Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 44


__ADS_3

Kedua sejoli itu diam membisu salam satu mobil. El yang masih malu memilih membuang mukanya keluar jendela, sedang Ed begitu sibuk dengan pikirannya.


"Nanti turunin saya dihalte bis aja," seru Elena tanpa memandang suaminya.


Edwart tersenyum, entah mengapa ia menganggap sikap Elena pagi ini begitu manis dan menggemaskan baginya.


Hingga tanpa ia sadari, tiap kali El merajuk ia akan tersenyum dengan begitu manisnya.


"Emangnya kantor kamu pindah di halte ?" goda Edwart yang ingin membangun komunikasi dengan istrinya.


"Nggak usah mulai deh," kesalnya menatap tajam Edwart yang tengah tersenyum manis padanya.


"Manis banget sih, tadi sarapan apa emang," gemasnya mencubit dagu istrinya.


Merasa janggal dengan sikap Edwart, El dengan tanpa sadarnya mengulurkan tangannya. Meletakkan tangan itu tepat dikening Edwart, memeriksa kesehatan suaminya dengan tangannya.


"Nggak panas, tadi sarapannya juga nggak ada yang aneh," gumamnya heran.


Edwart menjahili istrinya. Ia menarik tangan Elena yang ada dikeningnya, mengarahkan tangan itu tepat didepan bibirnya.


"Akhhhh!" Teriak Elena kesakitan.


Edwart menggigit gemas tangan itu, memainkannya dengan gigi-gigi tajamnya. Sedang Elena yang tengah melamun begitu terkejut saat merasakan rasa sakit ditangannya.


"Sakit tau, main gigit aja."


Elena memukul lengan Edwart dengan begitu kesalnya, terlebih saat Edwart malah tertawa terbahak melihat dirinya kesakitan.


"Akhhhh, " pekik Edwart kesakitan.


Elena membalas suaminya, ia dengan gemas menggigit balik lengan Edwart yang tengah mengemudikan mobilnya.


"Rasain," balasnya elegan dengan mengibaskan rambut panjangnya.


"Sakit tau, kenceng banget gigitnya." Keluh Edwart.

__ADS_1


"Makanya jangan main gigit aja kalau nggak mau digigit balik," sengitnya.


"Makanya jangan cantik," balas Edwart yang membuat Elena melongo mendengar seruannya.


Lagi-lagi tingkah El membuat Ed menjadi begitu gemas. Dengan sengaja ia menempelkan telapak tangannya kewajah istrinya.


"Tangan dikondisikan," menepis tangan suaminya.


Edwart yang biasanya marah kini hanya tersenyum saat melihat tingkah Elena.


Dan setibanya dikantor, Elena dibuat kesal dengan tingkah aneh suaminya. Edwart benar-benar tak mengijinkan istrinya itu untuk turun dari mobil, bahkan ia masih mengunci pintunya.


"Nanti telat tuan suami," kesalnya.


"Nggak usah kerja aja ya, ikut aku," ajaknya.


"Nggak ya, aku ada meeting hari ini. Jadi buka pintunya," Elena mulai kesal dengan tingkah suaminya.


"Meeting sama siapa," tanyanya dengan wajah berubah serius.


"Sama siapa," tanya Ed sekali lagi dengan nada sedikit keras.


"Astaga kaget. Sama klien dari Bali," ucapnya.


"Jangan macem-macem ya, " menggenggam erat tangan istrinya.


**


Tangan Tania terasa kebas, ia bahkan tak bisa merasakan tangannya karena terlalu lama diikat dikursi.


Hanya gelap dan tak bersuara, Tania hanya bisa pasrah. Namun ia mendengar suara pintu terbuka, dan betapa ia histeris bahagia saat mendengar suara Edwart yang dikenalinya.


"Ehmm, ehmm. "


"Buka," titah Edwart.

__ADS_1


Betapa bahagianya Tania saat melihat sosok yang dicintainya berdiri tegap dihadapannya. Dengan penuh harap ia berfikir Edwart datang untuknya, namun kenyataan tak semanis impian.


Hatinya sakit saat tau jika Edwart lah yang menculiknya, meminta anak buahnya untuk mengikat dirinya semalaman seorang diri.


"Kenapa," tanyanya saat masih berharap apa yang dia dengar adalah kebohongan.


"Kenapa? Pertanyaan bodoh," hardik Edwart duduk dengan angkuhnya dihadapan Tania.


"Kenapa kamu tega Edwart! Apa salah aku," teriaknya mengeluarkan isi hatinya dengan penuh air mata.


"Karena loe udah berani sentuh nyonya Edwart dengan tangan kotor itu," menunjuk tangan Tania yang sedang terikat.


"Ketealuan kamu Ed, jahat kamu!"


"Terserah, tapi ini cuma peringat buat loe. Sekali lagi gue tau loe sentuh istri gue, jangan harap ada matahari lagi dalam hidup loe!"


Edwart mengancam, ia mengancam Tania agar tak kembali menyentuh wanitanya. Tapi ia lupa siapa Tania, Ed bukan mengancamnya melainkan memprovokasinya lebih dalam.


Bangkit dari kursinya, Ed berjalan meninggalakam Tania.


"Kenapa Ed, kenapa bukan gue yang loe cintai setelah kepergian Mimi," tanya Tania dengan begitu menyiksanya.


"Karena hati tau kemana dia akan berlabuh, hati tau mana yang tulus mana yang rakus," balas Edwart begitu menohok.


Tania begitu histeris mendengar Edwart, ia berteriak dengan begitu gila berusaha melepaskan diri.


"Loe yang minta gue berubah Ed."


...---------🕊--------...


Hai, terima kasih sudah mampir dirumah ElenaEdwart. Jangan lupa tekan favorit ya supaya nggak ketinggalan updatenannya. Silahkan tinggalkan like komen juga dukungan kalian, semakin banyak pembaca semakin semangat update nya ..


...❣...


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2