
Apa yang baru saja didengarnya membuat jiwa monster dalam diri Jo tiba-tiba saja bangkit. Ia berjalan semakin dekat dengan Tania, dicekiknya leher wanita itu hingga rasanya ingin sekali dipatahkannya.
"Mati bukan hukuman yang pantas untuk ular seperti kamu, siksaan jauh lebih pantas," gertak Jo.
Dilepaskannya Jo dengan begitu kasar hingga tubuh Tania sempat terdorong kebelakang. Jo berusaha sekali menahan amarahnya agar tak menjadi dan berakibat fatal sebelum tuannya bertindak.
"Bukan saya yang harusnya kamu hadapi, tapi tuan muda saya yang harus kamu temuin."
Jo keluar dari ruangan itu dengan begitu marahnya, namun sebelum ia benar-benar pergi Jo memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan beberapa tikus sampai tuan mudanya datang.
"Untuk apa tikus-tikus itu bos," tanya ketua.
"Untuk membuat wanita itu tahu siapa yang dihadapinya kali ini."
Jo pergi, ia kembali lagi kerumah sakit untuk menjaga tuan juga nonanya. Entah bagaimana kini kondisi nona mudanya setelah ia tahu racun itu mematikan dan dibuat khusus untuk Elena. Ia melajukan mobilnya dengan begitu cepat agar bisa segera sampai rumah sakit.
Namun sesampainya dirumah sakit, tanpa sengaja ia malah bertemu dengan Yasmin yang berjalan tertatih hendak meninggalkan rumah sakit.
"Yasmin kan itu," gumam Jo menajamkan matanya dari dalam mobil.
"Iya itu Yasmin. Tapi mau kemana dia malam-malam gini," gumamnya bergegas keluar dari mobil.
__ADS_1
"Nggak, gue nggak boleh lemah. Gue harus kuat dan segera pergi dari sini," gumamnya dengan pusing yang tiba-tiba menyerangnya.
Tubuh yang lemah itu tak kuat lagi untuk berjalan, tubuh itu hampir saja limbung dan terjatuh namun beruntung Jo segera datang dan menangkapnya sebelum lantai menyambutnya. Digendongnya dan didudukannya tubuh Yasmin dikursi yang tak jauh dari mereka.
Yasmin meronta dan dengan keras kepalanya hendak berjalan pergi dari rumah sakit. Jo begitu kesal harus menghadapi keras kepalanya Yasmin setelah ia menghadapi ular Tania itu, namun ia juga tak bisa berbuat kasar pada teman nona mudanya itu.
"Saya harus segera pergi dari sini, kamu nggak tahu apa-apa jadi jangan halangi saya."
"Saya memang nggak tahu apa yang nona lakukan ini, yang saya tahu anda terluka anda terkena racun dan masih harus ditangani oleh pihak rumah sakit."
"Saya baik-baik aja, dan saya nggak butuh dokter atau siapapun itu."
"Terserah. Minggir karena saya mau lewat," mendorong tubuh Jo dengan sisa tenaganya.
Namun baru saja ia akan bangkit, matanya menatap orang yang tak ingin ditemuinya. Orang yang sudah membuat hidupnya begitu berantakan. Yasmin yang ketakutan segera memeluk tubuh Jo dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher Jo.
Gelenyar rasa geli juga hangatnya hembusan nafas Yasmin membuat Jo begitu tak karuan. Jo laki-laki normal yang begitu tertarik dengan wanita, dan apa yang dilakukan Yasmin membuat jiwa laki-lakinya yang lama mati kini bangkit kembali.
"Le-
"Sebentar, aku mohon sebentar saja," mohon Yasmin dengan nada bergetar ketakutan.
__ADS_1
Jo merasa heran, tubuh Yasmin bergetar saat memeluknya bahkan tubuh itu juga bergetar ketakutan hingga sebuah suara yang tanpa sengaja didengarnya membuatnya sedikit paham. Respon tubuh Yasmin juga begitu ketakutan saat mendengar suara itu.
"Anak sialan itu akhirnya ketemu juga, tunggu sampai ketemu bakal aku habisin dia," seru seorang laki-laki yang melewati keduanya.
Jo mengirimkan pesan pada Billy, ia meminta maaf sebab tak bisa kembali kerumah sakit dan akan menjelaskan nanti jika ia mengunjungi nona mudanya. Jo menggendong tubuh ketakutan itu menuju mobilnya. Mebawanya pergi menjauhi rumah sakit juga orang yang membuat Yasmin ketakutan.
*
Edwart begitu terpukul saat dokter mengatakan jika kondisi Elena kini masih sangat kritis dan harus terus terpantau dengan alat medis. Rasanya dunianya luruh juga hatinya hancur, ia merasa gagal menjaga istrinya untuk kedua kalinya.
Begitu sakit hatinya Ed hingga ia menangis meraung-raung takut ditinggalkan istrinya, rasa cintanya yang terlalu mendalam pada El membuat Ed begitu kesakitan membayangkan ditinggalkan.
"Cukup , istri kamu butuh kamu yang kuat. Bukan kamu yang lemah dan cengeng gini," tutur Billy pada putranya.
Billy mengerti apa yang dirasakan anaknya, namun ia juga tak bisa membiarkan Ed terpuruk dan lengah dengan penjagaannya. Ia hanya ingin anaknya kuat dan bisa menjaga istrinya lebih ketat lagi.
Tubuh Elena dipindahkan keruang rawat khusus dengan pendampingan dokter, Ed segera bangkit ikut mendorong brangkar istri tercintanya.
"Sayang, kamu harus kuat."
...‐Hai semua, udah update setiap hari nih dan semoga semua makin menikmati ceritanya ya‐...
__ADS_1