Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
Chapter 5


__ADS_3

Dada Mikasa berdebar kencang, tidak mengerti dengan apa yang baru apa saja terjadi. Sebuah kejutan besar hal ini bisa terjadi begitu cepat, di luar dugaan. Segera setelahnya Mikasa tanpa pikir panjang menghubungi Rania dan mengatakan apa yang baru saja dia alami. Secepat yang wanita itu bisa, ia pun langsung berlari menemui Mikasa.


“Jadi, apa yang sebaiknya kulakukan? Di masa depan aku pasti bertemu dengan orang-orang yang mengenal adikmu, kan?”


Rania menatap wanita yang sangat mirip dengan adiknya itu sekali lagi, mendesah panjang. “Tentu saja. Kamu pasti akan melihat semua kenalan kami … lalu.” Cukup lama Rania menjeda perkataannya. “Apa kamu benar-benar yakin jika kamu bukan Marisa?”


“Ya, Tuhan. Kau masih tidak percaya juga.” Mikasa sama-sama menghela napas, matanya berputar mengelilingi tempatnya berada. Di kontrakan kecil miliknya yang kini tengah tenang. Beruntung anak-anaknya bersama kakek-nenek mereka, dalam hati Mikasa akan merahasiakan hal ini terlalu beresiko jika orang lain tahu tentang kedua anak kembarnya. “Ah, ya! Kak Rania lagi-lagi tidak percaya. Bagaimana jika aku akan perlihatkan ijazah saja sekolahku saja dan yang paling penting aku bersumpah masih mengingat semua hal yang kualami dari kecil sampai sekarang.”


Rania sepertinya tidak bisa menyangkal lagi jika apa yang dikatakan Mikasa memang benar. Lalu, apa ini semua hanyalah sebuah kebetulan saja jika mereka berwajah sangat mirip? Rania tidak tahu dan hanya bisa mendesah berat dalam hatinya. “Jika sudah seperti ini … sebaiknya kamu secepatnya bersiap, aku akan segera membawamu pulang,” ujarnya memutuskan jika ide gilanya akan tetap berjalan.


“Kak Rania tidak takut jika, ada orang lain yang bisa tahu jika aku bukan Marisa.”


“Kalau begitu, jangan biarkan orang lain tahu,” ujarnya. Lalu, menambahkan.”Tapi, aku yakin tidak akan ada yang tahu. Kecuali, jika rahasia kita ini bocor keluar.”


Mikasa berjalan cepat, ia sudah terlambat untuk bertemu Rania. Sebelumnya, ia akan dijemput tapi Mikasa menolak karena dia harus pergi terlebih dulu ke rumah mantan mertuanya untuk menemui anak\-anaknya. Lagipula, ia pikir tempatnya tidak jauh tetapi, tidak beruntungnya! Anak\-anaknya menjadi sangat rewel membuatnya tertahan cukup lama.

__ADS_1


“Maaf, aku terlambat,” ujarnya ketika melangkah masuk dan melihat Rania yang duduk sambil membaca majalah. Mikasa tersenyum lembut dengan napas memburu, hembusan angin dari penyejuk ruangan membuatnya bernapas semakin lega. Wajahnya yang berkeringat sebelumnya pun dengan cepat kering, rasa penatnya berdesakan di dalam bus kota terbayarkan. Udara di ruangan membebaskan dari ketidakberdayaan jalanan kota yang macet.


Rania segera meletakkan majalahnya. Tersenyum, tidak tampak keneratan dengan keterlambatan Mikasa.“Tidak masalah. Kemarilah!”


Kaki Mikasa mengikuti langkah Rania, berjalan lebih ke dalam. Ini pertama kali baginya masuk sebuah salon mewah dengan interior kelas atas. Keyakinan yang bisa dipercaya mengingat gedung ruko salon ini berada di deretan kawasan mewah tetapi, yang sedikit membuat heran tidak terlihat adanya pengunjung.


“Mey, dia udah di sini.” Rania memanggil seorang pria tampan yang bergerak sedikit gemulai dengan senyum cemerlang sebelum akhirnya, jatuh menatap orang yang ditunjuk Rania,


“Ya, Tuhan. Risa?”


“Bukan, Bodoh. Aku kan sudah bilang. Bagaimana? Mereka terlihat sama persis bukan?”


"Awas saja kalau berani. " Tantang Rania.


Mey, pria setengah wanita ini memutar bola matanya, malas berdebat lagi. Ia memilih mengalihkan perhatiannya lagi pada sosok yang mirip Marisa, melambai ringan. “Jangan diam saja di sana, ayo, kemari.”

__ADS_1


Panggilan tersebut akhirnya, bisa memecah keheningan sementara dan juga rasa kikuk Mikasa. Dimulai tahap pertama dalam operasi penyamaran Mikasa dan tentu saja yang harus pertama kali diubah adalah penampilan, ia harus tampak lebih sempurna menyerupai wanita bernama Marisa. Rambutnya yang semula diwarnai pirang kini kembali jadi hitam kemudian sedikit dipotong lebih pendek membuatnya tampak lebih segar dari sebelumnya. Make up yang digunakan pun hanya setipis debu tetapi, cukup membuatnya wajah cantik Mikasa tampak lebih segar.


“Wow, professional memang beda,” Ujar Mikasa sendiri tidak percaya, ia merasa lebih cantik dari sebelumnya biar saja disebut narsis yang terpenting ia bahagia.


“Tentu saja, jangan meragukanku. Meylan.”


“Mana mungkin aku meragukanmu.” Balik Mikasa menatap Meylan sebelum berbalik ke Rania.


“Bagus. Jika mereka berdua bersanding aku jamin tidak ada yang bisa membedakannya.”


Mikasa diam bosan mendengarnya. Ia memilih berswafoto, menikmati kecantikan dirinya. Setelah ini, kebebasannya pasti akan sedikit terkekang. Dirinya harus siap dan mengantisipasi segala kemungkinan. Pekerjaan menyamar menggantikan sosok orang lain itu tidak mudah. Dan, yang terpenting ia harus hati-hati untuk melindungi dirinya dan kecelakaan yang tidak diinginkan.


“Kau sudah selesai?” tanya Rania kali ini yang sudah mengaitkan tas tangannya di lengan tampak sangat elegan. “kita harus ke tempat lain lagi.”


“Ke mana?”

__ADS_1


“Nanti kau juga tahu.” Rania menarik tangan Mikasa ke sisinya, lalu melambai pada Meylan, “Say, Thank you. Nanti kita balik lagi.”


“Ok, Your welcome.” Meylan mendesah, sedikit tidak percaya saat mengingat sosok Mikasa. “Risa, sebenarnya loe pergi ke mana, hah?”.


__ADS_2