
Tubuh Yasmin sangat lah lemah, ia dengan sekuat tenaga kini berjalan menuju rumahnya. Rumah itu kini nampak tak jauh lagi dari tempatnya, namun sungguh sudah tak ada tenaga baginya untuk berjalan.
"Gue harus bisa, gue nggak mau ayah ngelibatin mereka."
Jo yang sebelumnya menitipkan Yasmin pada resepsionis begitu terkejut menerima panggilan dari resepsionis tersebut. Hatinya begitu tak tenang memikirkan apa yang kini tengah dilakukan oleh Yasmin, belum lagi kondisinya yang masih sangat lemah.
"Bodoh sekali, udah tau badan sakit masih aja nekat keluar."
"Jangan-jangan dia pulang," batinnya yang kemudian segera melaju kerumah Yasmin.
Ayahnya yang tak sabar menunggu akhirnya keluar dari rumah hingga tanpa sengaja melihat keberadaana anak angkatnya tersebut. Dengan penuh rasa senang ia berlari dan menarik tangan Yasmin untuk mengikuti dirinya.
"Akhirnya datang juga," serunya bahagia.
"Apa yang kini ayah inginkan dari saya, saya sudah tidak memiliki apapun sekarang."
"Nggak, gue nggak butuh harta atau uang loe. Gue cuma butuh loe ikut gue," ucapnya.
"Apa yang mau anda lakukan."
"Udah ikut aja kenapa."
Tak lama bergabunglah ibu Yasmin dan ikut menarik dirinya mengikuti keduanya. Yasmin sempat mencoba memberontak, namun tenaganya benar-benar sudah tak ada.
"Kita ini sebenarnya mau kemana," tanya ulang Yasmin.
"Tentu aja ke pernikahan loe lah," ucap ibu Yasmin yang membuat Yasmin begitu syok dibuatnya.
__ADS_1
Yasmin ketakutan, ia tak ingin dipaksa menikah sesuai keinginan orang tuanya. Namun ia juga tak memiliki tenaga untuk melawan keduanya.
"Lepasin, saya nggak mau. Lepas."
"Udah diam aja kenapa sih."
"Tau loe, enak tau loe nikah sama dia. Hidup terjamin tanpa loe harus kerja."
"Lebih baik saya bekerja sampai mati daripada harus menerima pernikahan ini."
"Banyak bacot loe."
Tak ada lagi yang bisa Yasmin kini harapkan, ia hanya berharap akan ada orang yang bisa menolongnya.
.....
...
Kini El tengah menunggu suaminya dengan sangat cemas. Ia melihat bagaimana ekspresi Ed ketika meninggalkannya dan itu membuatnya tak tenang seharian. Ia terus saja meremas ujung bajunya, menanti dengan cemas kedatangan suaminya.
"Kemana sih, kenapa lama banget," gumamnya kesal.
Hingga tak lama seseorang membuka hendel pintu kamarnya, dan kini nampaklah sosok yang sedari tadi ditunggunya.
"Darimana saja, kenapa lama."
"Astaga sayang, suami baru datang itu disayang-sayang dulu kek. Ini udah main marah-marah aja."
__ADS_1
Elena mencebikkan bibirnya saat Ed duduk ditepi ranjangnya, Ed sadar jika kini istrinya tengah merajuk dan terlihat sangatlah imut. "Jangan coba-coba menggoda suami kamu ini ya."
"Siapa juga yang godain, aku ini lagi ngambek tau."
"Hahah, oh ngambek ya. Ngambek kok bilang-bilang," tawanya begitu lepas.
"Ya mau gimana, punya suami juga nggak ada peka-pekanya."
"Yaudah maaf ya. Tadi ada pekerjaan yang harus aku handle sendiri."
"Beneran?"
"Benerlah sayang, mana mungkih aku bohong."
"Yaudah kalau begitu."
"Maaf ya yank, aku terpaksa bohong," batin Edwart.
Kini ia hanya bisa tersenyum agar El tak mencurigainya, ia akan menyelesaikan semuanya seorang diri tanpa melibatkan istri yang sangat dicintainya.
"Kamu nggak bohongin aku," tanya ulang El yang masih sangat curiga dengan suaminya.
"Nggak percaya ya ini."
"Maunya percaya, tapi bagaimana lagi."
"Udah deh sayang, aku itu nggak ngelakuin hal yang berbahaya kok."
__ADS_1
Namun El hanya memberinya tatapan penuh selidik.