Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 97


__ADS_3

Mendapat bantuan dari Malik, Elena tak jadi ikut serta dengan Edwart yang akan bekerja. Sebaliknya kini ia dengan Malik tengah menikmati waktunya berdua disebuah cafe baca yang ada ditengah kota.


"Om, lihat deh. Bagus kan," menunjukkan sebuah buku yang ada ditangannya.


"Nggak salah, kamu memang cucu keluarga Ibrahim," mengelus sayang kepala keponakannya.


"Kita baca disana ya, om udah pesenin es krim kesukaan kamu."


"Serius om," girang El yang berjalan begitu saja meninggalkan Malik dibelakangnya.


Malik terus menatap Elena yang tengah serius membaca tapi tak hentinya menyantap es krim miliknya. Wajah serius itu mengingatkan dia akan mendiang kakanya, sedang senyum itu mengingatkan dia akan mendiang kaka iparnya.


"Andai mereka berdua masih hidup, pasti mereka akan senang melihat kamu sekarang. Ada suami yang begitu mencintai kamu, juga ada mertua yang sangat menyayangimu," batin Malik yang begitu bersyukur.


"Om, om Malik," melambaikan tangannya kedepan wajah Malik.


"Oh maaf princess, om melamun."


"Ayolah om, aku sudah dewasa. Jangan panggil aku seperti itu," ucap Elena merajuk.


"Tapi om suka,"acuh Malik yang memilih membaca bukunya.


Kini keduanya dengan serius membaca setiap bait dari buku yang ada didepannya, tak ada suara tak ada gerakan. Hanya pandangan mata yang selalu fokus pada tulisannya.


"Om," panggil El.


"Ada apa princess?"

__ADS_1


"Lapar," rengeknya.


Malik tersenyum, ia mengambil buku El dan meletakkan diatas bukunya. Tangannya terulur menggandeng tangan El keluar dari cafe baca.


"Mau makan apa princess?"


"Ayam bakar madu, sambal mangga muda, cumi asam manis, udang-


Malik membekap mulut El dengan tangannya. Ia sudah tak sanggup mendengarkan ocehan El, bukan karena tak suka lebih tepatnya ia terlalu gemas dengan ekspresi yang ditampilkan oleh keponakannya.


"Kita makan semuanya," seru Malik yang membawa El masuk kedalam mobilnya.


Sedang dikantornya kini Edwart sedang duduk bersama dengan Matius diruangannya. Matius dengan sengaja mengikuti Edwart kekantornya untuk meminta bantuannya.


"Apa yang saya bisa bantu untuk pak Matius?"


"Tolong jangan seperti itu, panggil nama saja. Atau nak seperti pertama kali dulu."


"Baiklah, nak Edwart."


"Katakan pak," senyum tulusnya.


"Selama penyelidikan anak buah saya, fakta terbaru adalah perempuan ini berasal dari Jakarta."


"Jakarta?"


"Benar nak, maka dari itu saya meminta bantuan untuk mendapatkan info yang lebih lengkap tentang Cindy tersebut."

__ADS_1


Edwart terlihat menekan sambungan telponnya. Dan tak lama Jo masuk dengan begitu gagahnya.


"Duduklah Jo, " pinta Edwart.


"Selamat pagi tuan Matius."


"Pagi asissten Jo."


Edwart menceritakan semua yang diketahuinya dari Matius, ia meminta Jo untuk ikut menyelidiki wanita Malik yang tak jelas asal usulnya tersebut.


"Apa tuan Malik tahu hal ini," tanya Jo.


"Tentu saja tidak, ini saya lakukan secara diam-diam."


"Kenapa begitu pak Matius?"


"Tuan Malik adalah orang yang terlihat kejam diluarnya, namun sejujurnya ia sangatlah lembut bersikap. Luka yang pernah didapatnya, saya tidak ingin tuan saya merasakannya lagi."


"Baiklah kami mengerti, bapak tenang aja kami pasti akan membantunya."


"Apa bapak punya foto Cindy ini?"


"Tentu saja ada, ini asissten Jo," menyerahkan selembar foto pada Jo.


Mata Jo membulat melihat siapa yang ada didelam foto tersebut. Tangannya gemetar saat ingin memberikan lembaran foto tersebut pada tuannya.


"Ada apa Jo?"

__ADS_1


"Tuan muda."


__ADS_2