
Yasmin sudah tak bertenaga, kini ia hanya bisa pasrah diseret keluar oleh ayah juga ibunya. Jo yang sedang menelpon begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Matanya dengan jelas melihat Yasmin dijambak juga dipaksa berjalan mengikuti sepasang suami istri.
"Yasmin."
Jo segera keluar dari dalam mobilnya, ia berlari mengejar Yasmin dengan sekuat tenaga. Dan saat sudah dekat dan dapat menjangkau tubuh Yasmin ia segera menarik Yasmin dari kepelukannya.
"Brengsek, siapa kamu," bentak ayah Yasmin murka.
"Siapa lagi ini, mengacaukan lagi rencana kita," timpal ibu Yasmin dengan begitu sinis.
"Tolong saya pak Jo," lemah Yasmin berbicara.
"Kamu masuk mobil saya, bisa kan," tanya Jo memastikan.
"Nggak bisa, dia harus ikut saya pergi. Dia sudah ada janji," seru laki-laki tersebut dengan begitu sinisnya.
"Kalian ini siapa ya, kenapa kasar sekali dengan Yasmin," tanya Jo.
"Kami ini adalah orang tua perempuan itu."
"Bukan, mereka adalah orang tua angkat saya pak. Tolong saya, mereka mau jual saya," pilu Yasmin.
Jo terbakar murka mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Yasmin, ia tak habis fikir masih ada orang tua yang begitu tega dengan anak yang mereka besarkan.
"Kamu harus bisa mengembalikan semua biaya yang sudah kami keluarkan untuk merawat kamu sejak kecil," sinis ibu Yasmin dengan tatapan mata penuh benci.
Jo terkejut dengan apa yang didengarnya, ganti rugi? Ia begitu heran dengan pernyataan suami istri didepannya. Bagaimana bisa ia menagih uang pada anak yang telah mereka besarkan, lantas apa tujuan mereka mengadopsi Yasmin sewaktu bayi?
__ADS_1
"Apa semua uang yang selama ini kalian ambil belum cukup, apa semua siksaan kalian juga tidak bisa mengganti sebagian itu," sedihnya mengingat kembali gelapnya masa kecilnya.
"Sejak kecil kalian selalu menyiksa saya, menyuruh saya bekerja dengan begitu keras untuk menghidupu kalian."
"Apa kalian lupa yang bahkan tidak pernah memberi saya makan kalau saya tidak membawa uang pulang. Apa itu belum cukup," lanjut Yasmin dengan penuh air mata.
Jo terkejut mendengar sepenggal dari masa kelam Yasmin, ia tak menyangka jika wanita yang dilindunginya kini pernah mengalami penyiksaan yang begitu menyakitkan.
"Tega sekali kalian ini, apa tujuan kalian mengadopsi kalau gitu," tanya Jo.
"Tentu saja agar kita bisa menghasilkan uang untuk makan lah," gampang sekal ibu Yasmin berujar.
Begitu sakit hati Yasmin mendengar apa yang baru saja didengarnya, walau kata-kata itu sudah sering didengarnya namun tetap saja sakit dan melukai dirinya. Air mata tak bisa lagi dibendungnya, air mata dengan tangis begitu pilu higga menyentuh hati keras Jo yang begitu kukuh.
"Sudah cukup, kita pergi Yasmin," ajak Jo menggadeng tangan Yasmin
"Ini bukan akhir, kita akan bertemu lagi," dendam ayah Yasmin.
..
Edwart masih setia menamani istrinya yang masih nyaman memejamkan matanya, namun tiba-tiba ia melihat ada air mata yang mengalir dari ujung mata Elena. Ed begitu senang hingga ia beteriak memanggil dokter untuk memeriksa istrinya.
Namun saat dokter datang dan memeriksa, hasilnya masih sama. Kondisi El masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Ed begitu kecewa dibuatnya, ia yang tadinya berharap El terbangun kini dihancurkan oleh harapannya.
Ed yang murka keluar dari kamar, ia memukul-mukul tembok hingga membuat tangannya begitu terluka hingga mengelurkan darah. Maya histeris melihat anaknya, Billy segera menahan anaknauy agar tak lebih menyakiti dirinya.
"Cukup Ed, El masih butuh kamu yang waras bukan yang gila kayak gini," murka Billy melihat tingkah anaknya.
__ADS_1
"El nggak cinta sama aku pah, dia nggak mau dengerin aku."
"Dia denger."
"Kalau dia denger, kenapa dia nggak bangun? Aku sudah berkali-kali memintanya untuk bangun," kesalnya.
"Sabar, istri kamu pasti juga bangun. Anggap saja saat ini El sedang tertidur, kasih dia waktu untuk istirahat."
"Benar apa yang mama kamu katakan, kasih istri kamu waktu. Terus dampingi dia sampai waktunya."
Ed merenungkan semua ucapan kedua orang tuanya, tubuhnya luruh dan ia menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Suster," panggil Maya pada seorang suster yang kebetulan lewat.
"Ada yang bisa saya bantu ibu."
"Tolong obatin luka anak saya ya sus."
"Baik bu, mari pak ikut saya."
"Nggak."
"Jangan keras kepala Ed," tegur Billy.
Ed melihat wajah murka papanya, dan ia tak bisa membantahnya. Dengan enggan Ed mengikuti suster untuk mengobati lukanya. Ia terus saja menatap kamar diaman istrinya tertidur, ia enggan sekali meninggalkan istrinya.
...‐ Terima Kasih semua ‐...
__ADS_1