Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 84


__ADS_3

Sudah hampir 1 bulan lamanya Taniaberada dalam perlindungan Malik, dan selama itu pula hubungan keduanya terlihat makin dekat. Malik yang sudah lama melajang tak menyia-nyiakan perhatian yang selalu diberikan Tania padanya atau Cindy palsu.


"Tuan," panggil Tania yang tengah berjalan menghampiri Malik dihalaman rumahnya.


Tania yang diperlakukan bak putri dirumah Malik begitu berbunga-bunga hingga ia lupa dengan siapa dirinya. Tania yang asli kini masih tertidur, hanya ada Cindy palsu dengan sikap yang sangatlah manis.


"Apa yang kamu bawa itu?"


Tania duduk didepan Malik sambil meletakkan piring yang dibawanya. "Ini tadi belajar masak sama pelayan tuan, saya bikin omelet sayur untuk tuan."


"Waw, pasti enak ya nih," ucap Malik tersenyum senang. Tangannya terlulur memegang garpu dan menusuk satu dari beberapa omelet yang telah Tania potong.


"Bagaimana tuan," tanya Tania penuh harap.


"Cindy, kamu memang luar biasa, ini enak sekali rasanya," puji Malik hingga membuat Tania tersipu malu.


"Tuan bisa saja, bukankah ini belum ada apa-apa untuk bisa bersanding dengan tuan," ucap Tania dengan sengaja.


Sedang Malik yang mendengar gumaman Tania begitu gembira karena mengira jika apa yang dirasakannya ternyata tak bertepuk sebelah tangan.


"Saya hanya butuh kamu selalu mensuport saya, itu sudah cukup," digenggamnya tangan Tania yang ada dihadapannya.


Jakarta,


Elena kini sering sekali meminta hal-hal gila pada suaminya hingga membuat Ed sangat kewalahan. Contohnya seperti kemarin malam saat tiba-tiba EL terbangun dari tidurnya dan meminta Ed untuk menjauhinya dan tidur dipos satpam rumahnya.


Dan pagi ini, El terbangun dengan sangat ceria. Entah mengapa kini El terlihat makin cantik walau tanpa make up yang tergores diwajahnya, bahkan kecantikan itu membuat Ed tak ingin jauh-jauh dari istrinya.


"Hoekk, hoekk, hooeeekk."


"Sayang kamu kenapa," tanya El yang terlihat panik saat melihat suaminya terus saja muntah-muntah.

__ADS_1


Sambil memijat tengkuk Edwart, El terus saja mengomeli suaminya tersebut. "Makanya kalau dikasih tau istri itu didengarin dong, kalau dikasih tau jangan kerja terus ya jangan kerja terus. Udah malam masih aja kerja."


"Yank, aku lagi muntah lagi sakit masa iya masih aja dimarahin sama kamu sih," protes Ed.


"Oh, nggak suka aku marahin. Jadi sukanya aku diamin aja, oke kalau gitu."


Elena yang sangat kesal dengan suaminya segera meninggalkan Ed sendirian didalam kamar mandi kamarnya. Ed merasa sangatlah mual, namun ia masih menguatkan dirinya untuk mengerjar istrinya yang tengah merajuk dan turun kebawah.


"Hai sayang," sapa Maya saat melihat menantunya berjalan menghampirinya dimeja makan.


"Mama, papa. Kok datang nggak bilang-bilang, kan bisa aku masakin dulu."


"Aduh anak mama perhatian banget sih," memeluk erat tubuh El.


"Mama udah masak nak, yuk kita duduk sini makan," ajak Billy.


Namun saat baru saja akan mendudukan dirinya, suara Ed yang menggema menghentikan semua kegiatan ketiganya.


"Sayan," teriak Ed dari atas tangga.


"Astaga, sayang kamu ini muntah terus sih. Sakit ya," tanya El yang memijat tengkuk suaminya.


"Pah," panggil Maya yang melihat Billy tengah fokus pada anaknya.


"Ada apa mah, gitu banget lihatnya."


"Mama curiga deh, jangan-jangan kita bakal jadi opa oma?"


"Opa oma apaan sih mah, papa nggak paham deh."


"Maksud mama jangan-jangan El lagi hamil ini."

__ADS_1


"Mah. Kalau menantu kita hamil dia yang akan mual, masa iya ini anak kita Ed yang hamil?"


"Iya juga ya pah, tapi kan siapa tahu," seru Maya kembali fokus pada putranya.


Sedang Ed menderita karena mualnya, di perusahaan Jo juga tengah menderita dengan tugas yang diberikan tuan mudanya. Ed yang mencurigai Malik sebagai kerabat istrinya meminta Jo menyelidiki semua hal yang berhubungan dengan Malik juga masa lalunya.


Tugas yang sangatlah berat hingga membuat Jo selalu bergadang disetiap malamnya. Hingga pagi ini ia masih saja menata semua berkas yang dikumpulkannya dari hasil penyelidikan.


"Astaga, bikin capek banget," keluh Jo memijat pangkal hidungnya.


Namun semakin ia membaca ulang, semakin ia menemukan titik terang dari tugas tuan mudanya.


"Astaga," serunya sambil membekap mulutnya.


"Tuan harus tau soal ini," serunya sambil mengutak atik ponselnya.


"Apa yang harus saya tahu Jo," ucap Ed yang masuk kedalam ruangannya dengan sangat lemah.


"Tuan saya sudah menemukan titik terang dari tugas-


Belum selesai Jo berbicara, Ed sudah melambaikan tangannya dan berlari kedalam kamar mandi ruangan Jo.


"Hoekk, hoekkkk."


"Tuan, tuan baik-baik aja," tanya Jo yang berlari mengikuti tuannya.


"Darimana baik-baiknya, nggak lihat kamu saya mual-mual gini."


"Maaf tuan."


"Ngapin terusan berdiri didepan pintu."

__ADS_1


"Terus gimana tuan," menggaruk tengkuknya yang tak gatal ini.


"Sini, masuk dan pijat tengkuk saya."


__ADS_2