
Jo bisa menghubungi Putra, kemudian Putra memberitahu dimana keberadaan ketiga gadis itu. Edwart meminta Putra untuk mendampingi dirinya menghampiri Elena di restoran miliknya. Selama perjalanan Ed nampak begitu gelisah dan sangat tak tenang, hatinya begitu gelisah juga ketakutan tanpa alasan yang jelas.
"Jo, bisa lebih cepet nggak," pinta Edwart menatap jalan.
Jo memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, kini yang difikirannya adalah bagaimana sampai dengan secepatnya. Jujur saja, Jo juga merasa khawatir sebab Tania sudah mulai bertindak diluar batasannya.
Tak lama mobilnya sampai dan Edwart juga melihat mobil Putra baru saja masuk dan terparkir. Ketiganya bertemu, kemudian Putra segera mengajak keduanya masuk kedalam restorannya.
"Dimana calon istri saya," tanya Putra pada manager yang kebetulan menyambutnya.
"Nyonya berada dirooftop bersama kedua temannya tuan," jawabnya.
Putra bergegas naik, entah mengapa ia juga tiba-tiba saja mencemaskan kondisi Lia tunangannya. Ada rasa cemas juga takut yang menghantui hati Putra, namun ia tak tahu cara menjelaskan bagaimana rasa itu.
"Pak Putra, apa kita masih lama," tanya Edwart yang sudah tak sabar.
"Sebentar lagi tuan, " seru Putra.
Di rooftop, Tania tersenyum menyeringai menatap Elena yang sudah tak berdaya. Bahkan untuk menopang tubuhnya saja ia sudah tak mampu, apalagi jika harus untuk melawan Tania.
__ADS_1
"Sini maju kalau bisa," tantang Tania.
Elena mencoba mempertahankan kesadarannya, ia tak ingin kalah dengan Tania yang begitu menyebalkan. Namun dadanya terasa begitu sakit, seolah ada yang mencekiknya hingga ia tak bisa menghirup udara dengan leluasa.
"Kenapa, nggak kuat jalan ya? Atau nggak bisa nafas karena mau mati," ejak Tania nampak begitu bahagia.
"Tutup mulut kamu," lawan Elena dengan terbata-bata.
"Loe nggak lebih dari wanita yang hanya bisa merebut milik orang, tapi loe nggak akan bisa merebut suami gue bahkan jika gue harus mati," ucap Elena dengan susah payahnya.
Ucapan itu menyulut emosi Tania hingga membuatnya ingin segera mengakhiri hidup Elena, namun beruntung Tania mendengar ada suara deru langkah hingga ia segera meninggalkan tempatnya.
"Kabur, dasar pengecut," hina Elena sebelum Tania benar-benar pergi. Emosinya memuncak mendengarnya, ingin sekali dicekiknya hingga mati namun apa daya ada orang yang akan datang.
Elena sudah tak mampu lagi menahan kesakitannya, tubuhnya begitu sakit dadanya begitu sesak. Dan saat mata itu akan menutup serta tubuh itu akan jatuh, El sempat melihat suaminya berlari kearahnya hingga semua gelap.
Edwart segera menangkap tubuh Elena yang akan terjatuh, panik rasanya saat menatap Elena diam tak bergerak. Putra bergegas menolong Lia begitu juga Jo yang bergegas menolong Yasmin yang sudah terkapar.
"Bawa sini semua paramedis," teriak Putra pada manager yang mengikutinya.
__ADS_1
"Ambulance sedang dalam perjalanan tuan," teriak managernya.
Jo merebahkan tubuh Yasmin, ia kemudian mendatangi Edwart dan menanyakan kondisi Elena. Jo menatap wajah panik tuan mudanya, ia begitu khawatir dengan kondisi nona mudanya kali ini.
"Tuan muda, bagaimana," tanya Jo.
"Jo, El nggak ada denyut nadinya. Nafasnya juga lemah Jo," panik Ed.
Tak lama beberapa paramedis datang, Jo berteriak meminta mereka segera memeriksa nona mudanya. Paramedis berpencar, Jo kembali menemani Yasmin hingga ketiganya dipindahkan dengan tandu menuju ambulance.
Billy baru saja keluar dari kamar mandi saat melihat ponselnya terus saja berdering. Ia begitu khawatir saat membaca pesan yang ditinggalkan Jo untuknya.
"Ma, mama," teriak Billy namun tak ada sahutan.
Billy segera berlari menuju lantai bawah rumahnya sambil berteriak, Maya merasa kesal mendengar suara teriakan suaminya itu hingga ia balik berteriak.
"Jangan teriak-teriak bisa kan pah."
"Elena kritis!"
__ADS_1
...‐Terima kasih semua atas dukungannya‐...
...‐Jangan lupa vote komen like juga favoritnya ya guys‐...