
“Reas, kamu masih nolak dia, hah?”
Andreas melirik Parka, sepupunya yang tiba-tiba datang dan baru saja berjalan masuk tanpa ia persilahkan terlebih dulu.
Menghela napas, Andreas menghentikan pekerjaanya. Memilih menatap pemuda seumurannya itu dengan seksama, pikiran jahatnya baru saja melintas. Dia tidak suka pengganggu tertutama diganggu oleh sepupunya ini.
“Hey, jangan menatapku dengan kejam.”
Andreas mendengus, tak acuh. “Ada apa kemari? Aku sedang sibuk.”
“Ck,” Parka mendecak tidak habis pikir dengan sepupunya yang tampan ini. Memerhatikannya dengan seksama. Wajah rupawan di mana mata hitamnya bisa melumpuhkan wanita hanya dengan sekali tatapan, Bulu Alisnya yang tebal menambah indah sorot matanya. Tulang hidungnya tinggi, membuat lengkungan sempurna di wajahnya. Ditambah bibir tebalnya yang merah dan menggoda, wanita saja pasti iri karena tidak memilki bibir sepertinya. Dia sempurna lalu apa masalahnya?. Parka menggeleng, menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Ctak.
“Sialan! Awww, ini sakit berengsek!” Umpat Parka meraung-raung keras mengusap jidat tampannya yang merah.
Andreas si pelaku hanya terkekeh, tak acuh dengan umpatan Parka dan malah berjalan tenang ke arah dispenser mengambil air untuk diminumnya. “Wajahmu itu menyebalkan sekali membuat jari-jariku tidak tahan untuk sedikit meregangkan,” jawabnya dengan gaya sedikit puitis.
“Aissh, sialan! Tapi jangan jidatku juga.”
“Lalu apa? Haruskah kusentil ginjalmu atau burungmu itu, hah?” Tunjuknya jahat.
Wajah Parka menggelap, menyembunyikan letak burungnya dengan kedua tangan. Kini tidak ada bahasa formal aku atau kamu, kini hanya mereka berdua dalam mode duel layaknya bocah tanggung. “Awas saja berani macam-macam dengan aset gue ini. Atau Lo aja yang gue sentil dibagian Tekukur* lo itu? Oh, ahh … Atau emang Tekukur lo, emang gak berfungsi, yah? Jadi, karena itu Marisa lo tolak?”
“Dasar mulut busuk! Apa Lo bilang? Gak berfungsi? Lo, mau coba punya gue, hm?”
“Ahh, yeeey! Gila ternyata lo homo … haha”
__ADS_1
Tatapan Andreas tajam, seakan bola matanya ingin keluar. Telinganya memerah mendengar lelucon Parka. “Lo emang cari mati!”
Keduanya hampir sepuluh menit berkejajaran sampai Andreas puas menginjak-injak saudaranya itu sampai mati. Tubuhnya yang tinggi hampir seratus delapanpuluh meter menjulang, tangannya berkacak dipinggangnya yang ramping. Di bawah kakinya Parka terengah-engah. Wajahnya yang tampan sementara masih selamat tapi, ia tidak yakin badannya baik-baik saja.
Andreas mengusap dahinya yang berkeringat, menyibak rambutnya dengan pose tampan. “Beruntungnya, aku lepas sepatunya,” ujarnya seraya menjulurkan tangan ke arah Parka.
“Cih, beruntung apanya? Badan gue sakit begini.”
“Kalau gitu nasib lo aja yang sial,” sahutnya. Seperti inilah persaudaraan mereka bertengkar, berkelahi sedetik kemudian berbaikan. Andreas dan Parka bukan sekadar sepupu, tapi juga sahabat dan saudara yang sulit dipisahkan. Sejak kecil keduanya hidup bersama. Parka Thurkas sudah kehilangan kedua orang tuanya sejak masih kecil dan hanya Ayah dari Andreas Thurkas anggota keluarganya yang ada dan bersedia merawatnya.
*
*
Akhirnya kedua saudara itu bisa bersikap lebih tenang dari kekonyolan mereka yang tidak seberapa, sebelumnya. Andreas dan Parka kini sedang terbaring nyaman, rileks sambil menutup kedua mata menikmati setiap sentuhan tekanan panas di tiap jengkal bagian tubuh. Beberapa kali erangan yang sudah seperti rintihan lolosan dari mulut keduanya. Terlebih Parka, ia tidak bisa mengerang lebih keras rasa sakitnya berjalan dua kali lipat.
“Badan gue kayak gini gara-gara lu juga, Re. gampang ba… Aaaaw, ishhh pelan-pelan donk Mbak.” Pinta Parka ketika merasakan tekanan pijatan yang diterima tubuhnya menyakitkan.
Andreas di sampingnya menyeringai puas. Ia kembali menikmati pijatannya sendiri, keduanya kini sedang menikmati Spa Pijat yang tersedia sebagai sarana di gedung Hotel “The Thurks” millik keluarga Thurkas.
“Lo, pikirkan lagi deh soal si Marisa ini?”
“Berisik.”
“Ck, lo inget punya Papa yang sama keras kepalanya. Dia udah ngira-ngira kenapa lo nolak semua cewek yang disodorin. Belum lagi Kanjeng Mami. Yang, katanya udah gak tahan pengen cucu.”
Kelopak mata Andreas tertutup, helaan napasnya dalam jika mengingat kedua orang tuanya yang benar-benar tidak sabaran dengan jodohnya, Padahal, ia sendiri merasa masih baik-baik saja. Di umurnya yang kedua puluh delapan tidak ada salahnya bila belum menikah, ditambah dengan status pekerjaanya. Apa yang perlu dikhawatirkan. “Papa dan Mama masih punya kamu. Kenapa gak kamu duluan saja yang menikah? Ditambah kekasihmu banyak pilihlah yang bisa dibawa serius.”
__ADS_1
“Dasar Gimon. Gak Mikir yah? Itu mana mungkin.”
Andreas menoleh. “Kenapa enggak?”
“Ya, gak bisa. Yang lebih tua, yang harus duluan.” Mata Parka bergerak sedikit gelisah, ia menelan ludah sedikit khawatir. Benar juga, jika dia tidak bisa memaksa Andreas untuk segera menikah giliran dia, yang akan kena imbasnya. Mama, Papa Andreas tidak pernah membedakan mereka berdua. Satu tidak patuh, yang satulah yang akan ditekan. Entah keberuntungan atau kesialan jika sudah seperti ini. Tetapi, tiba-tiba otak Parka memikirkan sesuatu. “Re, kalau lo nolak Marisa …”
“Apa?” Andreas memincingkan mata menatap Parka tajam. Dia tahu jika, nada suara saudaranya seperti ini. Ini bukan hal bagus.
“Gue bakal bilang, alasan kenapa selama ini lo nolak semua cewe.”
Andreas mengangkat tubuhnya, mengangkat satu tangannya menghalau sentuhan si Mbak pemijat. “Apa yang lo tahu?”
Parka bersmirk, tersenyum sesat. “Kalau begitu jangan menolak lagi, cobalah berhubungan dengan wanita itu, tidak ada salahnya.”
Andreas mengepalkan tangannya membuat gerakan berderak membunyikan tiap sendi-sendi jarinya. “Awas saja berani bermain-main denganku.”
“Ha ..ha ..” Parka tertawa puas, akhirnya ia bisa membujuk Andreas, Pria si Keras kepala dengan begini ia juga mungkin lepas dari tekanan Keluarga Thurkas untuk menikah dan mendapatkan penerus demi nama keluarga.
Helaan napas terdengar kemudian dari Andreas, matanya belum lepas dari Parka. "Bagaimana dia sebenarnya? Kenapa harus gadis itu? "
"Re, nada suara lo berubah? Ternyata bener akhirnya lo bisa buka pikiran. Bagus! Jangan berubah pikiran yak, gak ada salahnya buat coba kenal dia dulu. Mungkin, ... dia gak jauh berbeda sama kakaknya."
"Jangan berharap. Gak ada orang yang sama di dunia ini meski, jika itu dua orang kembar. hanya... cukup jika dia tidak bertingkah seperti dulu bisa dipertimbangkan, lah."
"Terserah yang terpenting lo setuju. Papa dan Mama pasti senang," ujar Parka sambil mengulurkan tangannya ke bahu telanjang Andreas, meremasnya. Bibirnya tersenyum puas. "Gue harap juga lo bahagia. kalo, lo masih gak mau sama Marisa cepatlah jatuh cinta sama cewek lain lalu bawa dia kehadapan kedua orang tua kita. "
"Cih, bicara saja gampang." Andreas menepis tangan Parka yang cukup lama bertengger di buhunya. "Cobalah, lo juga. mulai serius untuk jatuh cinta bukan hanya bersenang-senang saja."
__ADS_1