Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 56


__ADS_3

Renata dibuat begitu ketakutan, banyak orang kini tengah memburunya layaknya hewan buruan. Amarah yang memuncak akibat penolakan Tania membuat Renata kehabisan akal.


"Kemana lagi gue harus pergi," paniknya.


Matanya terus saja memadang kesemua arah, memastikan jika dirinya akan amaan dari kejaran orang-orang. Hanya disebuah parit sempit berbau busuk ia bisa tinggal, dan hanya tempat seperti itu yang membuatnya lolos dari mereka semua.


"Gila, bau banget nih pembuangan," gerutunya menutup hidung juga mulutnya.


Rasanya ia ingin muntah menghirup bau busuk yang menguap dari air parit, namun jika ia keluar sekarang hanya akan membuatnya tertangkap oleh mereka. Hidupnya yang dulu tentram kini berubah mengenaskan setelah ia mengenal Tania, model yang selalu dikaguminya yang ternyata tak sebaik apa yang ia perlihatkan dalam layar kaca.


"Gue bakal bikin perhitungan dengan loe Tania, loe udah bikin hidup gue kacau," dendamnya.


Lelah seharian berlari dari kejaran, Renata tanpa sengaja tertidur dengan memeluk kedua lututnya. Udara dingin mulai menusuk tulang-tulangnya hingga tersa begitu ngilu. Setelah memastikan tak ada lagi orang yang mengejarnya, Renata mulai naik kembali ke daratan.


Baru saja kedua kakinya berpijak, dua orang laki-laki sudah datang menyergapnya.


"Astaga, jadi kalian semua masih disini? Kenapa nggak nangkap gue sih," kesalnya.


"Kita cuma mau kasih kesempatan loe buat hirup gimana wanginya udara yang ada di pembuangan itu," bisiknya menyebalkan.


Ingin sekali ia cakar habis wajah mereka, namun apa daya jika kedua tangannya dikunci dengan kuat. Ia hanya bisa pasrah saat tubuhnya diseret mengikuti langkah kaki mereka.

__ADS_1


........


Jamuan makan malam telah usai, kini Putra mengajak Lia untuk segera pulang dengannya. Namun ketiganya nampak masih asik mengobrol hingga tak mendengar apapun yang sekitarnya bicarakan.


"Lia," panggil Putra.


"Lia," panggilnya lagi dengan nada sedikit naik, namun masih diam tak disahuti.


"Lia ayo pulang," teriak Putra mengejutkan yang lainnya hingga menutup kedua telinganya.


Dengan wajah cemberutnya Lia berjalan mengikuti langkah Putra didepannya, Yasmin juga Elena hanya bisa tertawa melihat kelakuan keduanya.


"Mbak Yasmin mau pulang bareng nggak," tawar Elena.


"Nggak usah El, gue bisa balik sendiri kok."


"Nggak baik perempuan pulang sendirian tengah malam, biarkan Jo mengantar anda," ucap Edwart.


"Tidak perlu, saya tidak ingin merepotkan orang lain tuan."


"Jo," panggil Elena.

__ADS_1


"Saya nona muda," maju selangkah menghampiri nonanya.


"Tolong kamu antar mbak Yasmin sampai rumahnya ya," pintanya.


"Baik nona. Mari nona Yasmin," mempersilahkan Yasmin berjalan terlebih dahulu.


Edwart memandangi istrinya dengan penuh rasa kagum, betapa baiknya El yang selalu perduli dan mengutamakan orang-orang terdekatnya. Ia mulai menggapai tangan El, menggandengnya menuju mobilnya terparkir.


Edwart tiba dirumahnya, namun El yang kelelahan tertidur sejak tadi dalam perjalanan. Ditatapnya wajah damai itu, terbesit niatan jahil dalam pikirannya Edwart mengeluarkan ponselnya.


Edwart membuat pose seolah-olah Elene sedang mencium pipinya dengan begitu gemas, hasil yang sangat memuaskan hingga dijadiakan wallpaper dari layar ponsel miliknya.


"Kamu berutang satu ciuman cantik, tunggu kamu bangun aja," gumamnya cekikikan.


Hati Edwart terasa berbunga-bunga, entah mengapa hanya menggendong istrinya sudah bisa membuatnya begitu bahagia. Tidur layaknya orang mati membuat Ed mau tapi mau membantu istrinya berganti baju.


Ia mencoba menahan diri, menahan agar tak tergoda dengan tubuh polos dihadapannya. Ia tak ingin menyerang istrinya dalam keadaan tak sadarka diri, yang ia mau adalah keduanya sama-sama setuju.


Namun tangannya mulai terulur, mencoba menggapai apa yang terpampang dihadapannya. Ia terus saja bertarung dengan akal sehat juga jiwa laki-lakinya. Ingin rasanya ia menyerang, namun ia enggak menyerang.


"Maafin ya."

__ADS_1


__ADS_2