berhenti dan mencari keberadaan mamanya yang tadi berada diruang tengah bersamanya.


"Mama kemana ya," gumamnya.


"Aku kirim pesan aja deh nanti kalau gitu, pergi sekarang aja lah."


Elena pergi dengan mengendarai mobil miliknya, tak ada yang curiga dengan kepergiannya. Maya yang sedang berada didalam kamar juga berfikir jika menantunya masih ada didalam kamarnya.


Satu jam kemudian Billy kembali dengan asinan ditangannya, ia mencari keberadaan Elena juga Maya istrinya.


"Papa udah balik ternyata, " tegur Maya pada suaminya.


"Dimana El ma, papa udah punya asinan buat dia."


"Ada diatas, katanya tadi mau tiduran dulu."


Belum sempat Maya meminta pelayan memanggilkan menantunya, sebuah pesan lebih dulu singgah di ponselnya.


–—-—-—-—-—-—-—-—-—-—-—-—-—-—-—


Mama, papa maafin El ya. El harus pergi dulu dari rumah, emosi El sedang tidak baik jadi El memutuskan untuk menghindari sementara waktu. El nggak mau nantinya malah melukai papa ataupun mama, maafin El ya.


El janji bakal baik-baik aja kok, El juga bakal jagain kandungan El dengan hati-hati.


Salam sayang dari El buat papa sama mama, love you.


Maya membulatkan matanya membaca pesan singkat yang dikirimkan El kepadanya, ia tak menyangka jika menatunya tersebut mempunyai fikiran sampai sejauh itu.


"Pah, El pah," menunjukkan layar ponselnya kepada Billy sambil berlinang air mata.


"Astaga anak ini," ucap Billy mendudukan dirinya disofa.


"El kemana ya pah, mama takut El kenapa-kenapa ini," cemasnya.

__ADS_1


"Mama tenang ya, kita cari sama-sama."


"Ini gara-gara Edwart sih, tuh anak kenapa sih pakai matiin ponsel segala. Bikin El jadi naik kan emosinya."


"Sabar dulu mah," ucap Billy menenangkan istrinya.


London,


Yasmin terus mengawasi Tania yang masih berusaha membersihkan darah Malik dilantai, tak hanya mengawasi namun juga mengamati Tania sesuai dengan perintah Edwart padanya.


"Wanita ini cantik sebenarnya, sayang banget jahat," batin Yasmin.


"Ini susah sekali hilangnya, kenapa nggak panggil orang aja sih," protesnya membuang kain pe dari tangannya.


"Yang menembak tuan Matius adalah kamu, jadi sudah sewajarnya kamu yang membersihkan darahnya," Jo datang dengan topeng dan pengubah suaranya. Dengan sangat tegas ia bersikap kepada Tania.


"Siapa lagi ini, kenapa seenaknya sendiri masuk kerumah tuan Malik," teriak Tania tak suka.


"Ini rumah tuan Malik, bukan rumah kamu. Siapa kamu berani melarangnya," geram Yasmin berucap.


Jo mendudukan dirinya dibangku yang ada disudut ruangan tersebut, ia dengan santai melipat kakinya dan mengawasi Tania membersihkan lantainya.


"Saya mau lantai ini kembali seperti semula," ucap Jo.


"Bongkar aja, ganti pakai yang baru," protes Tania dengan berteriak.


"Lancang," menendang Tania hingga berguling kesamping.


Tania mengepalkan tangannya mendapat penghinaan dari Yasmin, bahkan ia bersumpah akan membalas semua yang telah dilakukannya tadi.


Tanpa sengaja ia melihat pisau lipat milik Malik berada di kolong meja, pisau yang sudah beberapa hari dicari tuannya itu ternyata terselip dikolong meja. Tania mengambilnya, ia bangkit dan menatap geram Yasmin didepannya.


"Mati loe."


•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••

__ADS_1


...Hai semua .. tolong jaga kesehatana kalian selalu ya, 🌹...


__ADS_2