
Ed pada akhirnya mengalah, membiarkan istrinya itu pergi seorang diri ke toilet. Tania terus mengawasi dan saat ia tahu tak ada Edwart disisi Elena, ia bergeges mengikutinya.
Elena merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya. Dengan sengaja ia mempercepat langkahnya untuk segera masuk kedalam toilet.
**
"Kemana dia," seru Tania yang masuk mengikuti Elena.
Dari balik pintu masuk Elena keluar dengan begitu angkuhnya. Berjalan perlahan mendekati Tania, ia tersenyum penuh dengan sebuah arti.
"Saya tau siapa anda," seru Elena berbisik tepat dibelakang Tania.
Berjingkat kaget, tubuh Tania hampir saja terjatuh. Namun beruntung ia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Apa maksud loe," menutupi ketakutannya dengan sikap angkuh juga mulut pedasnya.
Seakan menemukan mainannya, Elena berjalan perlahan mengelilingi tubuh Tania. Tepat disamping tubuhnya, Elena berkata, "Nona Tania."
"Seorang pembunuh," lanjutnya menekan ucapannya.
Mata Tania terbuka lebar, tangannya bergetar mendengar ucapan Elena barusan. Lidahnya terasa kelu hanya untuk mengucap sepatah kata, ia hanya bisa terdiam menatap senyum mengejek Elena dihadapannya.
"Dengan seenaknya meninggalkan korban tergeletak tak bernyawa ditengah jalan," ucapnya penuh marah.
"Jangan sembarangan menuduhku tanpa bukti," menatap tajam mata Elena.
"Sembunyikan dengan baik rasa takut anda nona Tania," menyentuh rambut Tania yang berada dibahunya.
Tania tak bisa mengontrol dirinya, didorongnya tubuh Elena hingga membentur tembok toilet. Meringis kesakitan, namun tak membuat Elena menyerah begitu saja.
__ADS_1
"Anda mengingat saya nona?"
"Gue nggak kenal loe, gue nggak pernah ketemu sama loe!"
Tania murka, wajahnya yang semula layaknya susu sapi kini berubah merah padam menahan emosinya.
"Saya bantu anda mengingat, saya orang yang anda tabrak mobilnya," seru Elena puas saat melihat ekspresi yang ditunjukkan Tania.
Awalnya Elena ragu dengan ingatannya, namun karena tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini hingga pada akhirnya ia memberanikan dirinya.
Ia tak punya bukti dan ia juga meragukan ingatannya yang tak jelas itu, namun hatinya terus mengatakan jika Tania pembunuh yang mencelakainya.
Tapi tak diduga, Tania menunjukkan rasa ketakutan dan rasa cemasnya saat Elena terus mengatakan satu persatu kejadian kecelakaan tersebut.
"Anda gugup nona Tania," senyumnya penuh kemenangan.
"Kurang ajar!!"
"Lalu kenapa kalau memang gue pelakunya, gak ada bukti dan gak ada saksi," serunya menyeringai.
Namun bukannya ketakutan, Elena malah tersenyum penuh arti. Senyum yang membuat kening Tania berkerut keheranan.
"Ngapain loe senyum?"
"Kenapa!"
Tak mendapat jawaban membuat Tania menggila, ia mendorong keras tubuh Elena hingga tersungkur kelantai.
Kepalanya tanpa sengaja terkatuk sudut wastafel, Tania menatap Elena yang mulai tak berdaya. Namun tatapan itu beralih pada tas tangan yang dipegang terus oleh Elena.
__ADS_1
Tania yang curiga segera merebut tas tangan tersebut sambil berkata, " Jangan-jangan."
Tak ada tenaga, Elena hanya bisa terdiam saat Tania menggeledah tas miliknya dan menemukan ponselnya.
"Hahahaa, jadi ini yang membuat loe percaya diri!"
"Loe lihat ini baik-baik," serunya mengangkat ponsel Elena keatas kepalanya.
"Jangan," lemahnya mencoba menahan Tania.
Brakk..
Ponsel itu hancur tepat didepan mata Elena, rasanya begitu sia-sia bagi dirinya yang sedari tadi berpura-pura untuk memancing Tania mengakui kesalahannya.
"Hahah, lihatlah sekarang tak ada satupun bukti atau saksi buat kejahatan gue!"
"Brengsek," umpat Elena lemah.
Tania tak menggubrisnya, ia membalik tubuhnya. Menyalahan air dan mengisi penuh wastafel.
"Berdiri loe," Dijambaknya rambut Elena dengan begitu kasarnya.
"Sakit," kesakitan Elena saat mengikuti perintah Tania.
"Loe bakal tau apa itu kehabisan nafas yang sesungguhnya."
Blupp.. blupp..
"Hah hah hah," seru Elena mencoba menghirup oksigennya.
__ADS_1
"Edwart, tolong."