Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 118


__ADS_3

...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Dan semua orang kini menunggu dengan cemas didepan ruang perawatan dimana yang lainnya sedang dalam pengobatan. Elena nampak begitu cemas hingga sesekali ia merasa kan kram pada perutnya, beruntung Maya menyadarinya dan memintanya untuk tetap tenang dan duduk.


"Dokter bagaimana mereka semua," tanya Billy saat melihat seorang dokter keluar dari ruang perawatan.


"Syukurlah tidak ada luka yang terlalu serius, hanya menderita luka luar yang ringan."


Semua orang menarik nafas leganya, dan tak lama satu persatu dari mereka keluar dari dalam ruang perawatan.


"Tuan suami," panggil Elena yang berhambur kedalam pelukan suaminya.


"Aku gpp kok, suami kamu masih sehat ngapain ditangisin sih," ucap Edwart yang melihat Elena menangis dipelukannya.


"Aku kan khawatir kamu kenapa-kenapa," ucapnya memukul perlahan lengan suaminya.


"Nggak khawatir sama om nih," tanya Malik yang berpura-pura merajuk dengan keponakannya.


Elena memeluk erat tubuh Malik, ia juga begitu bersyukur karena satu-satunya keluarganya masih selamat dalam peristiwa ini. Elena tak hentinya bersyukur saat menatap satu persatu dari mereka yang masih ada bersama dengannya dengan senyum ceria.


"Apakah ada keluarga dari korban atas nama Tania?"


Seorang suster datang menanyakan keluarga Tania, membuat pandangan Malik ini beralih menatap suster yang sedang berdiri dibelakang tubunya.


"Saya keluarganya," seru Malik melangkahkan kakinya.


"Mari ikut kami untuk mengurus jenazahnya pak."


Begitu berat bagi Malik saat hendak melangkahkan kakinya, ia tak bisa memungkiri hatinya jika ia masih sangat menyayangi Tania terlepas dari apapun yang sudah diperbuatnya. Langkah yang sungguh berat dengan hati yang digempur tanpa ampun, Malik serasa berdiri ditengah api.


"Om," panggil Elena yang menggenggam tangannya.


Malik memalingkan wajahnya, ia tak ingin menatap keponakannya itu sebab ia tak ingin Elena tahu apa isi hatinya saat ini.


"Aku temanin ya," ucapnya.


Malik hanya menganggukan kepalanya, menggenggam jemari Elena melangkah beriringan bersama menuju tempat Tania.


"Silahkan masuk dulu untuk melihat jenazah sebelum kita sucikan."

__ADS_1


"Terima kasih sus."


Kakinya terasa begitu berat, matanya begitu panas ketika membaca ruangan apa yang kini ada didepan matanya. Elena paham bagaimana perasaan om nya, sedikit banyak ia juga tahu bagaimana hubungan Malik dengan Tania dari suaminya.


'Aku tahu apa yang om rasain saat ini, tapi percayalah om mungkin ini jalan terbaiknya," ucap Elena yang menyandarkan kepalanya pada lengan kokoh Malik.


"Om bahkan tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi, om nggak pernah terpikir kalau kami akan dipisahkan dengan maut," sendunya.


Nggak ada kata ikhlas yang mampu Elena ucapkan untuk situasi Malik saat ini, Malik tak butuh ucapan apapun ia tak butuh hiburan apapun disaat kondisinya seperti ini. Yang Malik butuhkan saat ini adalah tetap ditemani dan didampingi.


"Kita masuk om," ajak El yang menggandeng tangan Malik masuk.


Jasad Tania kini tepat berada didepan keduanya, ledakan itu setidaknya melukai sebagian tubuhnya hingga hancur. Malik tak kuasa lagi, ia luruh kehilangan kendali atas dirinya. Malik yang terlihat kuat setiap harinya kini menangis sejadinya dibawah jasad Tania, menangisi wanitanya yang telah pergi mendahuluinya.


Elena tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa memeluk mendekap tubuh Malik. Elena sendiri begitu tak kuasa saat melihat kondisi terakhir dari Tania, sejahat apapun Tania namun ia jugalah manusia yang punya salahnya.


Berteman dengan hembusan angin serta awan mendung, kini Tania sudah benar-benar pergi meninggalkan semuanya. Tubuhnya tertutup dengan tanah merah itu, berhiaskan taburan bunga dengan harus yang saling melengkapi satu sama lain.


"Kita pulang om," ajak Edwart yang memapah tubuh om nya tersebut.


...


6 bulan kemudian,


"Om, " teriak Elena yang kini berada dirumah milik Malik.


Rumah yang saling berdekatan memudahkan Elena untuk pergi mengunjungi atau bahkan menginap dengan om nya tersebut. Seperti hari ini, wanita hamil itu dengan keinginannya yang tak terbantahkan mendatangi Malik untuk meminta sesuatu.


"Ayo, aku pengen beli manisan lagi," rengeknya.


Malik perlahan turun menghampiri keponakannya itu dengan senyuman diwajahnya, ia tak menyangka jika keponakannya itu akan semenggemaskan ini bahkan ketika ia datang dengan perutnya yang besar.


"Kenapa beli manisan lagi sih, kan suami kamu udah nggak ngebolehin," tanyanya sambil membelai kepala keponakannya.


Elena hanya terdiam membuang muka sambil mengerucutkan bibirnya. Malik paham sekarang kenapa dengan keponakannya itu, Elena hanya akan merengek kepadanya ketika ia sedang bertengkar dengan suaminya.


Dan benar saja, kini Edwart datang dengan mimik muka yang kesal. Bagaimana tidak, istrinya itu keluar rumah tanpa seijin juga tanpa ia tahu. Wanita berperut besar itu merajuk dan meninggalkan rumah begitu saja, membuat panik dirinya yang terus-terusan cemas dengan tingkahnya.


"Om, kasih tau ini istri aku," adunya pada Malik.


Malik tersenyum melihat tingkah keduanya, ia merasa begitu terhibur dengan keduanya. "Ada apa lagi ini, masalah apa lagi?"


"Nggak ada," ketus Elena.


"Dih apanya yang nggak ada, om tahu nggak keponakan om ini ngidam apa," ucap Edwart dengan penuh semangatnya.


"Memangnya nona Elena ngidam apa lagi nak Ed," tanya Matius yang berjalan mendekatinya.


"Aneh pokoknya. Masa iya dia minta naik rollcoster," ucap Edwart.


Malik juga Matius saling berpandangan lalu keduanya tertawa bersama, mentertawakan keinginan Elena yang begitu tak masuk akal.

__ADS_1


"Nggak ada yang lucu, aku kan pengen om," kesalnya melipat kedua tangannya didada.


"Udah ya, daripada kesal gini mending kamu naik bantuin Yasmin memilih baju pengantinnya," ucap Malik pada keponakannya.


Benar, semenjak kejadian itu Malik memang meminta Yasmin untuk tinggal bersama dengan dirinya dengan Matius. Tak ada niat lain selain menjaga gadis yang telah menyelamatkan keponakannya, hanya itu saja dan Yasmin menyetujuinya.


Dan berkat dorongan dari Elena jugalah Jo memberanikan dirinya untuk mendatangi Yasmin dan memintanya untuk menjadi istrinya. Meminta seorang wanita untuk menemani hidupnya dalam kondisi susah maupun senang, dan jawaban Yasmin adalah hari ini.


Akad nikah yang begitu sederhana disebuah gedung tak jauh dari rumah Malik, pernikahan sederhana itu tetaplah pernikahan yang mewah ketika Elena yang mendekorasinya.


Berbalut kebaya putih, Yasmin masuk kedalam ruangan dengan didampingi Maya serta Elena yang nampak sudah begitu kesulitan untuk berjalan.


"Dasar ibu hamil itu susah sekali dikasih taunya, " gumamnya yang melihat sang istri berjalan dengan terus memegangi perutnya yang membesar.


"Mau bagaimana lagi Ed, terimalah apa adanya istrimu," ucap Malik menimpali Edwart dengan senyumannya.


Semua acara berjalan dengan lancar, ijab kabul bahkan begitu lancar saat Jo mengucap dengan lantang tanpa kesalahan. Kini semua tengah menikmati makanannya dengan sesekali saling bersenda gurau.


"Kalau mau jebol Yasmin pelan-pelan ya kak Jo, jangan kayak ini," sindir Elena dengan lirikan matanya.


"Memangnya kenapa dengan aku," tanya Edwart yang merasa disindir sang istri.


Elena meletakkan alat makannya dengan keras hingga menimbulkan suara, matanya melotot melihat sang suami yang sedang menikmati makanannya.


"Kenapa? kamu jebolnya kan pakai emosi, nggak sabaran terus ememmmmmm."


Edwart begitu kelabakan hingga terpaksa membungkam mulut istrinya, semua orang hanya bisa menggelengkan kepalanya. Namun tiba-tiba Elena merasa nyeri pada bagian perutnya, ia meremas kuat lengan suaminya.


"Ada apa sayang," panik Ed melihat wajah El yang tiba-tiba begitu pucat.


"Sakit yank, aku pipis," ucapnya terbata-bata.


Semua orang secara bersamaan melihat kebawah Elena, dan benar saja ada cairan yang mengalir dari kakinya.


"Kamu ngompol yank," tanya Edwart begitu heran.


"Sakit yank," meringis menahan sakit.


bugh, Maya memukul putranya.


"Istri kamu mau melahirkan, bukan ngompol," omelnya.


"Apaaa," teriak semua bersama.


Semua orang panik, Yasmin dibantu Jo berusaha berlari mengambil kunci mobil, sedang Malik juga Matius berlari mencari bantuan juga Maya dengan Billy berlari pulang untuk mengambil perlengkapan Elena.


Tinggalah Edwart seorang diri dengan Elena yang kesakitan, hanya bisa menatap mereka yang heboh meninggalkan dirinya jadi sasaran pelampiasan sang istri.


"Jangan kaburrrrrrrrrrr."


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...

__ADS_1


......‐END‐......


__ADS_2