Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 21


__ADS_3

Selamat datang di dunia Edwart juga Elena,


Dan semoga kalian menikmati ceritanya dan jangan lupa kalo ada apa-apa isi di kolom komentarnya 😄😄


kalau mau kirim kado sama vote juga bisa banget..😉


[ JANGAN LUPA MASUKAN CERITA INI KEDALAM FAVORIT KALIAN, AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATENYA ] 😇


---------------------------🌾-----------------------------


Pagi harinya Edwart terbangun dengan kepalanya yang begitu pusing. Namun ia tetap memaksa tubuhnya untuk bangkit.


"Loe harus kerja .." seru Ed menyemangati dirinya.


Hampir 30 menit Ed bersiap pergi kekantor, namun saat ia turun dan menuju meja makan ia begitu terkejut dengan kedatangan Rose sekretarisnya.


"Siapa yang menyuruhmu kesini!!" Tanya Ed dengan dinginnya.


"Maafkan saya tuan, tapi assisten Jo saat ini sedang sakit jadi saya menggantikan dia untuk mengurus semua jadwal anda.. " ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Sakit ?? Sakit apa dia ??" Tanyanya sambil duduk dimeja makan diikuti oleh Rose.


"Menurut kabarnya ada seseorang yang hendak menabrak assisten Jo dengan sengaja .."


"Apa!! Lalu bagaimana keadaannya sekarang ..??" Tanya Ed.


"Sudah baik-baik saja, bahkan tadi dia menghubungi saya dan memberi saya alamat tuan ini.."


"Baiklah, apa jadwal saya hari ini ??" Tanya Jo sambil melapa rotinya.


"Hari ini anda harus terbang ke Australia untuk kelanjutan kerja sama dengan perusahaan disana tuan, "


"Berapa hari ??"


"3 hari adalah perkiraan seharusnya, namun jika meleset mungkin 1 minggu tuan .."


"Baiklah,kita berangkat sekarang.." serunya berjalan mendahului sekretarisnya itu.


Edwart yang masih marah tak sadar jika istrinya sudah tak berada dirumah pagi ini. Yang ada difikirannya kini hanya pekerjaan dan pekerjaan.


Pagi yang berbeda dihari yang sama. Elena terbangun dengan sekujur badannya yang terasa sakit semua.


Pandangannya kabur, namun ia masih mengenali jika itu bukan kamar yang biasa ia tempati. Ia kini berada dikamar yang sangat luas dan mendominasi aura laki-laki.


"Aku dimana ini ..??" Gumamnya sambil memegangi kepalanya yang pusing.


Perlahan El mencoba turun dari ranjang, namun saat ia mencoba berjalan tiba-tiba saja kakinya lemas hingga membuatnya terjatuh.

__ADS_1


"Auu, sakit.." keluhnya.


Saat ia kesulitan untuk bangkit, Billy datang masuk kedalam kamar. Betapa ia terkejut saat melihat menantunya terjatuh dilantai dan berusaha bangkit.


"Astaga El.. " seru Billy kaget.


"Pah, tolong pah.."


"Sini nak, papa bantu.."


Billy menggendong El dan membaringkannya kembali diatas ranjang. Maya yang baru masuk juga terkejut saat meluhat wajah pucat El serta lebam dipipinya.


"Astaha nak, " berlari kemudian duduk dipinggir ranjang.


Maya menggenggam kedua tangan El yang sedang bersandar pada kepala ranjang. Maya begitu menyesali perbuatan anaknya pada istrinya sendiri.


"Maafin anak mama ya El, maafin.." tangis Maya dipagi hari.


"Gpp mah, aku udah maafin mas Edwart kok.." tulus Elena.


Billy begitu tertegun saat menatap wajah Elena yang begitu tulus saat mengatakan jika ia sudah memaafkan anaknya. Wajah El membuat rasa marah Billy bertambah kepada anaknya.


Baginya, Edwart kini sudah sangat keterlaluan. Ia sudah berani berlaku kasar juga main tangan apalagi terhadap istrinya sendiri.


"Istirahatlah nak, badan kamu demam dan sebentar lagi dokter akan datang.." ucap Billy.


"Mulai sekarang kamu akan tinggal sama papa juga mama disini ya ..??" Ucap Maya.


El begitu terkejut mendengar ucapa Maya, matanya berkaca-kaca mendengar penuturan mertuanya itu.


"Mama serius ??" Tanyanya tak percaya.


"Tentu saja, iyakan pah .."


"Iya nak, tinggalah bersama kami disini.."


"Terima kasih pah, mah .." ucap El menangis sambil memeluk tubuh Maya.


"Nggak perlu sungkan nak, kamu juga anak papa.." membelai kepala El juga Maya.


Pagi itu menjadi pagi paling haru untuk ketiganya. Billy yang dikenal tegas dan keras pagi ini begitu lembut dan perhatian pada El.


Dan tak lama pintu kamar El diketuk, dan muncullah seorang dokter.


"Masuklah dok.. " ucap Billy.


Dokter mulai memeriksa Elena,ia juga menyuntikkan obat tidur agar ia bisa beristirahat dengan nyenyak.

__ADS_1


"Bagaimana dok, "


"Pasien terlalu stres tuan, kondisi tubuhnya juga saat ini begitu lemah.."


"Lalu kami harus bagaimana ??"


"Sebaiknya nyonya membuat pasien merasa rileks dengan apapun yang ia lakukan.."


"Apapun dok ??"


"Apapun, kalau bisa ajak pasien melakukan hal-hal yang disukainya.."


"Maksudnya hobi ??"


"Benar tuan, karena hobi bisa membatu merileks kan fikirannya.."


"Baiklah, terima kasih dok.."


"Kalau begitu tuan, saya permisi dulu.."


"Biar saya antar kedepan dok "


Kini tinggal Maya juga El berdua didalam kamar. Maya begitu merasa bersalah dengan El, ia begitu takut jika nanti anaknya menjadi seorang yang kasar dan diluar kendalinya.


"Apa yang harus mama lakukan untuk kalian berdua nak..??" Cicit Maya membelai punggung tangan El dengan begitu sayang.


*


Dikamar rawatnya, Jo sedang asyik dengan laptopnya. Ia masih memikirkan pekerjaan disaat kondisinya sedang terluka.


Namun tiba-tiba saja Ed datang dan langsung menutup laptopnya. Jo yang begitu kesal tanpa sadar mengumpat, membuat Ed mengerutkan alisnya.


"Astaga tuan muda.." kaget Jo.


"Loe tau sakit, kenapa masih kerja.." seru Ed mencoba memahami emosi Jo.


"Maaf karena saya sakit tuan muda, "


"Loe gila!! Loe manusia jadi juga bisa sakit juga, ngapain minta maaf .."


Jo hanya diam menundukkan kepalanya, ia begitu menghormati Edwart sebagai atasannya. Edwart memang atasannya, namun ia tak perbah bersikap angkuh dengan dirinya sebagai bawahannya.


"Terima kasih tuan muda.."


"Baiklah, gue hanya mampir sebentar. Gue harus ke Australia urusan bisnis.."


"Baik tuan, semoga anda selamat sampai tujuan dan berhasil.."

__ADS_1


"Tentu saja, " seru Ed dengan yakinnya.


__ADS_2