Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 64


__ADS_3

Wajah Jo juga Edwart begitu terkejut saat mengenali siapa pemilik suara itu, siapa lagi jika bukan Tania yang sedang diburunya. Kedunya segera berlari keluar rumah, saling berpencar memeriksa semua area rumah Edwart.


Namun tak ada yang mencurigakan, tak ada tanda-tanda orang yang sedang mengintai keduanya. Sungguh pintar sekali Tania menyembunyikan dirinya dari pandangan Jo juga Edwart, rasanya begitu puas saat melihat dua laki-laki tengah menggila mencarinya.


"Akhh, brengsek," umpat Edwart saat tak bisa menemukan keberadaan Tania yang diyakininya sedang mengintai dirinya.


Jo tau kemarahan tuannya itu, namun ia juga tak bisa menemukan Tania diantara gelapnya malam. Dan tiba-tiba saja keduanya saling bertatapan dan berseru bersamaan.


"Elena."


"Nona muda."


Keduanya yang panik segera mengeluarkan ponselnya masing-masing, entah siapa yang mereka hubungi namun nampak begitu serius dari raut wajahnya.


"Siapa yang kamu hubungi Jo," tanya Edwart.


"Tuan Putra pak," sahutnya masih berusaha menghubungi Putra yang tak kunjung diangkat.


"Kenapa dia?"


"Siapa tau nona muda sedang bersama dengan tunangannya, jadi saya akan menghubungi tunangannya tersebut."


Edwart merasa benar apa yang dikatakan Jo itu, ia tak bisa berfikir dengan jernih saat ini. Hanya ada Elena yang selalu terbayang dalam hati juga fikirannya.


"Ayo dong sayang, angkat telponnya," gumam Ed yang terus berusaha menghubungi Elena.


Tak ada satupun telpon keduanya yang mendapat respon, dan itu sungguh membuat keduanya merasa begitu kesal dibuatnya. Edwart yang begitu panik berjalan masuk kedalam rumah diikuti dengan Jo yang membuntutinya.

__ADS_1


Menghempaskan dirinya disaofa, Ed nampak berfikir keras apa yang harus ia lakukan. Ia sungguh takut jika Tania berbuat nekat seperti yang dilakukannya pada Mimi dahulu. Rasa itu terus menghantui Edwart hingga membuatnya begitu nampak stres.


"Tuan muda, tenanglah. Nona pasti baik-baik saja.


"Semoga seperti ucapanmu itu."


.....


...


Lia dengan begitu hebohnya berdiri sambil mengangkat gelasnya, ia bersulang untuk persahabatan yang baru saja mereka jalin. Yasmin tak kalah heboh saat berdiri menaiki kursinya, mengangkat gelas jus miliknya sambil berseru, "Demi kita yang abadi."


Dan Elena hanya bisa tertawa dengan tingkah kedua sahabat barunya itu, layaknya sedang mabuk-mabukan padahal jelas jus yang sedang diminumnya.


"Aduh kalian bikin sakit perut deh, turun-turun nanti jatuh, " ucap Elena.


Elena hanya tersenyum begitu juga dengan Lia melihat Yasmin yang merajuk, hingga sebuah pesanan datang tanpa mereka pesan.


"Mbak, tapi saya nggak pesan ini tuh," ucap Lia pada waitersnya.


"Ini spesial untuk nona bertiga," serunya.


"Wih, mungkin mereka tau loe ini calon pemiliknya juga jadi dapat pelayanan spesial deh," girang Yasmin saat melihat menu makanan yang baru saja disajikan.


"Oh gitu ya. Makasih ya mbak," ucap Lia.


Segera setelah waiters itu pergi, Yasmi juga Lia menyerbu makanannya. El yang semula merasa begitu kenyang mau tak mau membuka mulutnya saat Lia juga Yasmin bergantian menyuapinya. Hampir menghabiskan seluruh makanannya, ketiganya berhenti saat sudah tak kuat lagi untuk mengunyak.

__ADS_1


Namun hal aneh dirasakan Yasmin saat perutnya tiba-tiba saja terasa begitu sakit, sangat melilit meyiksanya. Lia juga Elena begitu panik saat wajah Yasmin nampak begitu pucat, belum lagi saat ada darah keluar dari mulutnya.


"Mbak Yasmin, astaga giamana ini," panik Elena menopang tubuh Yasmin.


"Aku panggil pelayan dulu ya," seru Lia yang bergegas pergi.


Namun baru saja beberapa langkah, Lia juga tumbang sama halnya dengan Yasmin. Elena berlari nenahan tubuh Lia agar tak terjatuh kelantai. Lia mengeluarkan begitu banyak darah dari mulutnya, membuat El menangis dengan rasa paniknya.


"Tolong, tolong. Ada yang celaka, tolong," teriak Elena, namun tak satupun ada orang yang mendengarnya.


El bangkit dan mencoba menghampiri Yasmin kembali, namun tiba-tiba saja dadanya begitu sakit hingga membuatnya terbatuk," uhuk, uhuk."


Dan saat dibuka tangannya, ada darah segar yang juga keluar dari mulutnya. El mencoba menahan dirinya, ia sadar jika ada yang mencelakai mereka.


"Keluar kamu, jangan jadi pengecut," serunya disisa-sisa tenaganya.


Plok, plok, plok..


Terdengar suara tepuk tangan dari arah belakangnya, dan itu adalah Tania. El tersenyum sini saat sudah bisa menebak siapa dalang yang begitu keji padanya, bahkan tak ada raut keterkejutan yang ditunjukkan.


"Nggak usah buang-buang tenaga, bentar lagi juga bakal sekarat kayak mereka," menunjuk keduanya yan telah terkapar tak berdaya.


"Pengecut, hanya berani cara licik. Kalau beran satu lawan satu."


"Takut, tapi bohong. Jangan banyak tingkah, ucapin aja selamat tinggal untuk dunia ini."


...‐Jangan lupa like, komen, juga tekan favoritnya‐...

__ADS_1


__ADS_2