Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 93


__ADS_3

Apa yang sebenarnya tengah Malik lakukan itu membuat Tania merasa curiga dan merasa jika posisinya kini sangatlah terancam. Tak hanya itu saja, keberadaan Matius disisi Malik menambah kesulitan tersendiri bagi wanita itu.


Dan disaat Tania tengah kesal dengan sikap Malik juga Matius, kini Malik merasa begitu bahagia hingga langit dinegaranya berganti dengan langit dimana little princessnya tinggal kini.


"Matius, ini sudah malam. Apa kita tidak menggangu mereka?"


Malik sangatlah gugup, benar-benar gugup hingga rasanya ingin sekali mengurungkan niatnya. Namun kekuatan Matius yang sangat kuat mampu meyakinkan tuannya jika semua akan baik-baik saja dan itu membuat Malik kembali yakin dengan keputusannya.


Rasanya mobil yang saat ini dinaikinya berjalan begitu lamban, sangat lamban hingga membuat Malik beberapa kali memprotes supirnya. Matius mencoba menenagkan tuannya, namun itu hanya bertahan sebentar hingga tuannya kembali mengamuk.


"Astaga, bisa-bisa kita sampai tengah malam ini," kesal Malik.


"Bersabarlah tuan, lebih baik sekarang anda fikirkan kata-kata apa yang akan anda sampaikan jika bertemu dengan keponakan anda."


"Benar juga kamu, kenapa nggak bilang dari tadi sih."


Dan benar saja, sepanjang perjalanan Malik hanya terdiam sambil bibirnya menggumamkan sesuatu. Matius mengukir sedikit senyum pada wajahnya, ia tak menyangkan jika tuannya begitu gugup bahkan lebih gugup saat ingin membeli sebuah perusaahaan ternama.


"Kita sudah sampai tuan," ucap sang supir.


Mata Malik melotot mendengar apa yang disampaikan sang supir, ia belum siap sangat-sangat belum siap. Bahkan kata-kata yang dirangkainya saja belum usai dan masih sangat kaku, dan sekarang ia sudah sampai?????


"Kenapa sudah sampai ini," kesal Malik lagi.


"Tapi tuan tadi-


"Itu kan tadi, sekarang saya masih merangkai kata malah udah sampai. Belum selesai kata-kata saya ini."


"Tuan tenanglah, semua akan baik-baik saja. Ada tuan Edwart yang akan membantu anda didalam."


"Matius, apapun yang terjadi jangan jauh-jauh dari saya. Saya takut pingsan nantinya," ucapnya memegangi dadanya. Sedang Matius tersenyum juga menganggukan kepala.

__ADS_1


Sedang didalam rumah Elena merasa heran saat semua pelayan tengah menyiapkan makan malam yang sangat banyak tak seperti biasanya. Tak hanya itu, bahkan rumah terasa berbeda suasananya.


"Ada apa ya ini," gumam El sambil melihat sekelilingnya.


Banyak bunga yang menghiasi sudut rumah, bunga segar yang sangat membuat dirinya begitu nyaman. "Aduh, wanginya," menciumi bunga lili yang ada di dekat tangga.


Entah apa yang kini di fikirkan Elena, perlahan lidahnya menjulur dan mendekati kelopak bungan lili.


"Eh mau apa itu," teriak Edwart dari atas tangga. Edwart membulatkan matanya melihat istrinya yang seakan ingin memakan bunga hiasnya.


"Sayang bikin kaget aja sih," kesal El menatap suaminya yang kini ada didepannya.


"Mau ngapain tadi?"


"Nggak ngapa-ngapain kok, cuma mau ngerasain aja bunganya."


"Itu bunga bukan makanan, kenapa mau dirasain," omel Edwart pada istrinya.


"Ada apa ini," tanya Maya yang datang bersama dengan Billy menghampirinya.


El berjalan menghampiri mamanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Mama."


"Ada apa nak," tanya Maya mengelus kepala menantunya.


"Mulai lagi drama nya, ntar gue lagi yang kena ini pasti," gumam Ed melihat tingkah istrinya.


"Apa yang kamu lakuin sampai istri kamu sedih gini sih Ed," tanya Billy yang merasa begitu heran dengan anaknya.


"Papa tanya sendiri aja sama menantu kesayangan papa itu, kenapa aku marahin dia."


Billy menatap El yang kini menyembunyikan wajahnya pada pelukan Maya, sambil mengintip sedikit ia pun membuka suaranya.

__ADS_1


"El cuma mau ngerasain bunga itu aja kok pah," tunjuknya pada bunga yang ada diujung tangga.


"Pantas saja suami kamu marah-marah nak."


"Sayang, kenapa kamu mau makan bunganya," tanya Maya perlahan.


"Tadi aku lewat kan mah, terus baunya itu harum banget. Nah aku penasaran sama rasanya."


"Terus kalau keracunan gimana tadi, gimana kalau kamu kenapa-kenapa."


"Ih sayang mah doa nya jelek-jelek."


"Bukan doa in yank, tapi kamu itu yang aneh masa bunga mau dimakan," menepuk dahinya.


Maya juga Billy hanya bisa menggelengkan kepalanya saat kedua anaknya kini tengah berdebat didepanya. Enggan sekali rasanya kalau harus melerai mereka berdua, hingga tiba-tiba seorang pelayan datang menegur mereka semua.


"Malam tuan, nyonya."


"Ada apa," tanya Edwart.


"Diluar ada tamu yang mencari tuan Edwart."


Mereka semua menyambut kedatangan Malik dengan rasa deg-degan, namun tidak dengan El yang nampak biasa saja bahkan fokusnya hanya bunga lilinya.


"Sayang, ini tuan Malik."


"Malik," tersenyum.


"Hai, Elena."


Hai semuanya .. maaf ya kalau masih ada typonya, tapi itu nggak disengaja . And makasih supportnya, semoga kalian selalu menikmati ceritanya❣

__ADS_1


__ADS_2