
Billy menyusun rencana bersama Maya untuk membalas anaknay itu, rencana yang akan bisa membuat anaknya merasakan apa yang dirasakan Elena dahulu. Maya begitu bahagia saat bisa bersiasat bersama suaminya untuk membalas anaknya.
"Pokoknya mama mau rencana ini berhasil pah," seru Maya.
"Papa pastiin ini berhasil."
Billy terlihat tengah fokus pada ponselnya, Maya hanya bisa menunggu sampai suaminya menyelesaikan rencananya. Billy berusaha menghubungi Putra atasan Elena diperusahaan, ia ingin meminta bantuan Putra dalam pelaksanaan rencananya.
Berbeda dengan Billy, kini Ed tengah menikmati waktunya berdua dengan Elena didalam kamar. Rasanya ingin sekali Ed menghentikan waktu saat ini juga, waktu dimana hanya ada dirinya juga Elena.
"Tuan suami," panggil Elena.
"Bisa nggak manggilnya ganti," keluh Edwart.
"Panggil apa terusan?"
"Sayang kek, darling atau apa gitu asal buakn tuan suami."
"Iya sayang," ucap Elena yang membuat Edwart tersipu malu.
Wajah Edwart terasa begitu panas, ada rasa malu yang tiba-tiba saja menylimuti dirinya.
"Kenapa sih sayang," tanya Elena yang begitu heran dengan tingkah suaminya.
"Gpp, malu aja rasanya."
__ADS_1
"Kayak nggak pernah ada yang manggil sayang aja deh, jangan kayak bujangan dong," protes Elena.
"Ya nggak usah dibahas juga kali sayang statusnya itu, " ucap Edwart.
"Biarin aja, makannya jangan sok genit gitu. Tuh wajah merah segala," seru Elena.
"Ya mau gimana dong, namanya juga malu ini."
"Malu-malu, kek abg aja ini."
"Kan aku emang abg yank."
"Abg apaan juga," cemberut Elena.
"Abang baru genit," canda Edwart. Elena yang mendengar candaan suaminya hanya bisa tersenyum terpaksa.
"Ini mau sampai kapan pelukan diatas ranjangnya?"
"Sampai aku puas yank," sahut Edwart.
"Lihat langitnya, kita udah pelukan dari tadi waktu masih ada matahari sampai mataharinya udah istirahat sayang," keluh Elena.
"Ya nggak masalah dong."
"Tapi aku masalah ya, aku tuh laper banget tau sayang. Dari tadi siang belum juga makan," protes Elena yang begitu kesal.
__ADS_1
Edwart baru saja tersadar dengan itu, iya lupa jika sejak siang sebelum makan siang istrinya sudah berada dirumah menemaninya. Rasa bersalah itu membuatnya segera bangkit dari pelukannya pada tubuh Elena.
Dan dengan canggung ia menatap wajah istri yang sedang merajuk terhadapnya. Begitu menggoda hingga rasanya ingin menerkamnya, namun ia masih menyayangi nyawanya.
"Kita makan diluar aja yuk, " ajak Edwart.
"Beneran, nggak mau pesen aja?"
"Nggak, kita pergi keluar ya. Kita dinner berdua."
"Okelah, kalau begitu aku mau mandi dulu."
"Mau ditemenin nggak?"
"Nggak usah mesum!"
Rasanya Edwart begitu bahagia, kini hatinya begitu lega karena bisa mencintai Elena tanpa adanya rasa bersalah pada Mimi. Sebelumnya, Edwart menyadari jika dirinya mulai menaruh hati pada istrinya itu, namun status pembunuh yang ada membuat Edwart merasa begitu bersalah pada Mimi.
Sempat ia ingin menceraikan Elena dan meninggalkannya sendirian, namun apa daya hatinya begitu berat melepas Elena dari hidupnya. Rasanya ia tak bisa membayangkan jika dirinya harus hidup tanpa Elena. Sebelum rasa dendam itu tersalurkan, sudah ada rasa cinta yang perlahan mengikis batu es dalam diri Edwart.
Tak sabar menunggu istrinya mandi, Edwart memutuskan pergi kelantai bawah untuk membersihkan tubuhnya. ia juga tak lupa membawa satu set kemeja untuk digunakannya.
Elena yang selesai membersihkan diri keluar, namun ia tak menemukan keberadaan suaminya didalam kamarnya. Dan saat melihat almarinya terbuka, Elena tahu kemana suaminya itu pergi. Tak ingin membuang waktunya, Elena segera berganti handuk menjadi gaun yang begitu seksi.
"Wow, kita dirumah aja yuk."
__ADS_1
‐Terima kasih untuk gift, like, favorit juga komennya‐