Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 70


__ADS_3

Hanya 30 menit Edwart meninggalkan istrinya, namun baginya ia sudah sangat lama jauh dari istrinya. Rasa cintanya yang begitu besar terhadap Elena membuat Edwart bersikap terlalu protektif bahkan over protektif dalam menjaga istrinya.


"Sudah kan sus, saya harus seger kembali," ujarnya tak sabar pada suste yang sedang mengobati lukanya.


"Sebentar ya pak, saya harus balut dulu lukanya dulu," ucap suster yang sedang mengobati lukanya.


Tak sabar, Edwart segera meninggalkan suster yang tengah berbalik mengambil perban untuk membalut tangannya. Ia segera berlari kembali menuju kamar dimana Elena tengah tertidur.


Namun dari jauh Ed melihat banyak suster yang keluar masuk kamar istrinya. Langkahnya tiba-tiba saja terasa berat, nafasnya tertahan dalam rongga paru-parunya. Ed begitu ketakutan, bayangan buruk berkeliaran dalam fikirannya.


"Nggak, nggak boleh. El pasti baik-baik saja," gumamnya menguatkan diri.


Billy keluar sambil memeluk erat tubuh Maya yang sedang menangis tersedu-sedu, pandangan mata keduanya begitu kosong. Maya melihat anaknya yang sedang bersandar pada dinding rumah sakit dengan air mata yang mengalir begitu derasnya.


"Edwart pah," seru Maya.


"Ed," panggil Billy pada putranya yang tengah melamun.


Ed berjalan menghampiri kedua orang tuanya dengan langkah gontainya, fikirannya bergitu tak fokus hingga tanpa sengaja ia menabrak seorang suster yang tengah membawa nampan berisi obat-obatan.

__ADS_1


"Astaga Ed," seru Billy yang segera berlari mendekati anaknya bersama Maya.


Billy membantu suster membereskan semua obat-obatan yang terjatuh, sedang Maya membantu anaknya bangkit dari posisinya. Dengan perasaan sedih Billy menatap putranya, ia paham betul bagaimana perasaan anaknya saat ini.


"Kita tunggu Elena ya," ajak Maya menahan air matanya.


Edwart mengikuti langkah kedua orang tuanya , langkah ketiganya begitu nampak lesu saat mendekati ruang rawat Elena.


"Apa yang terjadi sama istri aku ma, pa," tanya gugup Ed saat ketiganya berdiri didepan ruang rawat istrinya.


"Detak jantung Elena berhenti Ed," ujar Billy mengejutkan Edwart.


Tubuh Edwart rasanya tak bertulang, ia luruh terjatuh dilantai dengan begitu kerasnya. Maya menangis melihat kondisi anak juga menantunya, entah apa yang harus diperbuatnya kini.


...


Jo kini membawa Yasmin pergi ke apartemenya, ia yang tak tahu harus kemana dengan terpaksa membawa pulan wanita kedalam apartemennya. Kondisi Yasmin saat ini nampak begitu lemah, bahkan ia tak sadarkan diri selama dalam perjalanan yang membuat Jo begitu panik.


Jo segera menghubungi dokter untuk segera datang ke apartemennya saat ia masih dalam perjalanan, dan sesampainya dihalaman apartemen Jo segera menggendong tubuh lemah itu untuk dibaringkan dikamarnya.

__ADS_1


Dokter datang, Jo segera membawanya untuk segera memeriksa kondisi Yasmin yang kini tak sadarkan diri. Selama pemeriksaan Jo tak pernah meninggalkan Yasmin barang sedetikpun, ia selalu mengawasi dokter saat memeriksanya.


"Gimana dok," tanya Jo.


"Tubuhnya begitu lemah, kenapa nggak dibawa ke rumah sakit aja sih pak," tanya dokter tersebut.


"Ada sebuah masalah yang membuat kami nggak bisa ke rumah sakit dok," jelas Jo.


"Baiklah, saya sudah memasang infus pada istri anda. Dalam waktu satu jam lagi suster akan datang untuk melepas infus nya."


"Baik terima kasih dok."


Dan setelah kepergian dokter tersebut, Jo tersadar dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Istri? Siapa istri saya," gumam Jo.


Jo menatap tubuh lemah yang tengah terbaring di atas ranjangnya, bayangannnya kini kembali pada kejadian dimana ia melihat tubuh lemah Yasmin diseret dengan paksa oleh kedua orang tuanya.


"Kenapa orang yang sangat ceria bisa menyimpan luka begitu besar dihidupnya," gumam Jo merasa iba.

__ADS_1


"Gue nggak nyangka wajah ceria itu ternyata hanya topeng untuk menutupi luka hatinya."


...‐Terima kasih dan terus dukung kami‐...


__ADS_2