Terjebak Cinta

Terjebak Cinta
TC 88


__ADS_3

Edwart sudah menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum berangkat menemui Malik, namun tujuan keduanya tak lagi London dimana Malik tinggal namun mereka akan segera bertolak ke Singapura dimana Malik berada.


Saat ini Malik tengah melakukan perjalanan bisnisnya di Singapura, dan ia meminta anak buahnya untuk membawa Edwart menemuinya. Dengan pengawalan beberapa anak buah milik Malik, Jo serta Edwart kini telah sampai di Bandara Internasional Changi Singapura.


"Sebelah sini tuan, supir sudah menunggu anda," ucap pengawal tersebut pada Ed.


Belum juga sampai bertemu dengan supir tersebut, ponsel Jo berdering dengan begitu kerasnya. Sangat mengejutkan hingga membuat Ed menoleh pada assistennya tersebut.


"Maafkan saya tuan, saya permisi menerima telpon."


Belum juga mengeluarkan suaranya, Yasmin yang menghubunginya sudah dengan sangat panik mengabarkan kondisi Elena saat ini. Jo sangat terkejut hingga segera mematikan sambungan telponnya dan menatap tuannya dengan sangat panik.


"Ada apa Jo, jangan membuat saya takut dengan tatapan itu."


"Kita harus kemabali tuan," ucapnya.


"Kenapa, kita baru saja tiba. Saya juga lelah," keluh Ed yang merasa kelelahan.


"Nona muda saat ini berada dirumah sakit tuan."


Edwart membalikka tubuhnya menatap Jo, mengguncang bahunya memastikan berita yang disampaikannya.


"Kita harus segera kembali tuan, nona membutuhkan anda."


"Kalian kembalilah, biar kami yang mengantarkan kalian."


"Terima kasih, dan tolong sampaikan kepada tuan Malik bahwa saya benar-benar minta maaf soal ini," tak enak Ed.


"Baik, sebaiknya anda segera kembali dan saya akan memberikan kabar ini kepada tuan saya."

__ADS_1


Jakarta,


Kini Yasmin saling berpegangan tangan dengan Lia, menunggu Elena yang saat ini tengah diperiksa oleh dokter didalam UDG. Keduanya begitu cemas juga ketakutan, mereka takut jika terjadi sesuatu pada El maka habislah mereka ditangan Edwart yang terkenal sangat kejam.


"Yas, gimana ini?"


"Nggak tahu juga, gue juga takut banget ini Lia."


Rasanya sangat begitu lama pemeriksaan yang dijalani El didalam sana, keduanya menunggu dengan sangat cemas didepan ruang UGD. Keduanya saling menguatkan, mendoakan jika El akan baik-baik saja agar mereka berdua bisa hidup dengan tenang.


"Aduh dokternya lama banget sih."


"Eh mau kemana loe," tahan Yasmin saat Lia berniat masuk kedalam ruang UGD.


Namun seorang dokter keluar, menanyakan keberadaan keluarga Elena saat ini. Yasmin mengatakan jika suami El sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit menemui istrinya. Namun dokter yang tak memberikan penjelasan apapun membuat Yasmin juga Lia bertambah panik dengan ucapan dokter.


"Aduh mati ini kita Yas, udah kelar ini hidup kita. Gue nggak jadi nikahin Putra ini," panik Lia dengan rancuannya.


"Gue masih mau nikah Lia, masih mau punya rumah gede dulu," sambung Yasmin yang terduduk lemah tak berdaya.


Tak lama munculah seorang laki-laki utusan Ed untuk mencaritahu keadaan istrinya. Laki-laki itu dengan tenang mendatangi Lia dan menanyakan keadaan Elena.


"Bagaimana keadaan nona muda kami," tanyanya.


Lia menggenggam tangan Yasmin lalu menatap laki-laki yang ada dihadapannya. "El masih didalm om, katanya dokter cuma mau bicara sama suami El."


"Baiklah, terima kasih," serunya yeng kemudian berjalan pergi meninggalkan keduanya.


Sesampainya di Jakarta dan menerima laporan dari anak buahnya, Ed bertambah panik dan meminta supir untuk melaju dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit.

__ADS_1


Tak sampai 30 menit kini Ed sudah tiba dirumah sakit, dengan sangat panik ia berlari mencari dimana letak UGD nya. Ed melihat Yasmin juga Lia, ia segera berlari mendekati keduanya.


"Dimana istri saya," tanyanya dengan nafas putus-putusnya.


"Di-di dalam pak sama dokter," cicit Lia yang memegang erat tangan Yasmin. Namun Yasmin malah bertatapan mata dengan Jo yang juga sedang menatapnya.


"Apa suami pasien Elena sudah datang," tanya suster yang tiba-tiba muncul membuyarkan obrolan mereka.


"Saya suaminya sus."


"Mari ikut saya pak, dokter sedang menunggu anda."


Dengan jelas kini Ed dapat melihat Elena terbaring lemah diatas ranjang tengah tersenyum kearah dokter yang sedang memeriksanya.


"Sayang," mengecup seluruh wajah istrinya tanpa rasa malu.


"Dok, apa yang terjadi kepada istri saya sebenarnya."


"Duduklah dulu pak. Silahkan anda perhatikan monitor tersebut."


"Apa yang bisa saya lihat dok, hanya ada seperti gambar semut didalam sarang," ucapnya asal.


Dokter juga beberapa suster tersenyum mendengar ucapan Edwart, begitu menggelitik saat mengatakan rahim istrinya seperti sarang semut. "Itu bukan sarang semut pak, itu adalah rahim istri anda. Dan ini (menunjuk bulatan kecil dengan kursor) adalah janin yang sedang mencoba berkembang."


"Oh janin ya dok."


"Janin," teriak Ed mengulang perkataannya. Ekspresi keterkejutannya begitu menggemaskan bagi El hingga ia dengan sangat gemas menggigit tangan Ed yang tengah dipegangnya.


"Awwwww."

__ADS_1


__ADS_2