Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 74


__ADS_3

Edwart terus saja menyeringai saat menatap wajah ketakutan yang tergambar jelas pada Tania. Rasanya ini tak cukup atasa apa yang telah diperbuatnya terhadap Elena apalagi Mimi mantan istrinya dahulu.


Tak ada yang berani mencegah Ed untuk mengeluarkan barang yang selama ini disimpannya dengan rapi tersebut, baik Jo maupun ketua hanya bisa diam menuruti tuannya. Perlahan dua orang anak buah masuk dengan membawa sesuatu ditangannya.


"A-apa yang kamu mau lakuin Ed," cicit Tania mulai ketakutan.


Edwart hanya menyeringai tanpa berniat menjawab apa yang dipertanyakan oleh Tania, namun sorot matanya dengan jelas menggambarkan bagaimana marahnya Ed terhadap wanita didepannya tersebut.


"Pasang," titah Ed dengan tatapan tajam menatap Tania yang kelabakan.


Mereka mulai memasangnya sesuai dengan perintah ketuanya, Tania hanya bisa menangis ketakutan menatap bergantian anak buah Ed yang sedang menyentuh rantai dikedua tangannya.


"Kenapa? Takut," ejeknya.


"Edwart tolong, tolong jangan seperti ini. Aku minta maaf, aku aku bakal temuin Elena dan meminta maaf sama dia," serunya berderai air mata ketakutan.


Tania terus saja memohon dan terus memohon, namun tak sedikitpun ucapan itu yang mampu menyentuh hati Edwart yang sangat keras berselimut amarah saat ini. Tak hanya Ed, bahkan kini Jo juga menyeringai menatap Tania yang sedang berderai air mata.


Ingatan laki-laki itu kembali dengan semua kejadian yang menimpa tuan mudanya termasuk tentang kematian Mimi yang sempat membuat tuan mudanya menggila.


"Jo aku mohon, katakan ada tuanmu jika aku sudah menyesal. Aku menyesal dengan semuanya."


"Dan apa penyesalan itu mampu mengembalikan semua yang sudah dialami tuan muda saya," tanya Jo dengan sangat dingin.


"Kalian berdua sama saja, sama-sama kejam," teriak Tania.

__ADS_1


"Semua sudah siap tuan," seru anak buah tersebut.


Ed kembali menyeringai mendengar apa yang barusan diucapkan anak buahnya, dan tatapan Tania begitu ketakutan hingga wajahnya begitu memucat. "Apa ini Ed, tolong lepasin aku."


"Kamu tau apa yang sudah dipasang oleh anak buahku itu Tania," tanyanya sambil berjalan mendekati perempuan tersebut.


"Itu adalah alat kejut dengan aliran listrik yang sangat-sangat menyakitkan. Itu alat yang biasa saya gunakan untuk seorang pengkhianat."


"Tapi aku bukan pengkhianat Ed, aku sama sekali tak pernah mengkhianati kamu termasuk perasaanku."


Ed murka hingga mencengkeram rahang Tania dengan begitu kuatnya." Tapi kamu menyakiti istri saya, bahkan membuatnya sempat merenggang nyawanya."


Mata itu penuh dengan amarah, kalau saja Jo tidak menarik tuannya mungkin saja kini rahang itu udah patah oleh cengkraman tuannya.


"Beri dia salam perkenalan," seru Edwart.


"Cukup," ucap Edwart.


Tubuh Tania melemah, pandangannya kini kabur tertutup oleh genangan air matanya. Bahkan kini Tania tak sanggup untuk mengangkat kepalanya , semua tenaganya hilang entah kemana.


"Bagaimana, ini hanya perkenalan saja. Permainan bahkan belum kita mulai."


"Ampun Ed," lirih Tania tak bertenaga.


"Naikkan satu," ucap Ed.

__ADS_1


Dan kini Tania hanya bisa menahan rasa sakit itu dengan air matanya, rasanya semua tubuhnya hancur remuk redam tak terasa baginya. Hanya ada rasa sakit juga perih ditubuhnya.


"Stop."


"Kita pergi Jo," ucap Ed.


.....


...


Yasmin yang sedang bersandar pada dinding ranjangnya tekejut ketika sebuah panggilan masuk kedalam ponselnya. Setelah menerima panggilan tersebut, kini tubuhnya menegang dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya.


"Jangan, aku mohon jangan."


"------ "


"Baik, baik. Aku bakal kembali dan aku bakal temuin ayah sama ibu."


"---------------- "


"Tolong jangan, tolong."


Yasmin terus berderai air mata hingga sambungan telpon tersebut terputus, ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Satu-satunya cara adalah ia pulang sesuai dengan permintaan ayah juga ibunya.


"Gue harus pulang, harus."

__ADS_1


Yasmin perlahan mulai turun dan berjalan keluar dari kamarnya. Ia yang lemah kini berjalan tertatih keluar dari apartemen. Sebelum keluar ia sempat menitipkan kunci apartemen Jo pada resepsionis.


"Maafin saya tuan Jo, saya harus pergi."


__ADS_2