
Edwart mendengar suara istrinya, dan hatinya tiba-tiba saja merasakan sakit yang tak dapat ia kendalikan. Sakit yang begitu menusuk hingga ia tak tahu bagaimana caranya bernafas. Tubuhnya luruh kebawah, menahan suara tangisnya agar tak terdengar oleh mereka.
"Tuan suami, buka pintunya."
"Kalau ada masalah kita bisa sharing, kita obrolin berdua sampai ketemu jalannya."
"Sayang! Ih sakit nih tangan aku ngetuk pintu terus,"
Elena terus saja mencoba berbicara dengan suaminya, namun tak ada satupun yang Edwart tanggapi. Hingga rasanya El menyerah dan memilih memberikan waktu untuk suaminya. Namun tiba-tiba saja ia terpikir untuk menipu suaminya.
"Nona muda," teriak Jo yang melihat nonanya jatuh tak sadarkan diri.
Jo panik, ia terus menepuk perlahan pipi nonanya agar segera terbangun. Namun El tak kunjung membuka matanya, Ed begitu panik saat mendengar teriakan Jo yang begitu penuh kekhawatiran. Ragu, Ed begitu ragu melangkahkan kakinya mendekati istrinya.
Namun Ed tetap saja membuka pintu kamarnya. Dan sungguh terkejut saat dengan mataya sendiri ia melihat tubuh El tergeletak dilantai tak sadarkan diri. Ed panik, ia berlari menghampiri istrinya, membawa istrinya dalam pangkuannya.
"Sayang, sayang bangun. Hei sayang, bangun ini aku," panik Ed terus saja menepuk pipi Elena.
"Tuan muda," panggil Jo.
"Nanti Jo, saya harus urus istri saya dulu."
Edwart menggendong tubuh Elena masuk kedalam kamar, Jo nampak terkejut dengan kamar yang dilihatnya. Berantakan, banyak pecahan kaca juga barang berhamburan.
__ADS_1
"Jo, tolong panggil dokter," seru panik Edwart.
Namun sebelum Jo menyahutinya, El lebih dulu membuka matanya. Menahan lengan Edwart yang hendak pergi meninggalkanya. Rasa khawatir itu sirna saat wajah itu berhias senyum menatapnya.
"Sayang," ucap Ed memeluk Elena.
Edwart mendekap erat tubuh istrinya, membiarkan Elena meresakan betapa besarnya rasa bersalahnya. Betapa kuatnya rasa marah pada diri sendiri, Ed sudah tak mampu lagi menahan kesakitannya itu.
"Maaf," serunya berurai air mata.
"Maafin aku sayang, maaf," sesalnya berulang kali.
El hanya diam mendengarkan suaminya, ia sendiri tak mengerti maaf apa yang disampaikan oleh suaminya itu. Maaf apa yang harus diberikannya sampai suaminya itu begitu kalut.
"Aku, aku udah tau yang sebenarnya."
"Soal?"
"Kematian Mimi, aku minta maaf sayang. Tolong maafin aku," sesalnya menggengam tangan Elena dengan begitu erat.
Elena hanya tersenyum mendengar penyesalan dari suaminya, penyesalan juga kata maaf yang selalu ditunggunya hingga saat ini mampu didengarnya. Air mata dengan derasnya membasahi wajah Elena, rasanya ia begitu terharu saat orang sekeras Edwart dengan tulus berucap maaf juga penuh sesal padanya.
"Sayang please jangan nangis, kamu boleh apain aja aku asal jangan nangis," panik Edwart.
__ADS_1
"Aku maafin," senyum Elena.
"Ha?"
"Dari awal aku sudah memaafkan kamu, memaafkan apapun kesalahan yang telah kamu lakukan sama aku," ucapnya, Ed hanya diam menciumi tangan istrinya.
"Aku terima sayang, aku juga bersyukur dibalik kesakitanku Tuhan telah berbaik hati mengirim kamu sebagai malaikatku."
"Sayang," tangisnya.
"Kita lupain masalah itu, kita bangun kembali rumah tangga kita dari awal. Kita bangun rumah tangga dengan penuh rasa percaya," ajak Elena yang mendapat senyuman tulus dari suaminya.
Edwart membawa Elena dalam dekap hangatnya, mengecup mesra istrinya yang sangat disayanginya. Kini ia berjanji pada dirinya sendiri jika mulai detik ini ia akan selalu setia pada Elena.
"Kita lupain semuanya," seru El membelai rambut belakang Edwart.
"Nggak! Aku harus memberinya pelajaran," batinnya menatap Jo yang paham dengan tatapannya.
...❣...
...Yuk kita maafin kelakuan Edwart di eps sebelum²nya ya😄, terus dukung keduanya sampai hidup bahagia. Jangan lupa klik favorit juga share kesan kalian di kolom komentar....
...Terima kasih semua.. ...
__ADS_1