
Elena gemas melihat reaksi terkejut dari suaminya, dengan sangat sadar ia menggigit tangan Ed hingga membuatnya berteriak.
"Awwww."
"Gemes," seru El dengan tampang tak bersalahnya.
"Lalu gimana keadaan istri juga calon janin saya dok," tanya Ed antusias.
"Semua baik-baik saja, hanya tolong lebih banyak istirahat dulu ya untuk beberapa hari kedepan."
"Baik dok, kalau begitu saya boleh bawa istri saya pulang kan?"
"Tentu saja tuan, tapi saya ada resep untuk diminum istri anda ya," memberikan selembar kertas resep pada Ed.
Dibantu dengan Edwart, El berjalan dengan sangat hati-hati. Walau dokter menyatakan jika dirinya baik-baik saja namun rasa pusing juga sakit diperutnya masih membuatnya terasa lemah.
"El, loe gpp kan," tanya Lia saat melihat El keluar bersama dengan suaminya.
"Gpp kok, thanks ya udah nungguin gue."
"Sebaiknya kalian berdua pulang, biar El saya yang urus," ujar Edwart.
"Kalau begitu kita pamit dulu tuan, kita balik ya El. Cepet sembuh," pamit Yasmin.
Selama perjalanan Ed terus saja memeluk dan merengkuh tubuh El dalam dekapannya, tak ingin melepasnya hingga membuat El sedikit merasa tak nyaman.
"Didepan ada apotek, berhenti dulu karena saya harus membeli obat istri saya."
__ADS_1
"Baik tuan muda."
"Biar saya saja yang membelikan obatnya tuan," ucap sopir yang baru saja memarkirkan mobilnya.
"Nggak usah, saya harus memastikan semua obat-obatan istri saya."
"Baik tuan."
"Sayang kamu disini dulu ya, jangan aneh-aneh."
"Iya, jangan lama-lama ya."
Edwart memasuki apotek, seorang wanita datang dan menanyakan jenis obat apa yang dicarinya. Edwart menyerahkan selembar resep yang tadi diterimanya dari dokter.
"Sebentar ya tuan, saya siapkan dulu obatnya."
Sambil menunggu seorang apoteker menyiapkan obatnya, Ed berkeliling apotek melihat semua isi didalamnya. Matanya tertuju pada sebuah rak yang berisi penuh dengan jenis susu untuk ibu hamil.
"Tapi kok rasanya banyak banget sih, dia suka yang mana ya tapi," bingungnya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"
Seorang wanita lainnya datang ingin membantu Edwart yang terlihat sedang kebingungan. Parasnya yang tampan membuat mereka semua berebut untuk melayaninya.
"Saya lagi cari susu ibu hamil untuk istri saya," dinginnya.
"Kalau boleh tau istrinya suka rasa apa ya tuan?"
__ADS_1
"Itu dia mbak, dia sih biasanya suka coklat. Tapi ini banyak banget rasanya," melihat semua rasa yang tertata didepannya.
"Saya beli aja semuanya mbak, satu rasa satu kardus ya," ucap Edwart yang memutuskan membeli semua rasa yang dilihatnya.
"Semua rasa tuan?"
"Iya, semua rasa. Kenapa," tanya kembali Ed dengan raut kesalnya.
"Baik tuan, akan saya siapkan."
Semua yang dibutuhkan sudah ada ditangannya, dan saat dirinya kembali kedalam mobil tak ada El juga supirnya disana. Ed panik seketika, fikiran buruk dan hal-hal menakutkan mulai membayangi pikirannya.
"El, Elena," teriak Ed memanggil istrinya.
Namun dari kejauhan ia dapat melihat sang supir yang tengah berdiri mematung dibawah pohon besar seorang diri. Ed melangkahkan kakinya menuju sang supir.
"Dimana istri saya," tanya Ed dengan nafas paraunya karena buru-buru melangkahkan kakinya barusan.
"Nona muda sedang tidur siang tuan," ucapnya.
"Tidur siang," ulang Ed dengan kerutan dialisnya.
Sang supirpun menunjuk sosok yang dicarinya tengah tertidur di bangku yang ada disekeliling pohon rindang tersebut. El terlihat sangat pulas tidur hanya berlindungkan dedaunan rindang pepohonan.
"Apa sudah lama?"
"Sejak taun masuk kedalam apotek tadi."
__ADS_1
Ed hanya bisa menarik dalam nafasnya, mencoba mengerti kondisi dari istrinya saat ini. Dan terpaksa Ed memanggil semua anak buahnya untuk berjaga disekitar taman agar tak ada yang datang dan melihat istrinya yang sedang tidur.
...‐Maaf ya guys kalau banyak typo nya, cius deh itu nggak sengaja dan udah berusaha buat nggk typo. Tapi makasih ya udah terus support kami ‐...