Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 41


__ADS_3

Tania yang gila menarik rambut Elena untuk berdiri. Ditariknya rambut Elena berjalan mendekati wastafel yang sudah ia isi air hingga penuh.


"Mati loe," serunya menatap sinis wajah Elena dari kaca.


Dengan kejinya Tania menenggelamkan kepala Elena kedalam air. Ditekannya kepala itu hingga rasanya tak ada oksigen yang tersisa.


"Hah hah hah hah," serunya menggambil oksigen saat Tania menarik keluar kepalanya.


"Hahhahha," tawanya saat kembali menekan masuk kepala Elena kedalam air.


Matanya begitu pedih terkena air, kakinya juga begitu lemas untuk menopang tubuhnya. Rasanya paru-parunya tak lagi berfungsi, tak ada sisa oksigen yang mampu ia hidup untuk hidup.


"Mati loe! Loe bawa mati rahasia kita, biarkan ini selamanya hanya kita bertiga yang tau."


Tania sungguh gila, bahkan Elena yang sudah tak berdaya masih ia siksa dengan membenturkan kepalanya ke tembok.


Darah segar mengalir dari pelipisnya, tubuhnya luruh jatuh kelantai saat Tania melepas pegangannya.


"Nggak akan ada siapapun yang bisa nolongin loe disini."


"Loe bakal mati membeku."


Tania berjalan keluar dari toilet, namun sebelum itu ia mencoba mensabotase toilet tersebut. Membuat seolah-olah toilet sedang dalam perbaikan agar tak ada seorangpun yang mengetahui keberadaan Elena.


"Selesai," menepuk-nepuk tangannya dari kotoran dam debu.


**


Dimejanya Edwart nampak tak tenang, wajahnya sedari tadi terlihat gelisah tanpa sebab. Jo mencoba membaca situasinya, namun ia ragu dengan pemikirannya.


"Apa tuan muda gelisah karena nona muda ya," batinnya memandangi tuannya.


"Mau kemana tuan Edwart," tanya Mr. Ricard saat Edwart akan beranjak dari duduknya.


"Maaf, tapi saya harus menyusul istri saya."


"Tenanglah, sebentar lagi juga akan kembali."

__ADS_1


"Maaf Mr. Ricard tapi saya harus memeriksa dan memastikan istri saya baik-baik saja."


"Biar saya saja yang melihatnya, disana toilet perempuan jadi tidak enak kalau tuan Ed yang kesana," usul Mrs. Ricard menengahi.


"Maaf merepotkan," sungkannya.


Mrs. Ricard berjalan menuju toilet, namun tanpa sengaja ia berpapasan dengan Tania yang terburu-buru saat berjalan.


"Nona Tania," sapa Mrs. Ricard.


Tania nampak panik saat tanpa sengaja bertemu Mrs. Ricard, ia begitu gugup hingga lidahnya terasa kelu saat mendengar sapaan.


"Apa yang anda lakukan disini nona Tania," tanyanya lagi, namun Tania hanya diam dengan bola matanya terus bergerak-gerak.


"Saya permisi Mrs. Ricard," pamitnya dengan begitu terburu-buru.


Mrs. Ricard merasa ada yang aneh, namun ia tak begitu memperdulikannya. Kini ia kembali berjalan menuju toilet, tapi pintunya terdapat tulisan jika toilet sedang rusak tak dapat digunakan.


"Kalau toilet sini rusak, lalu dimana nyonya Edwart ya?"


Saat baru beberapa langkah Mrs. Ricard berjalan, ia tanpa sengaja mendengar seseorang berbicara.


Mrs. Ricard kembali dan mendekati office girl tersebut, ia melihat jika OG itu juga nampak kebingungan.


"Ada apa ya," tanyanya.


"Tidak nyonya, hanya saja tadi saya bersih-bersih disini dan masih baik-baik saja."


"Lalu?"


"Kenapa sekarang ada tulisan rusak ya," menggaruk kepalanya yang tal gatal.


Mrs. Ricard merasa ada yang ganjal, ia meminta OG tersebut membuka pitu toilet. Dan betapa kaget keduanya saat melihat Elena terkapar tak sadarkan diri.


"Kamu pergi cari suami saya di meja 11, katakan jika nyonya Edwart terluka."


OG itu berlari sesuai instruksi sedang Mrs. Ricard masuk dan memeriksa keadaan Elena.

__ADS_1


Darah segar mengalir dari pelipis Elena, wajah ceria itu kini nampak pucat tak bertenaga. Tubuhnya basah akibat air yang meluap hingga membasahi lantai toilet.


"Nyonya Edwart sadarlah," memangku kepala Elena sambil berusaha menyadarkannya.


Tak lama terdengar suara deru kaki berlari yang mendekatinya, semakin lama deru kaki itu makin jelas terdengar hingga pintu itu terbuka dengan begitu kerasnya.


"Elena," teriak Edwart dengan wajah panik penuh peluh.


"Sayang, apa yang terjadi."


Edwart panik, ia begitu khawatir saat melihat wajah istrinya yang sudah pucat pasi. Matanya terbuka lebar saat melihat ada darah segar mengalir dari pelipis istrinya, membuat Edwart semakin dibuat ketakutan.


"Tuan Edwart, bawa istri anda ke kamar saya saja. Biar nanti saya panggilkan dokter," usul Mr. Ricard yang merasa bertanggung jawab atas apa yang dialami Elena.


Tanpa berkata-kata Edwart berlari lebih dulu meninggalkan semuanya. Namun kemudian ia berhenti dan melihat kebelakangnya.


"Dimana kamar anda Mr. Ricard," tanyanya panik.


Selesai mengganti pakaian istrinya, Edwart mempersilahkan dokter masuk untuk memeriksanya. Raut wajahnya nampak begitu gelisah mengamati tangan dokter laki-laki tersebut berada diatas tubuh istrinya.


"Bagaimana," serunya saat melihat doktee bangkit dari ranjang.


"Hanya luka ringan tuan, sebaiknya untuk sementara jangan biarkan lukanya terkena air."


Edwary tak menyahutinya, ia melewati dokter dan mendekati Elena diranjang.


"Terima kasih dokter, maafkan sikap tuan saya," seru Jo mewakili tuan mudanya.


"Tak masalah, kalau begitu saya permisi."


"Jo," panggil Edwart tak melepaskan tangannya dari tangan Elena.


Jo mendekati tuannya dan berkata," Saya tuan muda."


"Cek cctv disekitar toilet, cari tahu siapa yang berani melukai istriku!"


"Biar saya temani Jo," seru Mr. Ricard.

__ADS_1


"Saya akan buat dia menyesal karena telah berani menyentuh istriku!"


__ADS_2