Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
Chapter 4


__ADS_3

Beberapa hari berlalu setelah perjanjian tersebut juga. Mikasa sedikit gugup, wanita bernama Rania itu tidak pernah absen untuk menghubunginya setiap hari. Dia tidak pernah benar-benar bersedia untuk pekerjaan seperti ini, resikonya berat bisa-bisa ia masuk penjara karena terlibat menipu orang tapi, balik lagi dengan uang yang bisa didapatnya. tiga puluh tahun bekerja pun belum tentu mendapatkan hasil seperti ini.


Pikiran Mikasa pun melesat jika, ia ketahuan bukan hanya dirinya tapi juga wanita itu juga akan terseret sebagai dalang utamanya. Mikasa sudah bersiap juga untuk membuat surat perjanjian sebagai bukti jika kelak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. “Hanya beberapa bulan, kan?” tanya Mikasa dari sambungan teleponnya.


Rania diseberang sana meyakinkan lagi dan lagi jika, semua akan baik-baik sampai adiknya Marisa kembali saat itu. Mikasa hanya perlu menggantikan sosok Marisa yang menghilang. Tiga bulan berlalu begitu saja tanpa kabar dan sudah sangat membuat khawatir kedua orangtuanya terutama, sang Ibu yang akhirnya jatuh sakit karena terlalu merindukan anak gadisnya yang entah ada di mana. Kemudian, sebenarnya masih ada tujuan yang masih disembunyikannya.


“Kak? Kamu masih di sana?”


“ Yah, aku masih di sini.” Rania tersenyum mendengar Mikasa bersedia memanggilnya dengan sebutan Kakak, rasanya menjadi lebih dekat dan akrab. Meski, yah dia sendiri yang memintanya untuk menyebutnya Kakak karena jelas dia lebih tua dari gadis itu. Dan satu hal lagi, yang sampai saat ini membuatnya bingung. Wajah Marisa dan Mikasa bak pinang dibelah dua seakan mereka adalah anak kembar. Meski, Rania percaya di dunia ini akan ada manusai yang memiliki kemiripan tapi, bukan tidak mungkinkan sampai ada duplikat.


“Oh, jadi apalagi yang harus kupersiapkan.”


“Tidak ada, yang terpenting siapkan dirimu saja baik-baik dan kelak ikuti semua intruksiku.”


“Baiklah, kalau begitu aku hanya tinggal datang ke sana lalu … bagaimana dengan pekerjaanku di bar?”


“Kau masih mau bekerja ditempat seperti itu? Jangan gila … berhenti dari sana.”


Mikasa terdiam cukup lama, ia sedang berpikir. “Mendapat pekerjaan itu sangat sulit aku sangat butuh uang—“


“Sudah kukatakan bukan. Kau akan dapat uang saku bulanan jadi tidak perlu khawatir dan untuk uang pokoknya jika kamu memang sangat butuh dan terdesak aku akan beri setengahnya dan setengahnya setelah pekerjaanmu selesai.”


Mulut Mikasa terbuka, menganga tak percaya.”Sungguh, Kak? Kakak akan berikan setengahnya?”


Setelah mendengar kepastian tentang uang itu juga menutup sambungan teleponnya Mikasa tidak tahan untuk tidak terkikik bahagia, meloncat ke sana kemari senang bukan main. Namun, sayang kali ini ia tidak bisa membagi kebahagiannya dengan kedua putra kembarnya yang tengah berada di rumah nenek mereka. Dan, soal pekerjaan Mikasa lebih bahagia lagi, ia tidak perlu lagi bekerja di Bar tersebut dan beberapa bulan setelah pekerjaanya selesai ia berpikir untuk berinvestasi sampai bisa membuatnya membeli toko.


Mengingat hal itu, bayangan masa depan Mikasa tengah melanglang buana. Ia tidak sadar sebenarnya sedang berada di sebuah tempat pembelanjaan umum. Tingkahnya sejak tadi sudah beberapakali di lirik oleh orang sekitar. Tersadar akan hal itu wajah Mikasa memerah, ia segera menyelesaikan makan siangnya dan beranjak pergi. ‘Aish, sial! Mika, Mika … lo emang gak punya malu. Kesenangan denger mau punya uang aja lo udah norak gak liat tempat lagi.’


**

__ADS_1


“Ka, lo mau beli apa, sih? Harusnya kita ke sini?”


“Yah, Re … apa salahnya juga, sih, main di tempat gini.”


Reas menggeram kesal. “Terus kenapa juga aku harus ikut? Pergi sajalah sendiri.”


“Yahh!” Parka menarik lengan Andreas. “Temenin dulu. Aku, tuh lagi cari kado buat cewek, Re, Please!”


“Cari aja lewat online, gak perlu jalan kayak gini.” Reas menepis tangan Parka, memutar bola matanya sebal dengan kebodohan saudaranya.


“Yah! Mana asyik Bambang!” Jengkel Parka, yang melihat kekesalan Andrea. “Gue kan mau cari yang special. Lagian kita,tuh dah lama banget belom ke sini lagi. Kita cari temen-temen kita nanti, janjian di sini juga gimana?”


“Terserah.” Malas Andreas menyahuti Parka dan memilih berjalan sendiri. Hingga, tanpa sengaja matanya menagkap siluet wajah seseorang yang familiar. ‘Marisa?’ wanita itu tengah berdiri di depan sebuah toko tampak sedang melihat-lihat sesuatu yang terpajang.


“Bukannya dia Marisa?”


“Re, ayo, sapa dia. Sebentar lagi kalian, kan akan bertunangan.”


Sudut mata Andreas melirik Parka. “Kenapa juga kita harus menyapa. Biarkan saja.”


Tetapi, seolah perkataan Andreas adalah angin Parka sudah mengangkat tangannya untuk melambai dan berseru keras. “Risa, Marisa!”


Mikasa mendengar teriakan tersebut tetapi, sebagai orang yang tidak merasa ia hanya melirik acuh seseorang yang berteriak entah pada siapa kemudian, dengan santai melanjutkan langkahnya memasuki sebuah toko Bakery.


“Apa dia tidak mendengarnya? Lalu,buat apa dia berbalik dan tak mengacuhkan kita? Jelas, dia jadi sombong sekali,” Omel Parka sekarang dia tampak jadi lelucon karena berteriak di tempat terbuka dan tidak ada yang menyahut sungguh membuat malu.


“Ayo, ke sana kita buat perhitungan!”


Andreas menjauhkan diri dari manusia bernama Parka. Ia malu punya saudara yang tidak punya malu tapi, untuk perkataan terakhirnya Andreas merasa ia tidak bisa tak acuh. Ia ingin bertegur sapa dengan wanita yang sudah tiga tahun mengejarnya ini.

__ADS_1


“Sudah kubilang jangan memanggilnya masih saja ….,” runtuknya sambil kembali berjalan ke toko Bakery ke tempat yang sama di mana Marisa – wanita yang disangkanya itu—masuki.


Di dalam sana Mikasa tengah asyik memilih-milih kue kesukaan yang akan dibawanya untuk si Kembar juga tentu saja sedikit untuk mantan mertuanya karena mungkin ia harus siap menitipkan si Kembar kembali pada mereka jika, ia akan bekerja menjadi pengganti sementara di Keluarga Aksara. Mikasa menolak menyebut dirinya penyamar apalagi penipu. Ia hanya dimintai tolong tidak lebih.


“Kamu mau beli apa?”


Mikasa mendongak mendengar seseorang yang seolah tengah bertanya padanya. Senyum manis merekah di bibir merahnya ketika ia melihat seorang pria tampan tengah menatapnya. “Em, beli kue,” jawabnya kikuk.


“Masih bodoh seperti dulu?”


“Apa maksudmu?” Mikasa mengerutkan kening ia sensitive ketika dipanggil bodoh.


“Tentu saja. Kenapa kau tidak datang saat dia… “Tunjuknya pada Parka yang baru saja melangkah ke arah mereka. “ memanggilmu?” lanjutnya.


“Kapan kalian memanggilku? Jangan sok kenal yah,” Ketus Mikasa jadinya, “Modus banget.”


“Hai, Risa. Kamu gak kenal sama kami?”


“Risa?”


“Marisa Aksara.” Tiba-tiba Andreas memanggil nama lengkap gadis itu.


Alarm di otak Mikasa berdenging, belum juga ia melakukan pekerjaanya sudah ada orang lain yang salah paham. ‘Apa iya sampai mereka salah sangka begini, aku ini sangat mirip dengan orang bernama Marisa itu. Sekarang bagaimana?”. Raut wajah Mikasa berubah sedikit gugup, menggigit bibirnya seolah menjadi kebiasaanya saat seperti ini.


“Oh, ah …. Sebaiknya aku pergi.” Mikasa memilih melarikan diri, ia tidak siap bertemu dengan kenalan wanita bernama Marisa tersebut. beruntung kali ini, Andreas dan Parka tidak mengejarnya.


“Dia pergi?” Heran Parka.


“Kenapa dia pergi?” tanya Andreas dengan raut tidak senang. “Apa salah satu dari kita itu setan?”

__ADS_1


__ADS_2