
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Karena penasaran akhirnya ketiga orang tersebut berlari menghampiri arah suara, dan betapa terkejutnya mereka melihat Elena kesakitan dengan wajah yang sudah memerah.
"Lepaskan Elenaku."
Suara teriakan itu membuat semuanya menatap kesatu arah, arah datanganya suara amarah. Tania membulatkan matanya, tangannya secara reflek terlepas dari leher Elena.
"Uhuk, uhuk, uhuk."
"Sayang are you oke," panik Edwart. El hanay mengangguk sambil memegangi lehernya yang masih terasa sakit.
Malik menatap tajam Tania yang sudah salah tingkah didepannya, entah apa yang dipikirkan Tania karena nyatanya ia hanya terdiam ditempatnya. Bahkan saat Malik berjalan dan perlahan mendekatinya, Tania masih tetap diam ditempatnya.
Jo membuka topeng juga membuang pengubah suaranya, Tania sangat terkejut hingga merespon hal itu tanpa sadar.
"Ternyata kalian," geramnya.
Kini Malik sudah berdiri tegap didepan Tania, wajah marah serta aura membuhunya membuat Tania bahkan tak berani menatapnya.
"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan? Oh salah, harusnya saya bertanya siapa kamu sebenarnya," tanya Malik menahan murka.
__ADS_1
Tania hanya bisa menundukkan kepalanya, ia sama sekali tak bernyali hanya untuk mencuri pandang saja. Jantungnya berdebar dengan begitu kencangnya, rasanya udara disekitarnya hampa hingga membuat dirinya sesak dibuatnya. Tanpa sadarpun ia meneteskan air matanya.
"Tu,, tuan Malik," cicitnya.
"Jangan pernah memanggil namaku," ucapnya dengan suara beratnya.
Tania bertambah ketakutan, ia tak bisa memikirkan apapun saat ini. Ingin kabur? Kakinya terasa kelu barang sejengkal saja. Ia hanya bisa menangis menundukkan kepalanya.
"Pengawal," teriak Matius.
Tania mengangkat kepalanya saat mendengar suara Matius memanggil pengawalnya, tubuhnya bergeter ketakutan begitu tak karuan. Ia mencari celah, matanya menatap tajam Yasmin yang kini berdiri jauh dari Jo yang sedang melindungi nona muda serta tuannya.
Tania berlari dan menjadikan Yasmin sebagai sanderanya, tangannya terulur mengambil pistol yang ada dimeja sebelahnya. Semua orang terkejut dengan aksi Tania, tak terkecuali Malik yang berdiri tepat didepan Tania.
"Kecolongan," gumam Malik begitu murka.
"Mundur kalian semua," teriak Tania sambil mengarahkan pistolnya.
"Tenangkan dirimu, kita bisa bicara baik-baik."
"Maaf, saya salah. Kita bicara berdua, tapi lepaskan dia dulu."
"Saya bukan anak kecil yang bisa anda manipulasi tuan Malik yang terhormat."
"Apa mau loe," tanya Elena memberanikan diri.
"Sayang," tegur Edwart yang begitu mengkhkawatirkan istrinya.
"Hahhaa, masih bertanya. Loe pasti udah tahu apa mau gue kan."
"Urusan loe sama gue, lepasin Yasmin."
"Apa gantinya kalau gue lepasin dia?"
__ADS_1
"Bawa gue."
Semua mata menatap terkejut mendengar apa yang baru saja Elena katakan. Rahang Edwart mengeras, ia mengencangkan genggaman tangannya kepada Elena. Tania saling bertukar pandang dengan Elena, seakan membuat sebuah kesepakatan dengan kontak matanya.
"Dia adalah keponakanku, jadi aku yang akan mewakili dia menjadi sanderamu."
Tania sempat terkejut saat Malik mengakui hubungannya dengan Elena, namun hanya sepersekian detik rasa terkejut itu hingga ia menormalkan kembali ekspresinya.
"Ini urusan saya dengan ****** itu jad-
"Siapa yang kamu sebut ******! Maju sini gue robek mulut loe," murka Edwart.
"Percuma banyak bicara dengan kalian, lemparkan kunci mobil milik loe Jo," pintanya.
Jo terdiam dengan hanya menatap Yasmin, ia marah karena gagal melindungi gadis itu. Bahkan kini hatinya sakit melihat Yasmin menahan rasa ketakutannya itu, ingin sekali ia berlari dan membawanya kedalam dekap hangat peluknya.
"Lemparkan kuncinya Jo," teriak Tania membuyarkan lamunan Jo.
Jo mendorong kunci mobil hingga sampai didepan kaki Tania, mengambil kesempatan Tania juga dengan sengaja memcahkan sebuah vas dan menggunakan pecahan tersebut untuk melukai Yasmin.
"Brengsek, jangan lukai dia," bentak Jo melihat Tania menggoreskan kaca tersebut ke leher Yasmin.
"Heh, khawatir banget sih. Suka loe sama dia."
"Jangan macam-macam."
"Ini balasan buat loe juga dia yang beberapa hari menyiksa gue."
Tania menggoreskan kaca itu kebeberapa sisi leher juga pipi Yasmin, ruangan itu penuh dengan teriakan kesakitan Yasmin saat kaca itu merobek kulitnya.
"Stop! Jangan lukai Yasmin, stop," histeris Elena yang begitu tak tega juga merasa bersalah.
"Hahahaha, gue suka dengan ekspresi kalian semua. Hahahahha."
__ADS_1
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...