Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
Chapter 6


__ADS_3

Seseorang tengah berdiri di puncak gunung, tangannya terentang dengan mata tertutup menarik napas kuat-kuat, senyum lebar dibibirnya menunjukan kepuasan. Tidak ada yang tahu siapa gadis itu, sejak awal ia hanya berjalan sendiri tanpa ada yang menemani membuat beberapa kali di antara pendaki menawarinya untuk ikut bergabung tapi, dengan sopannya ia menolak semuanya. Tetap memilih berjalan sendiri menikmati tiap langkah yang ia ambil.


Marisa membuka matanya, hamparan langit yang luas terbentang luas di depan pandangannya. Sebenarnya, apa yang ia cari tidak juga bisa lagi di mengertinya. Ia punya keluarga yang begitu menyayanginya, punya uang yang cukup untuk dihabiskannya juga, memiliki kebebasan atas apa yang dikehendakinya terkecuali, kehendak atas perasaan orang lain terhadapnya yaitu, cinta. Tergila-gila pada seorang pria bertahun-tahun lamanya tetapi, tak juga bisa dimiliki membuat Marisa frustrasi sekaligus lelah hati.


Raut wajah Marisa berubah ketika mengingat hal itu. Sungguh salah satu penyakit didirinya yang sulit ia hilangkan yaitu, Kekeraskepalaannya yang membuatnya seperti orang bodoh. Lihat saja sekarang, ia sendiri. Marisa menyesali keputusannya menolak mereka yang mengajaknya bergabung. “Risa, Risa lo emang g888lok …, kan perut laper.”


Marisa berjongkok, menahan perutnya yang kosong sejak semalam. Ia tidak baik dalam memperkirakan jika bekal makanannya untuk dua hari dua malam akan cepat habis. Entah karena dia bergerak terlalu lambat? Atau makanan yang dibawanya terlalu sedikit dua botol air, dua kantong roti juga tiga cup mie seduh. ‘Hiks, luar biasa Marisa kau memang bersiap untuk cari mati’batinnya menangis.


“Kamu lapar?”


Telinga Marisa langsung berdering, dengan cepat kepalanya mendongak melihat siapa yang sedang berbicara. Seorang pria tampan dengan kumis tipis, tubuhnya tegap dengan senyum menawan. ditangannya terdapat gelas dengan uap panas. “Bapak siapa?”


“Apa aku sebegitu tuanya, kah?” jawabnya dengan kekehan tapi, tampak dia tidak terlalu mempermasalahkannya. “Aku datang dengan putriku,” tunjuknya pada seorang gadis berjaket merah tebal melambai ke arah mereka. Gadis itu sedang duduk di depan tendanya bersemangat memakan mienya.


“Aku dengar kamu datang sendiri dan menolak semua tawaran yang lain tapi, tampaknya kamu juga gak memiliki persiapan. Mau sampai kapan di sini?”


Marisa menelan ludah pahit, ingin sekali mengubur wajahnya di tanah tapi, dia tidak punya nyali juga. “Secepatnya, mungkin setelah ini aku juga segera turun gunung.”


“Ah, ya. Kami juga setelah makan, beristirahat sebentar akan turun.”


Marisa hanya berani mengangguk. Herman meliriknya lagi, merasa kasihan. “Tapi, kau tidak akan punya tenaga jika tidak makan dan minum. Ayo, berkumpul di sana … yah, jika kau bersedia.”


Menimbang dan berpikir Marisa tidak punya pilihan. “Terimakasih. Aku akan benar-benar merepotkan.”


“Tidak masalah,… ini.” Herman menyerahkan gelas yang tadi dipegangnya. “Sebelumnya, aku tidak akan menyerahkan gelas ini jika, kau menolak.”

__ADS_1


“Kenapa?”


Herman mengangkat alisnya. “Kenapa? Kamu –“


“Ah, tidak.” Potong Marisa sadar kekeliruannya. “Terimakasih, aku terbantu karena ini.” Tanpa menunggu ia meneguk susu coklat hangat ditangannya, Marisa sungguh haus dan lapar.


***


Di tempat lain. Mikasa terpaku diam dengan mimik tidak percaya, menatap jejeran pakaian branded dengan mudah sebentar lagi bisa dimilikinya. “Kak Rania yakin mau membelikan aku baju-baju ini?”


“Tentu saja, kamu tinggal pilih mau yang mana?”


“Kak, Kakak anak sultan,yah?” tanya Mikasa ngaco, seraya berjalan menyentuh sisi-sisi pakaian mahal itu.


“Tidak heran, Kak Rania juga sangat modis.” Mikasa berbalik melihat Rania, menatap cukup lama sebelum akhirnya ia dengan berani menebalkan wajah tidak tahu malunya. “Tapi, Kak … setelah pekerjaanku selesai. Apa baju-baju ini … harus kukembalikan?”


“Tidak perlu dikembalikan. Setelah selesai, yang jadi milikmu bisa kamu bawa pergi.”


Mikasa terpekik senang, “Yes!” Segera setelahnya Mikasa berlari menjelajah butik di sini dan mengambil barang-barang yang ia suka dan Rania tidak berniat mencegahnya.


‘Huh, beruntungnya. Aku tidak membawanya ke tempat yang lebih mahal lagi dari ini ….' Hati, orang tidak bisa ditebak. Apalagi, orang yang sebelumnya tidak mampu mendapatkan peruntungan seperti ini biasanya mereka suka lupa diri,’ ungkap Rania dalam hati.


Mikasa juga bukan tidak tahu diri, ia hanya sering lupa diri tiap kali mendapatkan hal gratis. Hidup seorang diri selama ini dengan menahan semua keinginan itu sulit lalu, kemudian saat mendapatkan kesempatan tentu saja lebih sulit dilepaskan. Tetapi, bukan berarti dia tidak tahu malu juga,kan?. “Kak, ini sepertinya jadi banyak sekali. Aku kembalikan setengahnya,yah?”


Rania melihat barang-barang yang sudah terbungkus berjejer di lantai. “Tidak perlu, biarlah,” ujarnya setelah menghela napas. Rania tentu saja akan malu jika ia sampai mengembalikan barang-barang yang sudah terbungkus itu, mereka akan meremehkannya dan menganggapnya tidak mampu meski, ia sebenarnya sangat mampu.

__ADS_1


“Benarkah? Sunggun tidak masalah?” tanya Mikasa meyakinkan sekali lagi. Sungguh, dalam hati ia tidak akan kecewa jika harus mengembalikan setengahnya hal itu tidak masalah baginya tetapi, setelah melihat Rania mengeluarkan sebuah kartu. Ia tidak bisa tidak senang dan merasa puas. Semua pakaiannya indah dan mahal, sekejap mata Mikasa sudah berjingkat membawa beberapa tali jinjigan yang bisa ia raih.


Rania menggeleng pasrah. Terpaksa ia juga membantu membawa sebagian jinjingan. Acara untuk hari ini dirasanya cukup dengan kecepatan jalanan ibu kota yang macet Rania membawa pulang Mikasa ke kontrakannya lagi. Di sampingnya wanita itu tengah menahan kantuk, kepalanya terus-menerus jatuh ke bawah dadanya beberapa kali. “Dasar konyol,” ujarnya tetapi, tidak tahan untuk membenarkan letak kepala Mikasa agar lebih nyaman.


*


“Mulai besok kamu harus pelajari semua ini.” Rania meletakkan setumpuk kertas di tangan Mikasa. “Ini data-data orang terdekat, kamu harus bisa mengenali mereka secepatnya. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskannya. Aku akan sibuk beberapa hari.”


“Apa sebanyak ini?”


“Sebenarnya tidak, hanya aku terlalu khawatir.” Rania diam sesaat, pikirannya tengah bekerja tapi hasilnya, tidak ada. Ini hanya memunculkan keresahannya. “Kamu tetap harus membacanya dan jika bisa hapalkan nama-nama mereka saja tetapi, untuk tulisan bertinta merah … hapalkan dengan jelas. Mereka keluargaku juga beberapa orang kenalan yang akan, mungkin sering kita temui.”


Mikasa mengangguk mengerti, menatap lamat-lamat setumpuk kertas itu dan yang pertama kali yang ia lihat potret seorang wanita paruh baya yang seharusnya bisa ia panggil Ibu. ‘Ah, aku jadi merindukan Ibuku sendiri.’


“Minggu depan, … Hey!” Rania mengguncang Mikasa yang diam tampak melamun. “Mika, kamu dengar?”


“Ah, iya. Maaf, Kak.”


“Tidak masalah. Ya, sudah. Jadi, hanya tiga hari lagi, Ok! Aku akan menjemputmu, kamu harus sudah siap. Tiap hari aku akan menelepon, melihat kemajuanmu.”


“Baiklah, aku akan bekerja sebaik mungkin.”


“Tentu saja harus.” Rania mulai kembali berjalan ke arah mobilnya, melambaikan tangan tetapi sebelum benar-benar membuka pintu mobil dia menoleh dan berbicara. “Ini tidak akan lama mungkin hanya beberapa bulan sebelum menemukannya atau, mungkin … akan lebih cepat dari yang kamu yang bayangkan.”


Mikasa mengangguk cepat. Tentu saja, ia mengerti jelas tentang itu. Dia hanya pengganti sebelum diganti yang asli. Tidak peduli berapa lama, yang terpenting bagi Mikasa. Ia selamat sampai akhir dan mendapatkan tujuannya … uang yang cukup untuk memulai hidup yang lebih baik. Bibirnya tersenyum lebar, mengingat janji uang yang akan ia dapatkan.

__ADS_1


__ADS_2